Siaran Berita, Jakarta, (13/1/2026) – Fiara Zumeisya Faruqi tumbuh dalam irama yang tidak banyak dimiliki remaja seusianya. Lahir di Banjarnegara pada 23 Mei 2008, ia menjalani masa remaja sebagai siswi SMK yang menempatkan seni bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari identitas diri. Gerak, musik, dan ekspresi tubuh menjadi bahasa yang ia pahami sejak usia dini, jauh sebelum ia mengenal panggung lomba dan sorotan penonton.
Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Fiara terbiasa berada pada posisi yang menuntut kedewasaan lebih awal. Di rumah, ia belajar tentang tanggung jawab. Di luar rumah, ia menemukan ruang untuk menyalurkan bakat yang mulai tumbuh sejak kelas dua sekolah dasar. Keputusan menekuni seni tari pada usia belia bukan tanpa proses panjang. Latihan berulang, disiplin waktu, serta ketekunan menjadi bagian dari keseharian yang perlahan membentuk karakter dan kepercayaan diri.

Minat Fiara mengarah kuat pada seni tari Jaipong, tarian khas Sunda yang sarat makna, energi, dan ketepatan gerak. Melalui Jaipong, Fiara tidak hanya mempelajari teknik tari, tetapi juga memahami nilai budaya yang hidup dalam setiap gerakan. Dari satu panggung ke panggung lain, ia membawa cerita tentang tradisi yang tetap relevan ketika dirawat oleh generasi muda. Konsistensi tersebut mengantarkannya meraih berbagai prestasi dalam lomba-lomba seni tingkat daerah Jawa Barat, sekaligus membuka kesempatan tampil dalam beragam acara kebudayaan di lingkungan tempat tinggalnya.
Keberadaan Fiara sebagai penari perlahan dikenal oleh masyarakat sekitar. Setiap penampilan bukan sekadar hiburan, melainkan ruang edukasi budaya yang menghadirkan kembali tarian tradisional ke hadapan publik. Meski Jaipong menjadi fokus utama, Fiara tidak membatasi diri pada satu bentuk tari. Ia terus mempelajari tarian tradisional lain sebagai wujud kepedulian terhadap keberagaman budaya Indonesia, menyadari bahwa setiap daerah memiliki kekayaan yang layak dijaga.

Di tengah aktivitas seni yang padat, Fiara tetap menempatkan pendidikan formal sebagai fondasi masa depan. Sekolah menjadi ruang belajar intelektual, sementara seni menjadi ruang pembentukan karakter. Keduanya berjalan berdampingan, saling melengkapi dalam membentuk pribadi yang disiplin, percaya diri, dan berakar pada budaya.
Perjalanan Fiara Zumeisya Faruqi mencerminkan potret remaja yang memilih bertumbuh bersama tradisi, bukan meninggalkannya. Di tengah arus modernisasi dan perubahan selera generasi, ia menghadirkan keyakinan bahwa budaya tetap dapat hidup selama ada kemauan untuk mempelajari, merawat, dan menampilkan kembali dengan sepenuh hati.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































