Indonesia telah mengalami banyak perubahan sejak masa penjajahan hingga era digital. Namun, jika kita membaca kembali kumpulan cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karya Idrus, muncul pertanyaan yang cukup menggelitik: benarkah masyarakat kita telah berubah sejauh itu? Berbagai persoalan yang digambarkan Idrus, mulai dari kemiskinan, ketimpangan sosial, krisis moral, hingga penderitaan rakyat kecil, masih menjadi bagian dari kehidupan Indonesia saat ini. Melalui karya-karyanya, Idrus seolah menghadirkan cermin yang memperlihatkan wajah masyarakat yang terus berganti zaman, tetapi tidak selalu berhasil menyelesaikan masalah yang sama.
Kemiskinan yang Masih Menjadi Persoalan
Salah satu kritik sosial yang sering muncul dalam karya Idrus adalah kemiskinan. Tokoh-tokoh dalam cerpennya digambarkan hidup dalam keterbatasan dan harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meskipun Indonesia telah mengalami pembangunan di berbagai sektor, persoalan kemiskinan belum sepenuhnya hilang. Masih banyak masyarakat yang kesulitan memperoleh pekerjaan layak, pendidikan berkualitas, dan akses terhadap layanan kesehatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan Idrus puluhan tahun lalu masih memiliki relevansi hingga sekarang.
Rakyat Kecil dan Ketimpangan Sosial
Idrus juga banyak menampilkan kehidupan rakyat biasa yang sering kali menjadi korban keadaan. Mereka tidak memiliki kuasa untuk mengubah sistem yang menekan kehidupan mereka.
Fenomena tersebut masih dapat ditemukan dalam kehidupan modern. Ketimpangan ekonomi antara kelompok kaya dan miskin masih menjadi tantangan besar. Sementara sebagian masyarakat menikmati kemajuan teknologi dan ekonomi, sebagian lainnya masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Situasi ini menunjukkan bahwa suara rakyat kecil yang diangkat Idrus belum sepenuhnya mendapatkan tempat dalam pembangunan.
Krisis Moral di Tengah Perubahan Zaman
Selain masalah ekonomi, karya Idrus juga menyoroti sisi moral manusia. Banyak tokoh dalam cerpennya dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang memperlihatkan egoisme, kepentingan pribadi, dan hilangnya kepedulian terhadap sesama.
Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, krisis moral dapat terlihat dari berbagai fenomena seperti korupsi, penyebaran hoaks, hingga rendahnya empati di ruang publik. Kemajuan teknologi ternyata tidak selalu diiringi dengan kemajuan karakter manusia. Inilah sebabnya karya Idrus tetap terasa dekat dengan kehidupan pembaca masa kini.
Mungkin inilah alasan mengapa karya Idrus tetap hidup hingga hari ini. Ia tidak hanya bercerita tentang masa lalu, tetapi juga mengingatkan bahwa perubahan zaman tidak selalu berarti perubahan masalah. Selama ketimpangan, kemiskinan, dan krisis kemanusiaan masih ada, selama itu pula kritik sosial Idrus akan terus menemukan relevansinya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































