AI Makin Canggih, Kita Ketinggalan?
Pernah merasa ga sih ketika kamu mau lagi scroll di media sosial, lalu kamu menemukan banyak sekali hal yang tidak wajar dan terasa janggal? Baik foto yang kelihatan aneh, atau video yang Gerakannya tidak wajar. Nah bisa jadi itu adalah hasil dari kecerdasan buatan. Ya di era sekarang, AI sudah mampu membuat konten yang bahkan susah dibedakan dengan yang asli. Di Indonesia sendiri, kasus tentang mengenai penyebaran manipulatif berbasis AI sangat sering ditemukan, mulai dari foto public figure hingga video-video yang membuat masyarakat beranggapan bahwa hal itu nyata adanya. Masalahnya, kemampuan teknologi AI berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan kemampuan kita untuk mengenali dan menyikapinya.
Kecerdasan buatan generatif AI saat ini bisa menghasilkan foto, video hingga suara seseorang bahkan dari beberapa detik rekaman saja. Dahulu, foto dan video hanya bisa kita dapatkan dengan kerja keras dan dilakukan di studio besar, dengan peralatan mahal. Namun saat ini, video bisa kita dapatkan jauh lebih mudah dengan hanya mengetikkan prom saja di AI. Kecerdasaan AI berkembang yang berkembang sangat pesat, sayangnya tidak seimbang dengan pemahaman penggunanya. generasi tua yang tumbuh tanpa paparan teknologi dapat menjadi kelompok yang paling rentan untuk terkena manipulasi dari konten AI ini. Bukan karena mereka tidak cerdas, tetapi karena tidak ada yang memberitahu mereka cara membedakan mana yang nyata dan mana yang dibuat oleh AI (Sitompul et al., 2025).
Tidak Tau atau Tidak Peduli?
Salah satu bahaya yang jarang sekali disadari adalah soal privasi data. Ketika seseorang dengan santai mengunggah foto wajah keluarga mereka ke aplikasi AI untuk bermain-main atau hanya sekedar iseng, mereka tidak menyadari bahwa data wajah itu bisa disimpan, diproses, bahkan disalahgunakan. Rendahnya literasi digital membuat seseorang tidak mampu untuk menilai risiko dari informasi dan data yang mereka bagikan di ruang digital (Solihin, 2021). Wajah yang diunggah bisa saja dijadikan bahan deepfake, contohnya seseorang membuat video palsu menggunakan wajah kita sedang melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah kita lakukan. Wajah seseorang bisa dengan mudah ditempelkan ke video yang bahkan tidak pernah mereka rekam, dan banyak juga ditemukan penyalahgunaan wajah untuk memverifikasi identitas palsu. Ini merupakan sebuah ancaman yang nyata tapi tidak banyak yang menyadarinya sehingga membuatnya sangat berbahaya.
Fenomena lain yang juga sering ditemui khususnya dalam komunitas penggemar idol. Sebagian dari mereka menggunakan AI untuk mengedit foto mereka dengan sang idol dengan cara atau gaya yang melanggar privasi atau tidak sopan. Ketika penggemar lain mengingatkan bahwa hal itu salah, Sebagian dari mereka justru bersikap defensif. Fenomena ini bukan hanya sekedar masalah moral, melainkan juga masalah tentang bagaimana cara seseorang berpikir. Nguyen (2020) menyebut kondisi ini sebagai echo chamber yaitu fenomena dimana seseorang aktif menolak suara-suara dari luar yang bertentangan dengan keyakinannya.
Seorang filsuf prancis Francis Bacon (1620) sudah sangat lama memperingatkan bahwa pikiran manusia sesungguhnya dipenuhi dengan apa yang ia sebut “idola” yaitu kebiasaan untuk selalu membenarkan apa yang kita inginkan, dan menolak informasi yang bertentangan dengan keyakinan kita (Peltonen, 2025). Dalam konteks ini, para penggemar yang marah saat ditegur bukan berarti jahat atau tidak sopan, akan tetapi otak mereka secara alami menolak informasi yang mengancam sesuatu yang mereka cintai. AI memperparah hal ini karena hasilnya tampak begitu nyata sehingga semakin mudah untuk meyakinkan diri sendiri bahwa hal ini tidak sepenuhnya salah.
