BOGOR – Di tengah melambungnya harga pakan pabrikan, para peternak lele skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dituntut untuk memutar otak agar usaha mereka tetap menghasilkan cuan. Salah satu kunci utama keberhasilan budidaya ikan kumis ini ternyata terletak pada bagaimana peternak mampu menekan nilai Feed Conversion Ratio (FCR) atau rasio konversi pakan.
Melihat fenomena ini, tim mahasiswa dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang (UNPAM) yang beranggotakan Ayu Nadia Sari, Gabriela Wompers, Jeanita Azhara, Muhammad Bagas S, dan Syahwal Adam F, melakukan penelitian mendalam di sentra budidaya lele Ciseeng, Kabupaten Bogor pada tahun 2026 ini.
Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa digitalisasi data manajemen harian menjadi resep instan yang sangat dibutuhkan peternak untuk menyiasati pembengkakan biaya produksi.
Jebakan “Feeling” dan Buku Log yang Basah
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di lapangan, sebagian besar peternak lele di Ciseeng mengelola ribuan hingga puluhan ribu ekor ikan per siklus (2-3 bulan) menggunakan kolam terpal atau air mani. Sayangnya, sistem tata kelola operasional mereka masih sangat tradisional.
“Banyak peternak yang masih mengandalkan intuisi atau perasaan visual dan ingatan saja. Pencatatan pun sebatas menulis tanggal tebar benih dan jumlah pakan di buku kertas konvensional,” ungkap perwakilan tim peneliti UNPAM.
Pola manual ini dinilai tidak efektif dan sangat berisiko. Di lingkungan kolam yang basah, lembaran buku log kertas sering kali rusak, robek, atau tulisannya luntur akibat cipratan air. Akibatnya, rekam jejak (history) performa budidaya dari siklus sebelumnya kerap hilang, sehingga peternak kesulitan melakukan evaluasi kinerja usaha secara objektif.
Tiga Dosa Besar Akibat Ketiadaan Data
Ketiadaan sistem pencatatan data yang terstruktur ini ternyata berdampak fatal pada pengelolaan dua sumber daya paling krusial: pakan dan air kolam. Tim penelitian mengidentifikasi tiga masalah utama di lapangan:
1. Inefisiensi Pakan (Overfeeding)
Tanpa data tertulis mengenai grafik pertumbuhan berat ikan, peternak memberikan pakan dengan dosis konstan hanya berdasarkan perkiraan visual. Hal ini memicu overfeeding (pemberian pakan berlebih). Pakan yang tidak termakan mengendap di dasar kolam, membuat nilai FCR membengkak, dan membuang sia-sia 20-30% anggaran pakan—padahal pakan adalah komponen biaya terbesar.
2. Pengelolaan Air yang Boros dan Reaktif
Parameter kualitas udara seperti pH (ideal 6,5 – 8) dan suhu (ideal 25-30°C) diukur secara rutin. Peternak biasanya baru sadar kualitas udara memburuk setelah ikan stres atau menggantung di permukaan akibat menumpuk amonia. Solusi yang diambil pun reaktif dan boros, yaitu langsung menguras udara secara total (100%). Padahal jika observasi lewat data, sirkulasi parsial (20-30%) saja sudah cukup untuk menstabilkan kondisi kolam.
3. Kalah Posisi Tawar dengan Tengkulak
Karena tidak ada data sampling bobot ikan yang teratur, peternak kesulitan memproyeksikan hitung mundur (countdown) hari panen yang presisi. Ketidakpastian ini sering dimanfaatkan oleh tengkulak untuk mempermainkan harga di pasar, yang akhirnya mencuri potensi keuntungan peternak.
*SIM Cetak Biru: Solusi Digital Ramah UMKM*
Sebagai solusi konkretnya, tim mahasiswa Universitas Pamulang merancang sebuah spesifikasi fungsional Sistem Informasi Manajemen (SIM) Budidaya Lele yang sederhana namun adaptif bagi peternak tradisional.
Sistem ini dirancang tidak muluk-muluk, melainkan fokus pada tiga fitur utama yang langsung menyelesaikan masalah di lapangan:
• Fitur Modul Kualitas Air: Berrupa input log harian untuk kadar pH dan suhu yang dilengkapi indikator warna otomatis (Hijau = Aman, Merah = Bahaya). Fitur ini memberikan peringatan dini (alert) kapan waktu optimal untuk melakukan sirkulasi udara parsial.
• Fitur Kalkulator FCR Otomatis: Berbentuk data pengisian pakan mingguan dibandingkan dengan hasil sampling bobot ikan untuk menampilkan skor FCR secara instan, sehingga peternak dapat mengerem pemberian pakan yang berlebihan.
• Fitur Dashboard Prediksi Panen: Menyajikan grafik tren pertumbuhan biomassa ikan yang dilengkapi estimasi hitung mundur menuju tanggal panen yang ideal (misal standar pasar berisi 8-10 ekor/kg).
Menuju Budidaya yang Berkelanjutan
Melalui intervensi teknologi yang ramah pengguna ini, para peternak lele UMKM diharapkan dapat segera bertransformasi dari pengambilan keputusan berbasis intuisi menjadi berbasis data (data-driven Decision).
Dengan menekan angka FCR dan mengoptimalkan penggunaan air, peternak tidak hanya berhasil mengantongi keuntungan lebih besar di tengah mahalnya pakan, tetapi juga ikut menjaga kelestarian lingkungan sekitar dari limbah organik kolam. Ke depan, tim peneliti berharap rancangan fitur ini dapat segera diimplementasikan menjadi aplikasi mobile utuh yang didukung oleh pendampingan intensif di lapangan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































