MALANG – Dahulu, interaksi di ruang akademik dibatasi oleh norma kesopanan dan formalitas yang kuat. Namun saat ini, batas-batas tersebut kian mengabur seiring masifnya penggunaan gawai. Fenomena ini tercermin ketika seorang dosen yang sedang beristirahat setelah seharian mengajar, tiba-tiba menerima pesan singkat yang hanya berisi huruf “P”, atau pesan panjang yang dikirim larut malam tanpa salam pembuka. Situasi seperti ini mungkin terkesan remeh, tetapi realitasnya cukup sering terjadi dalam komunikasi antara mahasiswa dan dosen. Berangkat dari pergeseran perilaku tersebut, muncul sebuah pertanyaan mendasar mengenai bagaimana etika komunikasi yang semestinya dijaga dalam lingkungan akademik.
Teknologi kini memberikan efisiensi ruang dan waktu yang luar biasa di kehidupan, terutama kehidupan akademik. Kita bisa berkomunikasi kapan saja, di mana saja. Sisi resahnya, kemudahan yang ditawarkan ini datang dengan harga kultural yang mahal. Terdapat perilaku-perilaku kecil yang sering dianggap sepele, tetapi sebenarnya menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap etika dan tanggung jawab dalam lingkungan akademik.
Saat tim mencoba meneliti perilaku ini lewat riset kecil di Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB), sebagian survei menunjukkan polanya nampak lebih jelas. Tidak sedikit mahasiswa yang tanpa sadar terkadang menyamakan dosen dengan teman sebaya di grup WhatsApp. Perihal waktu pengiriman pesan, kata yang dipilih, Bahkan, kebiasaan menyapa pun terkadang dilakukan tanpa memperhatikan norma kesopanan yang berlaku. Perbedaan antara urusan pribadi dosen dan kebutuhan mahasiswa kerap kabur, entah karena merasa dalam keadaan mendesak atau karena enggan meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan lebih sopan.
Hasil yang didapat dari riset Project Based Learning (PBL) kami memvalidasi pernyataan yang sama. Sebanyak 20 dari 28 mahasiswa yang menjadi responden kami, mengaku sering kali cara mereka mengobrol santai di media sosial terbawa begitu saja ke ranah formal akademik. Persoalan ini menjadi akut karena adanya fenomena pemakluman massal (social normalization). Saat 15 dari 28 responden memandang gaya komunikasi informal atau yang cenderung kurang sopan itu sebagai hal yang “biasa-biasa saja”, kontrol sosial di lingkungan kampus otomatis macet. Hal keliru yang dilakukan beramai-ramai oleh lingkungan sekitar akhirnya dianggap sebagai standar baru yang lumrah dan sah-sah saja untuk ditiru.

Retaknya Hubungan Profesional dan Fenomena Lepas Tangan
Dampaknya bukan hanya sekedar dosen yang merasa tersinggung secara personal. Selain perihal urusan ego, komunikasi yang asal-asalan ini berdampak pada kualitas interaksi akademik anjlok. Hal ini divalidasi oleh 24 dari 28 responden. Hubungan dosen dan mahasiswa yang idealnya terjalin melalui rasa hormat dalam lingkungan akademik perlahan berubah menjadi interaksi administratif yang kaku dan transaksional. Selain menyiaptakan ruang diskusi yang produktif dan nyaman, komunikasi digital yang buruk terkadang justru menyuburkan prasangka, memicu salah paham, dan merusak kenyamanan belajar-mengajar. Padahal, dunia profesional setelah lulus nanti menuntut fleksibilitas cara berkomunikasi sesuai konteks ruang sosialnya. Jika di kampus saja tidak dilatih, kapan lagi mereka akan belajar?

Memutus Normalisasi, Merajut Kembali Adab
Kita tentu tidak perlu menyalahkan teknologi dan membuangnya. Jawaban dari hal ini ada pada bagaimana kita mengarahkan kompas moral pengguna teknologi itu sendiri. Prinsip lama yang mulai usang : adab harus tegak berdiri sebelum ilmu, perlu untuk ditegaskan kembali. Pintar dalam artian akademik tidak berarti apabila minim empati. Langkah lain perlu diambil. Mayoritas dari responden kami (23 dari 28 orang) menyatakan setuju bahwa universitas tidak boleh hanya diam. Kampus butuh regulasi tegas serta panduan etika yang disosialisasikan secara masif agar tidak ada lagi normalisasi perilaku keliru ini. Dosen juga perlu untuk memposisikan diri sebagai teladan dan penegak batas professional . Perlakuan seperti penolakan membalas pesan tidak sopan serta mengedukasi letak kesalahannya menjadi rem terbaik khususnya bagi mahasiswa. Melalui kombinasi aturan yang tegas, peran kampus sebagai ruang intelektual yang mengutamakan kesantunan bisa diselamatkan.
Tentang Penelitian Ini
Penelitian ini merupakan bagian dari tugas akhir Mata Kuliah Pancasila, Program Studi Teknik Bioproses, Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem, dengan dosen pengampu Bapak Andi Setiawan, S.IP., M.Si. Survei dilaksanakan melalui Google Form pada tanggal 17-20 April 2026 dengan total 28 responden mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya.
Anggota Peneliti: Mercief Tesalonika, Nadhifa Nailatus Syarofah, Oriza Maysha, Raisha Nur Islami, Sanisa Aura Maharani.
Oleh : Tim Penulis Teknik Bioproses, Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem, Universitas Brawijaya | Malang, Juni 2026
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































