Pernah nggak kamu merasa idol K-Pop favoritmu seperti seseorang yang benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari? Kamu ikut bersemangat saat mereka comeback, merasa sedih ketika mereka dikritik, bahkan bisa tersenyum sendiri hanya karena melihat konten terbaru mereka. Perasaan kedekatan seperti ini ternyata punya nama, yaitu parasocial relationship.
Di dunia fandom K-Pop, fenomena ini bukanlah hal yang asing. Banyak penggemar yang merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan idol mereka meskipun hubungan tersebut berlangsung secara satu arah. Lalu, apakah kedekatan semacam ini baik untuk kesehatan mental, atau justru bisa menjadi bumerang?
Mengenal Parasocial Relationship
Parasocial relationship merupakan hubungan emosional yang dirasakan seseorang terhadap figur publik meskipun hubungan tersebut tidak berlangsung secara timbal balik. Seseorang dapat merasa mengenal idolanya secara dekat, memahami kepribadiannya, bahkan merasa memiliki ikatan khusus, sementara sang idola tidak mengenal penggemarnya secara personal.
Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Horton dan Wohl pada tahun 1956. Meski istilah tersebut muncul jauh sebelum internet berkembang, fenomenanya menjadi semakin kuat di era digital. Berbagai platform seperti Weverse, Bubble, TikTok, hingga siaran langsung memungkinkan idol hadir dalam keseharian penggemar, sehingga kedekatan yang dirasakan tampak semakin nyata.
Industri K-Pop dan Strategi Membangun Kedekatan
Salah satu alasan mengapa hubungan parasosial begitu kuat dalam budaya K-Pop adalah karena industri ini secara aktif menciptakan ruang interaksi antara idol dan penggemar.
Melalui fan meeting, fansign, live streaming, reality show, hingga pesan berbayar, penggemar memperoleh akses terhadap sisi personal idol yang sebelumnya sulit dijangkau. Mereka dapat melihat aktivitas sehari-hari, mendengar cerita pribadi, hingga menyaksikan momen emosional yang membuat sosok idol terasa lebih manusiawi dan dekat.
Kondisi ini kemudian membentuk apa yang disebut psikolog sebagai illusion of intimacy atau ilusi kedekatan. Penggemar dapat merasakan hubungan yang sangat personal meskipun interaksi yang terjadi sebenarnya bersifat satu arah.
Dampak Positif: Sumber Inspirasi dan Dukungan Emosional
Tidak semua hubungan parasosial berdampak negatif. Dalam banyak kasus, hubungan ini justru memberikan manfaat psikologis bagi penggemar.
Penelitian Sadira dan Vrisaba (2025) terhadap 120 anggota komunitas penggemar K-Pop di Surabaya menemukan adanya hubungan positif antara tingkat parasocial relationship dan subjective well-being. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin kuat hubungan parasosial yang dirasakan, semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan subjektif penggemar.
Bagi banyak remaja dan dewasa muda, idol K-Pop dapat berfungsi sebagai:
Role model, mendorong kita untuk lebih percaya diri dan terus berkembang
Teladan yang mendorong pengembangan diri dan peningkatan rasa percaya diri.
Sumber motivasi melalui kisah perjuangan dan kerja keras mereka.
Sarana hiburan yang membantu mengurangi tekanan akademik maupun sosial.
Jembatan untuk membangun relasi sosial melalui komunitas fandom.
Psikolog Jaye Derrick, Ph.D. dari University of Houston bahkan menyebut bahwa parasocial relationship mampu mendekatkan orang-orang yang kurang percaya diri dengan sosok-sosok ideal mereka, mendorong perubahan positif pada diri sendiri.
Dampak Negatif: Ketika “Bias” Jadi Obsesi
Meski memiliki manfaat, hubungan parasosial tetap perlu dijaga dalam batas yang sehat. Permasalahan muncul ketika keterikatan terhadap idol mulai mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
Merasa cemburu berlebihan saat idol dekat dengan orang lain
Mengabaikan hubungan sosial nyata demi mengikuti aktivitas idol
Menghabiskan uang di luar kemampuan demi membeli merchandise atau tiket
Mengalami kesedihan mendalam (idol grief) saat idol hiatus, pensiun, atau kena isu
Dalam kondisi ekstrem, ini dapat berkembang menjadi Celebrity Worship Syndrome (CWS), yaitu gangguan psikologis yang ditandai obsesi berlebihan terhadap selebritas, melibatkan fantasi intens, meniru perilaku idola, hingga memprioritaskan semua aspek kehidupan hanya untuk mereka.
