Sekolah Ramah Anak Bukan Sekadar Slogan, tetapi Tanggung Jawab Bersama
Seorang siswa sekolah dasar pulang ke rumah dengan wajah murung. Bukan karena nilai ulangannya buruk atau karena dimarahi guru, melainkan karena sepanjang hari ia menjadi bahan ejekan teman-temannya di kelas. Bagi sebagian orang, hal tersebut mungkin hanya dianggap candaan biasa. Namun bagi seorang anak, pengalaman seperti itu dapat meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada yang terlihat.
Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar, bermain, dan mengembangkan potensi dirinya. Di lingkungan sekolah, anak tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar membangun karakter, menghargai perbedaan, dan menjalin hubungan sosial yang sehat. Sayangnya, harapan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan. Kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan menunjukkan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang yang bebas dari ancaman bagi tumbuh kembang anak.
Data yang dirilis Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024 terdapat 573 kasus kekerasan yang terjadi di sekolah dan pesantren di Indonesia. Angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian besar kasus yang dilaporkan terjadi di lingkungan sekolah, tempat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi peserta didik.

Kegiatan sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan (PPK) kepada siswa sekolah dasar sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan ramah anak.
Kekerasan yang Sering Dianggap Biasa
Ketika mendengar kata “kekerasan”, banyak orang langsung membayangkan tindakan fisik seperti memukul atau menendang. Padahal, kekerasan di lingkungan sekolah memiliki bentuk yang jauh lebih luas. Ejekan terhadap fisik teman, pengucilan dari kelompok pergaulan, intimidasi verbal, penyebaran hinaan di media sosial, hingga tindakan mendorong saat bercanda merupakan bentuk kekerasan yang sering dianggap sepele.
Masalahnya, tindakan yang dianggap biasa tersebut dapat memberikan dampak besar bagi korban. Anak yang menjadi sasaran perundungan berisiko mengalami penurunan rasa percaya diri, gangguan emosional, kesulitan bersosialisasi, hingga kehilangan motivasi untuk belajar. Dalam jangka panjang, pengalaman negatif tersebut bahkan dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak hingga masa dewasa.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kekerasan di sekolah bukan lagi masalah individu semata, melainkan masalah bersama yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh pihak. Terlebih, banyak kasus terjadi pada anak usia sekolah dasar yang masih berada dalam fase pembentukan karakter dan perkembangan emosional.
Belajar dari Pengalaman di Sekolah Dasar
Sebagai mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan (PPK) di sekolah dasar, saya melihat secara langsung bahwa banyak siswa sebenarnya belum memahami batas antara bercanda dan melakukan kekerasan terhadap teman.
Ketika diberikan pertanyaan sederhana mengenai tindakan mengejek teman, sebagian siswa menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang lumrah karena sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Namun setelah diajak berdiskusi dan diberikan berbagai contoh nyata, mereka mulai menyadari bahwa tindakan yang selama ini dianggap candaan ternyata dapat melukai perasaan orang lain.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa pendidikan mengenai pencegahan kekerasan perlu diberikan sejak usia dini melalui pendekatan yang sesuai dengan karakteristik anak. Penyampaian materi tidak cukup hanya melalui ceramah satu arah. Anak-anak perlu diajak terlibat secara aktif melalui diskusi, permainan edukatif, simulasi, maupun kegiatan bermain peran (role-playing).
Melalui pendekatan yang interaktif, anak lebih mudah memahami arti empati, menghargai perasaan orang lain, serta belajar menyelesaikan konflik tanpa menggunakan kekerasan. Mereka tidak hanya mengetahui apa yang benar dan salah, tetapi juga memahami alasan di balik perilaku tersebut.
Peran Guru dan Orang Tua Sangat Menentukan
Menciptakan lingkungan sekolah yang aman tidak dapat hanya mengandalkan siswa. Guru memiliki peran yang sangat penting sebagai pendidik sekaligus pendamping yang mampu mengenali tanda-tanda terjadinya kekerasan di lingkungan sekolah. Respons yang cepat terhadap laporan maupun indikasi perundungan dapat mencegah dampak yang lebih besar bagi korban maupun pelaku.
Di sisi lain, keluarga merupakan tempat pertama anak belajar tentang sikap dan perilaku. Nilai-nilai seperti menghargai orang lain, mengendalikan emosi, serta menyelesaikan masalah secara baik pertama kali dipelajari anak di rumah. Oleh karena itu, orang tua perlu membangun komunikasi yang sehat dengan anak dan memberikan teladan perilaku yang positif dalam kehidupan sehari-hari.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh penghargaan, kasih sayang, dan komunikasi yang baik cenderung memiliki kemampuan sosial yang lebih sehat serta lebih mampu menghindari perilaku kekerasan.
Sekolah Ramah Anak Harus Menjadi Kenyataan
Upaya menciptakan sekolah bebas kekerasan tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah harus bekerja sama membangun budaya yang menjunjung tinggi rasa hormat, empati, dan perlindungan terhadap anak. Pencegahan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar penanganan setelah kasus terjadi.
Sekolah ramah anak tidak boleh berhenti sebagai slogan yang terpampang di dinding atau sekadar program administratif. Sekolah ramah anak harus hadir dalam perilaku sehari-hari, dalam cara guru berinteraksi dengan siswa, dalam cara siswa memperlakukan temannya, dan dalam komitmen semua pihak untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi setiap anak.
Jika sekolah masih menjadi tempat terjadinya kekerasan, maka kita sedang gagal menyediakan ruang tumbuh yang sehat bagi generasi penerus bangsa. Sebaliknya, ketika sekolah mampu menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh empati, anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang percaya diri, peduli terhadap sesama, serta memiliki karakter yang kuat.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik atau prestasi yang diraih siswa. Keberhasilan pendidikan juga ditentukan oleh kemampuan sekolah dalam membentuk manusia yang beradab, berempati, dan menghargai sesama. Karena pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga memanusiakan manusia.
Oleh: Ibnu Khairuddin
Mahasiswa Universitas Andalas
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































