JAKARTA SELATAN – Di era di mana layar jadi je dela utama ke dunia, Gen Z menemukan cara baru membaca — dan menjalani — hidup lewat feed singkat bernama TikTok. Aplikasi yang awalnya populer karena video pendek dan tarian cepat itu sekarang memengaruhi pilihan gaya, karier, cara berkomunikasi, hingga nilai estetika banyak anak muda. Fenomena ini bukan sekadar tren; ia merepresentasikan perubahan budaya: bagaimana algoritme, kecepatan informasi, dan kebutuhan untuk merasa terlihat membentuk standar hidup generasi baru.
Mengapa TikTok? Pertama, formatnya. Video singkat memaksa kreator menyampaikan pesan padat dan visual kuat dalam hitungan detik. Bagi Gen Z, yang tumbuh dengan perhatian terfragmentasi, format ini sempurna: cepat, informatif, dan menghibur. Kedua, algoritme For You Page (FYP) membuat konten yang relevan muncul terus-menerus, memberi ilusi bahwa aplikasi “mengerti” preferensi personal. Ketika rekomendasi terasa akurat, platform berubah dari hiburan menjadi rujukan sehari-hari.
TikTok sebagai panduan gaya hidup terlihat di banyak sisi keseharian. Pilihan fashion, skincare, sampai resep masakan sering kali muncul dari tren viral. Saat satu tutorial meroket, produk atau teknik itu langsung menjadi rekomendasi massal — bukan lagi cuma opini seorang influencer. Ada pergeseran otoritas: dari ahli formal ke kreator yang membuktikan hasil cepat di layar kecil. Ini menyenangkan karena demokratis, namun berisiko ketika informasi tidak diverifikasi.
Dampak sosialnya juga nyata. Identitas dan bahasa Gen Z kini dipenuhi referensi budaya TikTok: frase, challenge, sampai estetika yang terus berubah mengikuti ritme viral. Di sisi positif, platform memudahkan komunitas niche bertemu dan saling mendukung, dari aktivisme hingga hobi langka. Namun, cepatnya standar yang berubah bisa menimbulkan tekanan: kalau feed menampilkan gaya hidup ideal tanpa konteks, mudah bagi pengguna membandingkan diri dan merasa kurang.
Dalam konteks pekerjaan dan karier, TikTok membuka peluang baru. Banyak Gen Z menemukan ide usaha, portofolio, atau bahkan pekerjaan lewat video singkat. Personal branding jadi modal penting; kemampuan membuat konten yang menangkap perhatian sering dianggap setara dengan kompetensi tradisional di beberapa industri. Ini mendorong generasi untuk lebih kreatif dan adaptif, tetapi juga membawa tantangan: stabilitas karier menjadi tergantung pada relevansi algoritme dan kemampuan bertahan di era perhatian singkat.
Soal akurasi informasi, TikTok menghadirkan dilema. Konten edukatif yang mudah dicerna merupakan aset besar — tutorial cepat tentang keuangan, kesehatan mental, atau skill praktis membuat pengetahuan lebih mudah diakses. Namun tanpa verifikasi, misinformasi juga dapat menyebar cepat. Bagi pembuat konten dan pembaca, literasi digital menjadi keterampilan krusial: memeriksa sumber, mengenali tanda-tanda hoaks, dan tidak menjadikan satu video sebagai satu-satunya rujukan.
Lalu, bagaimana Gen Z bisa menavigasi hidup berdasarkan scroll tanpa kehilangan keseimbangan? Beberapa pendekatan praktis:
• Pilih sumber: ikuti kreator yang kredibel dan cross-check informasi penting.
• Batasi waktu scrolling: gunakan jeda dan batasi sesi untuk mengurangi tekanan perbandingan.
• Kembangkan offline: jadwalkan aktivitas yang membangun keterampilan di dunia nyata.
• Gunakan TikTok sebagai inspirasi, bukan patokan mutlak; terapkan apa yang relevan dengan situasi pribadi.
Bagi pembuat kebijakan dan platform, tanggung jawabnya jelas. Algoritme harus dirancang untuk mengurangi ruang bagi misinformasi dan menonjolkan variasi perspektif. Fitur edukasi media dan label sumber bisa membantu, begitu pula kebijakan yang mendukung kesehatan mental pengguna.
Kesimpulannya, TikTok bukan sekadar aplikasi—ia menjadi cermin dan pembentuk standar hidup Gen Z. Kekuatan platform ada pada kemampuannya menyajikan konten yang relevan dan cepat, serta memberdayakan suara banyak orang. Namun, kekuatan ini perlu disertai kehati-hatian: literasi digital, kebijakan platform yang bertanggung jawab, dan kebiasaan pribadi yang sehat. Bila dipakai bijak, TikTok bisa menjadi alat inspirasi dan pembelajaran; bila dibiarkan mengendalikan, ia berisiko menciptakan standar hidup yang sempit dan tak berkelanjutan.
Oleh: Rifa Alya Hanifah, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































