JATINANGOR – Pernah melihat minyak goreng di dapur berubah warna menjadi hitam pekat, berbau tengik, tetapi tetap digunakan kembali untuk menggoreng makanan keesokan harinya?
Kebiasaan tersebut ternyata masih banyak dilakukan masyarakat Indonesia. Di tengah meningkatnya harga kebutuhan pokok, banyak rumah tangga memilih menggunakan minyak goreng secara berulang demi menghemat pengeluaran. Setelah warnanya mulai keruh dan dipenuhi sisa remah gorengan, sebagian orang tetap memakainya kembali. Sebagian lainnya memilih jalan pintas dengan langsung membuang minyak tersebut ke wastafel, selokan, atau tanah pekarangan rumah.
Padahal, kedua kebiasaan tersebut sama-sama berisiko bagi kesehatan tubuh maupun lingkungan.
Sisi Gelap Minyak Jelantah bagi Kesehatan
Penggunaan minyak goreng secara berulang dengan suhu tinggi dapat menyebabkan kerusakan struktur kimia minyak. Saat dipanaskan terus-menerus, minyak mengalami proses oksidasi, hidrolisis, dan polimerisasi yang menghasilkan berbagai senyawa hasil degradasi lemak.
Proses tersebut menyebabkan peningkatan kadar asam lemak bebas (free fatty acid), pembentukan senyawa hidroperoksida, aldehida, serta berbagai senyawa oksidatif lain yang dapat menurunkan kualitas minyak dan memengaruhi keamanan pangan.
Dalam jangka panjang, konsumsi makanan yang digoreng menggunakan minyak rusak berpotensi meningkatkan risiko kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, hingga penyakit degeneratif lainnya.
Selain menurunkan kualitas makanan, minyak yang sudah mengalami kerusakan juga biasanya menghasilkan aroma tengik, warna lebih gelap, dan asap berlebih saat dipanaskan kembali.
Dibuang Sembarangan Juga Menjadi Masalah
Di sisi lain, membuang minyak jelantah secara sembarangan juga bukan solusi yang tepat. Saat minyak dibuang ke wastafel, minyak akan mendingin dan menempel pada dinding saluran air sehingga berpotensi menyebabkan penyumbatan pipa.
Jika dibuang langsung ke tanah atau perairan, minyak dapat membentuk lapisan tipis di permukaan yang menghambat masuknya oksigen dan cahaya ke dalam air. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kualitas lingkungan dan ekosistem perairan.
Banyak masyarakat belum menyadari bahwa minyak cepat rusak akibat kebiasaan sederhana di dapur, seperti menggunakan suhu terlalu tinggi, membiarkan sisa tepung gosong tertinggal di dasar wajan, serta menyimpan minyak dalam wadah terbuka terlalu lama.
Cara Menyaring Minyak Jelantah dengan Arang Aktif
Jika minyak baru digunakan satu hingga dua kali dan belum mengalami kerusakan berat, minyak masih dapat dijernihkan kembali secara terbatas melalui metode filtrasi sederhana di rumah.
Namun, menjernihkan minyak ternyata bukan sekadar menyaringnya menggunakan kain biasa. Penyaringan biasa hanya mampu memisahkan partikel besar, sedangkan warna gelap dan bau tengik berasal dari partikel mikro serta senyawa hasil oksidasi yang tidak terlihat oleh mata. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah filtrasi menggunakan arang aktif (activated charcoal).
Arang aktif bekerja melalui proses adsorpsi, yaitu proses penempelan zat-zat pengotor pada permukaan pori-pori arang aktif. Karena memiliki jutaan pori mikroskopis, arang aktif mampu menangkap partikel halus, zat penyebab warna gelap, serta senyawa penyebab bau tengik pada minyak.