Ketika Semua Hal Terlihat Nyata
Lantas bagaimana seseorang akan mempertanyakan suatu hal, jika yang palsu dan yang asli saja sudah tidak dapat dibedakan secara mudah. Deepfake dan konten buatan AI menciptakan krisis verifikasi yang belum pernah kita hadapi sebelumnya. Di sinilah ilmu logika penyelidikan ilmiah menjadi sangat penting karena kita tidak lagi bisa langsung percaya pada tampilannya saja yang kelihatan nyata, akan tetapi kita juga perlu mencari tahu dan bertanya lebih jauh, seperti siapa yang membuat ini, untuk apa tujuannya, dan dari mana hal ini berasal.
Teknologi AI tidak akan pernah berhenti berkembang, dan melarang manusia menggunakannya juga bukan Solusi yang bagus, karena di satu sisi AI sangat membantu di beberapa bidang pekerjaan. Oleh karena itu, yang bisa kita lakukan adalah mengenalinya dan mencari tau cara menyikapinya dengan benar.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Edukasi adalah kunci pertama untuk mengenali dan menyikapi AI. Bukan hanya tentang edukasi bagaimana cara menggunakan teknologi saja, tapi juga edukasi bagaimana caranya berpikir kritis di tengah banjirnya informasi saat ini. Generasi muda saat ini sangat perlu diajari cara cara untuk tidak langsung percaya pada apa yang dilihat mereka, dan generasi yang lebih tua sangat perlu didampingi untuk memahami resiko yang sebelumnya tidak mereka kenali. Dalam hal ini, institusi pendidikan tinggi memiliki peran yang sangat penting untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan teknologi AI secara kritis dan bertanggung jawab (Rahmawati et al., 2025).
Kunci kedua dalam menyikapi hal ini adalah kesadaran diri masing-masing individu. Sebelum membagikan sesuatu, sebelum menggunakan wajah orang lain untuk diedit oleh AI, cobalah berfikir dahulu dan pelajari informasi yang kamu dapat, apakah sumbernya bisa dipercaya, apakah ada bukti yang jelas, atau apakah itu hanya klaim tanpa dasar. Jangan dengan mudah menyerahkan foto atau data pribadi ke aplikasi AI. Karena kita tidak tahu kedepannya ada bahaya apa yang menanti kita di kemudian hari. Satu foto yang kita unggah ke AI pada hari itu bisa saja menjadi bahan yang disalahgunakan di masa depan tanpa kita ketahui. Kemudian, hargailah privasi orang lain seperti bagaimana kamu menghargai privasimu sendiri. Menggunakan wajah atau identitas seseorang tanpa izin yang bersangkutan meskipun hanya sebagai candaan semata, tetap bisa berdampak pada mereka. Oleh karena itu, mulai sekarang bijaklah dalam menggunakan AI, bukan berarti anti teknologi, melainkan sadar bahwa setiap tindakan digital yang kita lakukan, mempunyai konsekuensi nyata terhadap hidup kita di masa depan.
Daftar Pustaka
Nguyen, C. T. (2020). Echo Chambers and Epistemic Bubbles. Episteme, 17(2), 141-161. https://doi.org/10.1017/epi.2018.32
Peltonen, M. (2025, December 2). Francis Bacon (Stanford Encyclopedia of Philosophy). Stanford Encyclopedia of Philosophy. Retrieved June 7, 2026, from https://plato.stanford.edu/entries/francis-bacon/
Rahmawati, A., Amirah, S. N., & Wijaya, N. (2025). Integrasi Kecerdasan Buatan dalam Pendidikan Tinggi Indonesia: Peluang, Tantangan, dan Kerangka Implementasi. Jurnal Teknologi Sistem Informasi, 6(1), 114-126. 10.35957/jtsi.v6i1.11329
Sitompul, B., Purba, S., Tamba, P. M., & Sianturi, F. (2025). Kemampuan Berpikir Kritis terhadap Literasi Digital Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(1), 10154-10161. https://doi.org/10.31004/jptam.v9i1.26241
Solihin, M. M. (2021). Hubungan Literasi Digital dengan Perilaku Penyebaran Hoaks pada Kalangan Dosen di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Pekommas, (Special Issue 2021), 91-103. 10.30818/jpkm.2021.2060309
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































