“Terlambat memulai, tak berarti gagal. Dua jam sehari bisa mengubah takdir.”
— Muhammad Fikri Shafiyyul’aini
Ruang kelas XII D MAN 1 Yogyakarta siang itu mendadak berubah menjadi lautan emosi. Suasana yang biasanya dipenuhi canda dan obrolan ringan seketika hening ketika sebuah notifikasi muncul di layar ponsel Muhammad Fikri Shafiyyul’aini. “Selamat! Anda diterima di Program Studi Kedokteran Universitas Sebelas Maret.”
Beberapa detik setelah membaca kalimat itu, Fikri tak mampu lagi menahan air matanya. Tangis bahagia pecah. Di sampingnya, dua sahabat yang selama ini menjadi teman seperjuangan, M. Ghaisan Ayyasi dan Abdurrasyid KRP, ikut larut dalam haru. Mereka tahu betul perjalanan panjang yang baru saja berbuah manis.
Tak ada yang menyangka. Anak yang selama ini dikenal pendiam, jarang menonjol di kelas, dan mengaku tidak aktif dalam organisasi maupun akademik, kini resmi menjadi calon mahasiswa Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) tahun 2026.
Namun, kisah Fikri bukan tentang seorang murid yang sejak awal selalu menjadi juara. Justru sebaliknya. Ini adalah cerita tentang seseorang yang sempat kehilangan arah, lalu menemukan tujuan hidupnya di waktu yang mungkin dianggap terlambat oleh banyak orang.
Fikri lahir di Balikpapan pada 20 Juli 2008. Saat pertama kali menginjakkan kaki di MAN 1 Yogyakarta, ia belum memiliki gambaran tentang masa depan. Ia menjalani hari-hari sekolah seperti kebanyakan remaja lainnya: belajar seperlunya, bercengkerama dengan teman, dan menikmati masa putih abu-abu tanpa benar-benar memikirkan langkah berikutnya. “Saat itu saya tidak memiliki arah dalam jenjang pendidikan selanjutnya. Saya selalu bersenang-senang tanpa berpikir mau lanjut ke mana,” kenangnya dengan jujur.
Kejujuran itulah yang membuat kisahnya terasa dekat. Sebab tidak semua murid kelas X telah memiliki cita-cita yang jelas. Banyak yang masih mencari. Dan Fikri pernah berada di titik itu.
Perubahan besar ternyata tidak datang melalui peristiwa yang dramatis. Semuanya bermula dari percakapan sederhana bersama dua sahabatnya. Obrolan mengenai kampus impian, jurusan kuliah, hingga mimpi masa depan perlahan membuatnya bertanya kepada diri sendiri: “Kalau mereka punya tujuan, aku mau ke mana?”

Pada waktu yang hampir bersamaan, MAN 1 Yogyakarta mengadakan sosialisasi mengenai Perguruan Tinggi Negeri. Informasi yang disampaikan para guru membuka cakrawala baru bagi Fikri. Di balik semua itu, ada satu dorongan yang terus hidup di dalam dirinya: harapan kedua orang tua agar ia dapat menempuh pendidikan di fakultas kedokteran.
Bagi sebagian orang, menjadi dokter adalah profesi bergengsi. Namun bagi Fikri, impian itu memiliki makna yang jauh lebih sederhana. Ia hanya ingin membuat kedua orang tuanya tersenyum bangga.
Menyadari dirinya terlambat menentukan arah bukan berarti Fikri menyerah. Ia justru memilih berlari lebih cepat. Ia mendaftarkan diri ke bimbingan belajar intensif di luar jam madrasah. Sepulang sekolah, waktu istirahatnya berubah menjadi waktu belajar. Ia membuat satu aturan yang terdengar sederhana, tetapi sangat sulit dijalankan: belajar minimal dua jam setiap hari. “Terdengar klise, tapi konsistensi dua jam itu yang menyelamatkan,” katanya.
Hari demi hari ia mengulang materi, mengerjakan latihan soal, memahami konsep-konsep Biologi, Kimia, dan Fisika, hingga perlahan rasa percaya dirinya tumbuh. Namun Fikri juga sadar bahwa otak manusia bukan mesin. Di sela-sela persiapan menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi, ia tetap menyediakan ruang untuk dirinya sendiri. Bermain game dan berolahraga menjadi cara sederhana untuk menjaga pikiran tetap segar. “Biar nggak burnout. Otak juga butuh napas,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Fikri, tiga tahun di MAN 1 Yogyakarta bukan sekadar masa belajar di ruang kelas. Madrasah ini menjadi tempat ia menemukan kompas kehidupan. Di sinilah ia belajar mengenali potensi dirinya, menemukan tujuan, mendapatkan dukungan guru, dan bertemu sahabat-sahabat yang tidak hanya menemani tertawa, tetapi juga saling mengingatkan untuk terus bergerak maju. “Terima kasih sudah membersamai dan mendampingi selama tiga tahun, serta membantu menentukan arah jenjang pendidikan saya,” ucapnya.
Beberapa bulan lagi, Fikri akan meninggalkan Yogyakarta menuju Surakarta. Ia akan memulai babak baru sebagai mahasiswa Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Di dalam tas yang dibawanya nanti, mungkin hanya ada buku anatomi, stetoskop, dan perlengkapan kuliah. Namun di dalam hatinya, ia membawa sesuatu yang jauh lebih besar. Doa kedua orang tua yang mengiringinya dari Balikpapan, persahabatan yang tumbuh di kelas XII D, kepercayaan para guru, dan nama besar MAN 1 Yogyakarta yang ingin terus ia banggakan.
Perjalanan Fikri mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki garis start yang berbeda. Ada yang menemukan tujuan sejak dini, ada pula yang baru menyadarinya di tengah perjalanan. Namun hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat. Hidup adalah tentang siapa yang tetap melangkah ketika akhirnya menemukan arah. Sebab seperti yang dibuktikan Muhammad Fikri Shafiyyul’aini, terlambat memulai tidak pernah berarti terlambat untuk berhasil.
Penulis: Listya Sulastri Wulan Kurniati, M.A (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