Mengapa Kita Mudah Terikat Secara Emosional?
Salah satu penjelasan psikologis mengenai fenomena ini dapat ditemukan dalam teori Tend-and-Befriend yang dikemukakan oleh Taylor dkk (2018).
Teori tersebut menjelaskan bahwa ketika menghadapi tekanan atau stres, manusia tidak selalu merespons dengan melawan (fight) atau menghindar (flight). Banyak individu justru mencari dukungan sosial dan sumber kenyamanan emosional untuk membantu mereka merasa lebih aman.
Di era digital, idol K-Pop sering kali menjadi salah satu sumber kenyamanan tersebut. Setelah menghadapi tekanan akademik, konflik pertemanan, atau hari yang melelahkan, banyak penggemar mencari pelarian melalui lagu, siaran langsung, vlog, atau pesan yang dibagikan idol mereka. Aktivitas sederhana ini dapat menghadirkan perasaan ditemani dan dipahami, meskipun hubungan yang terjalin sebenarnya hanya berlangsung satu arah.
Taylor juga menjelaskan bahwa proses ini berkaitan dengan peran hormon oksitosin yang berkontribusi terhadap munculnya rasa dekat, aman, dan terhubung dengan orang lain. Iulah mengapa melihat konten idol favorit, mendengar kata-kata penyemangat mereka, atau berinteraksi dengan sesama penggemar sering kali mampu memperbaiki suasana hati dan membuat seseorang merasa tidak sendirian.
Jadi, Apakah Parasocial Relationship Berbahaya?
Jawabannya tidak sesederhana “iya” atau “tidak”. Hubungan parasosial pada dasarnya adalah bagian dari pengalaman manusia di era digital. Mengagumi idol, merasa terinspirasi oleh perjalanan mereka, atau menemukan kenyamanan dari musik dan konten yang mereka bagikan bukanlah sesuatu yang salah. Bahkan, bagi banyak orang, hubungan ini dapat menjadi sumber motivasi, hiburan, dan dukungan emosional di masa-masa sulit.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika hubungan tersebut mulai mengambil alih ruang yang seharusnya dimiliki oleh kehidupan nyata. Jika aktivitas sebagai penggemar mulai mengganggu kesehatan, akademik, kondisi keuangan, atau membuat kita menjauh dari orang-orang di sekitar, mungkin sudah saatnya mengevaluasi kembali batas yang kita miliki. Idol dapat menjadi sumber semangat, tetapi mereka tidak dapat menggantikan hubungan yang hadir secara nyata dan timbal balik dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis
Dwi Novita Pratiwi
Hanna Widya Gultom, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Referensi
Almaida, R., Gumelar, S. A. ., & Laksmiwati, A. A. . (2021). Dinamika psikologis fangirl k-pop. Cognicia, 9(1), 17–24. https://doi.org/10.22219/cognicia.v9i1.15059
Azzahra, M. S., & Ariana, A. D. (2021). Psychological Wellbeing Penggemar K-Pop Dewasa Awal yang Melakukan Celebrity Worship. Buletin Riset Psikologi Dan Kesehatan Mental (BRPKM), 1(1), 137–148. https://doi.org/10.20473/brpkm.v1i1.24729
HORTON, D., & WOHL, R. R. (1956). Mass communication and para-social interaction; observations on intimacy at a distance. Psychiatry, 19(3), 215–229. https://doi.org/10.1080/00332747.1956.11023049
Perbawani, P. S., & Nuralin, A. J. (2021). Hubungan parasosial dan perilaku loyalitas fans dalam fandom K-Pop di Indonesia. LONTAR: Jurnal Ilmu Komunikasi, 9(1), 42–54. https://doi.org/10.30656/lontar.v9i1.3056
Sadira, L., & Vrisaba, N. A. (2025). Hubungan Antara Parasocial Relationship dengan Subjective Well-Being Pada Penggemar K-Pop. Character Jurnal Penelitian Psikologi, 12(02), 761–773. https://doi.org/10.26740/cjpp.v12n02.p761-773-
Taylor, S. E. (2018). Health psychology 10th edition. In International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences: Second Edition.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































