Konflik antara Perang Rusia-Ukraina bukan sekadar krisis geopolitik regional, melainkan telah menjelma menjadi guncangan global yang berdampak langsung pada stabilitas energi dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, perang ini terus mengganggu rantai pasok energi, terutama karena Rusia merupakan salah satu eksportir utama minyak dan gas dunia. Ketidakpastian pasokan tersebut mendorong fluktuasi harga minyak global, yang menurut laporan International Energy Agency tetap berada dalam tren tinggi dan volatil, berkisar di atas USD 80 per barel pada periode 2024–2025. Kondisi ini diperkuat oleh analisis International Monetary Fund yang menyebutkan bahwa konflik geopolitik menjadi salah satu pemicu utama tekanan inflasi global dan ketidakstabilan ekonomi dunia.
Bagi Indonesia, dinamika global ini bukan sekadar fenomena eksternal, melainkan ancaman nyata terhadap ketahanan energi nasional. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, Indonesia sangat rentan terhadap kenaikan harga energi global. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025, pemerintah mengalokasikan subsidi energi sekitar Rp186 triliun, yang mencakup BBM, LPG, dan listrik. Namun, besaran ini sangat sensitif terhadap perubahan harga minyak dunia. Ketika harga minyak melampaui asumsi APBN, beban subsidi dapat membengkak secara signifikan, sehingga mempersempit ruang fiskal negara untuk sektor strategis lainnya seperti pendidikan dan kesehatan.
Dampak lanjutan dari kenaikan harga energi global juga terasa pada sektor domestik, terutama melalui inflasi. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa kelompok energi menjadi salah satu penyumbang utama inflasi, terutama saat terjadi penyesuaian harga bahan bakar. Kenaikan harga energi tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga merambat ke harga pangan dan kebutuhan pokok lainnya. Dalam konteks ini, masyarakat berpendapatan rendah menjadi kelompok paling rentan, karena proporsi pengeluaran mereka terhadap energi dan pangan relatif lebih besar. Studi dalam jurnal seperti Energy Economics juga menegaskan bahwa lonjakan harga energi global memiliki korelasi positif dengan peningkatan tingkat kemiskinan di negara berkembang.
Pemerintah Indonesia berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, subsidi energi diperlukan sebagai instrumen perlindungan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi. Di sisi lain, ketergantungan yang tinggi terhadap subsidi justru berpotensi menciptakan beban fiskal jangka panjang. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah mulai mendorong reformasi subsidi melalui digitalisasi dan penargetan yang lebih tepat sasaran. Langkah ini sejalan dengan rekomendasi World Bank yang mendorong negara berkembang untuk mengalihkan subsidi energi ke program perlindungan sosial yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Dalam perspektif yang lebih luas, konflik Perang Rusia-Ukraina menegaskan bahwa ketahanan energi tidak bisa lagi dipandang semata sebagai isu domestik. Indonesia perlu mempercepat transisi energi menuju sumber energi terbarukan sebagai strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor. Selain itu, diversifikasi sumber energi dan penguatan cadangan strategis menjadi langkah penting dalam menghadapi ketidakpastian global. Tanpa upaya ini, Indonesia akan terus berada dalam posisi rentan terhadap gejolak eksternal.
Pada akhirnya, isu ini mencerminkan dengan jelas karakter intermestik dari kebijakan publik modern, di mana batas antara persoalan global dan domestik semakin kabur. Konflik di Eropa Timur mampu mempengaruhi struktur APBN Indonesia, harga kebutuhan pokok, hingga kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, respons kebijakan tidak cukup bersifat reaktif, melainkan harus visioner dan adaptif terhadap dinamika global yang terus berubah.
Penulis : Farhan muhamad idris
Nim : 202310050311085
Mahasiswa program studi ilmu pemerintahan fakultas ilmu social dan ilmu politik universitas Muhammadiyah malang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































