Notifikasi Instagram bunyi. Story teman muncul: meja penuh gelas kopi kekinian, latar mural estetik, caption “healing tipis-tipis”. Tangan langsung gatal ingin chat, “Di mana tuh? Ikut dong”. Padahal di dompet hanya sisa 50 ribu untuk bertahan seminggu, dan besok ada kuis yang materinya belum dibaca.
Selamat datang di era FOMO Fear of Missing Out yang diam-diam menguras isi dompet mahasiswa.
Menurut survei Jakpat 2025, 68% Gen Z mengaku pernah memaksakan diri nongkrong agar tidak ketinggalan tren, meski kondisi keuangan sedang kritis. Fenomena ini sudah tidak sehat.
Media Sosial Jadi Biang Kerok FOMO
Algoritma Instagram & TikTok pintar sekali membuat kita merasa “kudet” kalau tidak mencoba kafe viral. Semua serba estetik. Nongkrong bukan lagi soal mengobrol, tetapi soal konten. Ada tekanan tak terlihat: kalau tidak update, eksistensi dipertanyakan. Akhirnya standar nongkrong naik. Warung kopi 8 ribuan diganti coffee shop yang sekali duduk minimal 50 ribu. Ini bukan lagi kebutuhan sosial, melainkan kebutuhan validasi.
Dompet Mahasiswa Jadi Korban
Coba hitung: ngopi 45 ribu + parkir 5 ribu + bensin 10 ribu = 60 ribu sekali nongkrong. Jika seminggu 3 kali, sebulan 720 ribu. Padahal uang bulanan anak kos rata-rata 1,5 juta. Artinya, 48% uang hanya habis untuk “menjaga image”. Belum lagi jika ada ulang tahun teman, dress code, atau ajakan dadakan. Ujung-ujungnya berutang ke teman, telat bayar kos, atau makan mi instan selama 2 minggu.
Produktivitas Ikut Tumbang
Niat awal ke kafe: “nugas biar fokus”. Realitanya: 15 menit buka laptop, 2 jam sisanya mengobrol & foto-foto. WiFi kencang malah dipakai scrolling. Riset Universitas Indonesia 2024 menyebutkan, 62% mahasiswa merasa lebih tidak produktif jika mengerjakan tugas di tempat nongkrong dibanding di perpustakaan. Jadi sudah uang habis, tugas tidak selesai. Double kill.
FOMO itu manusiawi, tetapi jika dibiarkan akan menjadi financial anxiety. Saatnya kita ganti FOMO menjadi JOMO, Joy of Missing Out. Bangga jika bisa menolak ajakan nongkrong demi kewarasan keuangan dan IPK.
Solusinya?
1. Buat “anggaran healing” maksimal 200 ribu per bulan.
2. Ganti lokasi nongkrong ke taman kampus atau perpustakaan yang gratis.
3. Pilih lingkaran pertemanan yang suportif. Teman yang baik tidak akan menghakimi karena kamu menolak nongkrong. Mereka akan paham jika kamu sedang menabung untuk bayar UKT.
Ingat, tidak semua yang ada di story teman itu nyata. Kadang yang paling healing justru rebahan di kos sambil mendengarka playlist, tanpa mengeluarkan uang.
Di tulis oleh Wardah Suhailah
Prodi : ilmu Pemerintahan
Mahasiswa Universitas Pamulang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































