Ada satu kalimat yang hampir selalu terdengar positif bagi saya: “Jadilah versi terbaik dari dirimu.” Kalimat ini sering muncul di media sosial, seminar pengembangan diri, buku motivasi, hingga percakapan sehari-hari. Sekilas, tidak ada yang salah. Bukankah setiap orang memang ingin berkembang? Bukankah menjadi lebih baik adalah sesuatu yang patut diperjuangkan?
Namun, semakin sering saya mendengar kalimat itu, semakin sering pula saya bertanya kepada diri sendiri: mengapa saya tidak pernah merasa cukup?
Anehnya, perasaan “kurang” itu tidak hilang ketika saya berhasil mencapai sesuatu. Setelah menyelesaikan satu target, saya segera mengejar target berikutnya. Setelah berhasil berkembang dibandingkan diri saya yang dulu, saya justru mulai membandingkan diri dengan orang yang berada lebih jauh di depan. Rasanya seperti terus berjalan di atas treadmill, bergerak tanpa benar-benar merasa telah sampai.
Dari situ saya mulai bertanya: apakah saya benar-benar ingin menjadi lebih baik atau saya hanya takut merasa tidak cukup?
Ilustrasi oleh Freepik
Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre punya cara pandang yang bisa membantu kita memahami ini. Ia membedakan dua jenis keberadaan. Yang pertama, benda-benda mati seperti meja, keberadaannya sudah “selesai” sejak awal. Sebuah meja ya sudah menjadi meja, esensinya sudah ditentukan sebelum ia exist. Sedangkan manusia berbeda. Sartre menyebut manusia lahir dulu ke dunia, baru kemudian mendefinisikan dirinya sendiri lewat pilihan dan tindakan yang terus-menerus ia ambil sepanjang hidup. Tidak ada cetakan baku yang menentukan siapa kita sejak lahir. Setiap hari, lewat apa yang kita pilih dan kerjakan, kita sedang “menulis” diri kita sendiri dan proses ini tidak pernah benar-benar tuntas selama kita masih hidup.
Artinya, secara mendasar, tidak ada yang namanya “versi final” dari seorang manusia. Selalu ada bab berikutnya yang belum ditulis, pilihan berikutnya yang belum diambil. Ini bukan berarti perjalanan mengembangkan diri itu sia-sia justru sebaliknya, ini bagian dari apa artinya menjadi manusia.
Bagian yang lebih menantang dari pemikiran Sartre adalah karena ia tidak percaya ada Tuhan atau takdir yang mengarahkan hidup manusia, maka tidak ada pula otoritas eksternal yang bisa “mengizinkan” kita untuk berhenti mencari dan memilih. Sartre menyebut kondisi ini sebagai manusia yang dikutuk untuk bebas, sebuah kebebasan yang bukan hadiah ringan, melainkan beban yang harus dipikul sendiri, tanpa ada yang bisa disalahkan atau diserahi tanggung jawab.
Di titik inilah kita bisa mulai memahami akar dari rasa “tidak pernah cukup” itu. Bukan karena target kita salah, bukan pula karena kita kurang disiplin. Rasa itu muncul karena secara struktural, tidak ada garis akhir yang bisa memberi kelegaan permanen. Selama kita hidup dan bebas memilih, akan selalu ada ruang untuk menjadi “lebih” dan ruang itu, secara alami, memicu kegelisahan.
Kegelisahan inilah yang oleh Sartre disebut angst, bukan tanda ada yang salah dengan diri kita, melainkan konsekuensi tak terhindarkan dari memiliki kebebasan radikal untuk terus mencipta ulang siapa diri kita.
Menariknya, tidak semua eksistensialis melihat kebebasan ini dengan cara yang sama. Albert Camus, yang sering disandingkan dengan Sartre justru curiga terhadap gagasan kebebasan radikal semacam itu. Baginya, dunia ini pada dasarnya absurd tidak bermakna secara inheren dan solusi yang ditawarkan bukanlah terus-menerus mencipta makna lewat pilihan tanpa henti, melainkan menerima absurditas itu dengan damai.
Camus mengajak kita melepaskan beban pencarian makna yang tak berkesudahan. Sartre mengajak kita menerima beban itu sebagai bagian dari eksistensi kita. Dua tawaran ini sama-sama sah, dan masing-masing menyisakan pertanyaan bagi kita yang hidup di tengah budaya self-improvement hari ini: apakah kita ingin terus mencipta makna lewat pencapaian yang tak berujung atau belajar berdamai dengan proses yang memang tidak akan pernah tuntas?
Di sinilah kita bisa membalik cara pandang terhadap rasa “tidak pernah cukup” ini. Alih-alih menganggapnya sebagai kegagalan personal yang harus segera diperbaiki, kita bisa melihatnya sebagai bukti bahwa kita masih menjalani hidup sebagai manusia yang bebas. Kalau suatu hari kita benar-benar merasa “selesai” secara permanen, tidak ada lagi yang ingin dikejar, tidak ada lagi ruang untuk berubah, itu justru pertanda kita berhenti menjadi manusia yang terus mencipta diri dan mulai menyerupai benda mati yang sudah “jadi” sepenuhnya.
Masalahnya bukan pada dorongan untuk berkembang. Masalahnya ada pada premis yang keliru, mengira ada garis finish yang begitu dicapai akan memberi kelegaan abadi. Industri self-improvement, aplikasi produktivitas, buku motivasi, konten “level up diri”, hidup dan berkembang justru dari premis keliru ini. Semakin kita percaya ada “versi terbaik” yang bisa dicapai lalu selesai, semakin kita bergantung pada pencapaian berikutnya, validasi berikutnya, target berikutnya, sebuah siklus yang oleh desainnya sendiri tidak pernah dirancang untuk berhenti.
Tulisan ini bukan ajakan untuk berhenti berkembang atau berhenti mempunyai cita-cita. Justru sebaliknya, mungkin yang perlu kita ubah adalah cara kita mengukur diri. Bukan lagi dengan bertanya “sudah sampai mana aku menuju versi terbaik?”, karena pertanyaan itu mengandaikan ada tujuan akhir yang sebenarnya tidak pernah ada. Barangkali pertanyaan yang lebih jujur adalah apakah proses “menjadi” yang sedang kujalani ini datang dari kedamaian batin, atau dari rasa takut tertinggal?
Jika menurut Sartre kita memang dikutuk untuk terus bebas dan terus memilih, mungkin caranya berdamai bukan dengan mencari titik berhenti yang tidak akan pernah ada, melainkan dengan menerima bahwa “tidak pernah cukup” itu bukan hukuman. Itu adalah tanda bahwa kita, sampai detik ini, masih hidup dan masih punya ruang untuk memilih siapa yang ingin kita jadi esok hari.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