Fun Fact: Satu gram arang aktif dapat memiliki luas permukaan yang sangat besar karena dipenuhi jutaan pori mikroskopis. Inilah yang membuat arang aktif banyak digunakan dalam proses penyaringan air, pemurnian pangan, hingga filtrasi minyak.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa arang aktif mampu membantu memperbaiki warna minyak serta menurunkan kadar senyawa hasil oksidasi pada minyak jelantah.
Langkah Filtrasi Minyak Menggunakan Arang Aktif
1. Dinginkan minyak terlebih dahulu
Biarkan minyak turun suhunya setelah digunakan agar aman saat diproses.
2. Lakukan penyaringan awal
Gunakan saringan kawat atau kain bersih untuk memisahkan sisa tepung dan remah gorengan berukuran besar.
3. Tambahkan arang aktif food grade
Campurkan arang aktif berbentuk granul kecil atau serbuk kasar ke dalam minyak. Penggunaan arang aktif berbentuk granul lebih disarankan karena lebih mudah mengendap dibanding serbuk terlalu halus.
4. Diamkan beberapa waktu
Minyak didiamkan agar proses adsorpsi dan sedimentasi berlangsung. Pada tahap ini, arang aktif bersama zat pengotor akan mengendap di bagian bawah wadah.
5. Lakukan filtrasi ulang
Saring kembali minyak menggunakan kain bersih, filter kopi, atau kertas saring untuk memisahkan endapan arang aktif dari minyak.
Hasil akhirnya, minyak dapat terlihat lebih jernih dan bau tengiknya berkurang secara signifikan.

Penyaringan Tidak Membuat Minyak Menjadi Baru
Meski tampak lebih jernih, proses filtrasi menggunakan arang aktif tidak mengembalikan minyak jelantah menjadi minyak baru.
Filtrasi hanya membantu memperbaiki tampilan fisik minyak, mengurangi warna gelap, serta menurunkan sebagian bau dan zat pengotor. Senyawa hasil kerusakan akibat pemanasan berulang masih dapat tertinggal di dalam minyak.
Selain itu, proses penyaringan yang kurang sempurna juga berpotensi meninggalkan residu arang aktif pada minyak sehingga dapat memengaruhi aroma maupun warna hasil gorengan.
Karena itu, minyak hasil filtrasi sebaiknya hanya digunakan kembali secara terbatas dan tidak dipakai berulang kali dalam jangka panjang.
Kapan Minyak Harus Dibuang?
Minyak sebaiknya tidak lagi digunakan apabila sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan berat, seperti:
● berwarna hitam pekat,
● berbau tengik menyengat,
● menghasilkan asap berlebih saat dipanaskan,
● berbusa secara tidak normal,
● atau memiliki tekstur sangat kental.
Jika kondisi tersebut sudah terjadi, minyak sebaiknya tidak lagi digunakan untuk memasak.
Minyak Jelantah Masih Bisa Dimanfaatkan
Daripada dibuang sembarangan, minyak jelantah yang sudah tidak layak konsumsi masih memiliki nilai ekonomis apabila dikelola dengan benar.
Minyak jelantah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel, sabun, hingga lilin. Di Indonesia, perusahaan seperti Noovoleum mulai mengembangkan pengolahan minyak jelantah menjadi energi dan produk yang lebih ramah lingkungan.
Masyarakat juga mulai dapat menyetorkan minyak jelantah ke berbagai program bank jelantah untuk didaur ulang menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Hal kecil yang dilakukan di dapur ternyata dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan keluarga sekaligus lingkungan. Karena itu, sebelum buru-buru membuang atau menggunakan kembali minyak bekas gorengan, masyarakat perlu memahami cara mengelola minyak jelantah dengan lebih bijak, aman, dan bertanggung jawab.
Oleh:
Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Padjajaran
1. Murteza Irfani – 240210240001
2. Radithya Adinaka Ruhendi – 240210240064
Dosen Pengampu
Dr. rer. nat. Fetriyuna, S.TP., M.Si.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































