TASIKMALAYA – Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kecamatan Pagerageung ke-97, Panitia Hari Besar Nasional (PHBN) Kecamatan Pagerageung menggelar Tasyakur bi Ni’mah dan Saresehan Milangkala Pagerageung ke-97 di Aula Kecamatan Pagerageung, Senin (3/8/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forkopimcam, para kepala desa, jajaran pendidikan, pimpinan lembaga dan organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, serta tokoh masyarakat se-Kecamatan Pagerageung. Momentum ini menjadi ajang refleksi perjalanan sejarah sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam membangun Pagerageung yang lebih maju.
Ketua Panitia Pelaksana, Asep Gunawan, mengatakan peringatan Milangkala bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi wujud rasa syukur atas perjalanan panjang Kecamatan Pagerageung sekaligus sarana memperkuat kebersamaan seluruh elemen masyarakat.
“Melalui Milangkala ini kami ingin membangun semangat gotong royong untuk mewujudkan Pagerageung yang semakin maju, harmonis, dan sejahtera sesuai dengan motto Walasri, yakni Waluya, Aman, Sejahtera, Religius, dan Islami,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Pagerageung Nandang Heryana menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia memaparkan berbagai capaian pembangunan selama 346 hari memimpin Kecamatan Pagerageung.
Di bidang pendidikan, kata Nandang, pemerintah terus mendorong peningkatan layanan, di antaranya melalui upaya pendirian SMA Negeri 1 Pagerageung serta rencana pembangunan Taman Kanak-kanak Negeri.
Pada sektor kesehatan, pelayanan masyarakat terus diperkuat melalui keberadaan Puskesmas Pembantu (Pustu) di setiap desa. Ia juga mengaku rutin mengunjungi wilayah-wilayah di Pagerageung setiap bulan untuk memantau langsung pelayanan kesehatan masyarakat.
“Setiap bulan saya berkeliling ke setiap wilayah untuk memastikan pelayanan kesehatan berjalan dengan baik,” katanya.
Pada sektor pertanian, berdasarkan kajian Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), produktivitas mengalami peningkatan hingga 300 persen. Peningkatan tersebut didukung pembangunan jaringan irigasi dan pipanisasi yang memungkinkan sekitar 30 hektare lahan baru dimanfaatkan menjadi area persawahan.
Sementara di bidang infrastruktur, pembangunan jalan utama sepanjang 6,5 kilometer yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini tengah berlangsung dan ditargetkan rampung pada Desember 2026. Adapun di sektor pelayanan publik, pemerintah kecamatan terus meningkatkan kualitas pelayanan terpadu dengan mengedepankan prinsip cepat, mudah, dan responsif.
Menutup sambutannya, Nandang menyampaikan permohonan maaf apabila selama menjalankan amanah masih terdapat berbagai kekurangan. Ia juga mengucapkan terima kasih atas dukungan seluruh masyarakat sehingga berbagai program pembangunan dapat berjalan.
“Pagerageung patut berbangga karena tidak semua kecamatan memiliki hari jadi. Milangkala ini harus menjadi pengingat untuk terus menghidupkan nilai-nilai Walasri dalam kehidupan bermasyarakat, yakni Waluya, Aman, Sejahtera, Religius, dan Islami,” ujarnya.
Ketua Walasri, H. Heri Kusdiana, turut mengapresiasi penyelenggaraan Milangkala ke-97. Menurutnya, usia 97 tahun merupakan perjalanan panjang yang harus dimaknai sebagai momentum memperkuat persatuan masyarakat.
Ia berharap seluruh warga senantiasa menjaga nilai-nilai Walasri dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, tantangan moral di tengah masyarakat semakin kompleks, mulai dari penyalahgunaan narkoba hingga berbagai persoalan sosial lainnya, sehingga memerlukan peran aktif seluruh elemen masyarakat.
“Nilai religius dan Islami jangan berhenti menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya dengan membiasakan salat tepat waktu,” katanya.
Dalam sesi saresehan, budayawan Jawa Barat asal Pagerageung, H. Taufiq Fathurrohman atau yang akrab disapa Kang Abing, mengajak masyarakat untuk tidak melupakan sejarah daerahnya.
Mengutip pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, “Jas Merah” atau Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, Kang Abing menegaskan bahwa masyarakat yang maju adalah masyarakat yang menghargai jejak para leluhurnya.
Ia memaparkan, nama Pagoragoeng telah tercantum dalam peta Inggris sejak abad ke-13. Selanjutnya, pada 1720 wilayah tersebut menjadi pusat kewedanaan. Karena pertimbangan hasil perkebunan kopi, pusat pemerintahan sempat dipindahkan ke Pamoyanan pada 1722, kemudian ke Ciawi pada 1728.
Menurut Kang Abing, berdasarkan dokumen sejarah yang ada, pada 3 Agustus 1729 pemerintah kolonial Hindia Belanda menetapkan wilayah tersebut dengan nama Pagerageung, yang kemudian menjadi dasar penetapan tanggal 3 Agustus sebagai Hari Jadi Kecamatan Pagerageung.
Ia juga mengungkapkan kebanggaannya sebagai putra daerah Pagerageung. Bahkan, menurutnya, Dokter Jungjunan—dokter pribumi Sunda pertama yang namanya kini diabadikan menjadi salah satu ruas jalan di Kota Bandung—berasal dari Nangewer, Kecamatan Pagerageung.
Sebagai bentuk pelestarian sejarah, Kang Abing berharap pemerintah kecamatan segera membangun tembok pembatas di kompleks makam para karuhun Pagerageung agar situs bersejarah tersebut tetap terjaga.
Di akhir kegiatan, pengurus Walasri H. Abinil Karim menjelaskan bahwa pelaksanaan Milangkala di Aula Kecamatan bertujuan agar masyarakat mengetahui sekaligus merasa memiliki sejarah daerahnya.
Ia menambahkan, Walasri terus mengembangkan berbagai program, di antaranya Walasri Usaha, Walasri Nagara, dan Walasri Budaya sebagai bagian dari upaya membangun Pagerageung.
Berdasarkan hasil kajian sejarah yang dipaparkan dalam saresehan, tanggal 3 Agustus disepakati sebagai Hari Jadi Kecamatan Pagerageung. Ke depan, peringatan Milangkala akan diselenggarakan setiap dua tahun sekali pada tahun ganjil sebagai momentum memperkuat identitas, sejarah, dan semangat kebersamaan masyarakat Pagerageung.
Sebagai penutup rangkaian peringatan Milangkala ke-97, panitia menggelar prosesi pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan panjang Kecamatan Pagerageung. Prosesi yang dilanjutkan dengan makan bersama tersebut menjadi simbol kebersamaan seluruh elemen masyarakat sebelum rombongan melaksanakan ziarah ke makam para karuhun Pagerageung sebagai bentuk penghormatan kepada para pendiri dan tokoh yang telah berjasa dalam sejarah berdirinya Pagerageung.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































