Prokrastinasi akademik merupakan salah satu permasalahan yang masih sering dijumpai pada peserta didik. Banyak siswa yang mengerjakan tugas hingga mendekati batas waktu pengumpulan, meskipun mereka mengetahui bahwa kebiasaan tersebut dapat berdampak pada menurunnya prestasi belajar, meningkatkan stres, dan menurunnya kualitas hasil pekerjaan. Menurut Steel (2007) , prokrastinasi merupakan bentuk kegagalan regulasi diri (self-regulation failed ), yaitu kemampuan seseorang mengendalikan perilakunya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Artinya, prokrastinasi bukan sekadar rasa malas, tetapi berkaitan dengan bagaimana seseorang mengatur pikiran, emosi, dan perilakunya.
Salah satu teori yang relevan untuk memahami fenomena tersebut adalah teori Kesadaran yang dikemukakan oleh Baars (1997) . Teori ini menjelaskan bahwa kesadaran merupakan kemampuan individu untuk memahami apa yang sedang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan sehingga mampu mengambil keputusan secara tepat. Individu yang memiliki kesadaran diri yang baik akan lebih mudah menentukan prioritas, mengendalikan perilaku, dan menggunakan waktu secara lebih efektif. Dengan demikian, meningkatkan waktu kesadaran menjadi langkah awal dalam mengurangi kebiasaan menunda tugas.
Dalam perspektif Islam, konsep tersebut sejalan dengan Muraqabah , yaitu kesadaran bahwa Allah Swt. selalu melihat, mengetahui, dan mengawasi setiap aktivitas manusia. Kesadaran ini mendorong seseorang untuk bertanggung jawab terhadap setiap amanah, termasuk amanah dalam menuntut ilmu dan memanfaatkan waktu. Allah SWT. berfirman dalam Surah Al-‘Asr ayat 1–3 bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan kesabaran. Rasulullah saw. juga bersabda bahwa terdapat dua kenikmatan yang sering disia-siakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang (HR. Bukhari). Oleh karena itu
itu, mengelola waktu dengan baik bukan hanya menjadi kebutuhan akademik, tetapi juga bagian dari tanggung jawab spiritual seorang muslim.
Teori-teori tersebut semakin saya pahami ketika bersama tim melaksanakan psikoedukasi kesadaran waktu berdasarkan teori Kesadaran dan konsep Muraqabah di SMKN 3 Langsa pada tanggal 15 Juni 2026 yang diikuti oleh 22 siswa kelas XI . Sebelum kegiatan berlangsung, saya mengira bahwa penyebab utama siswa melakukan tugas hanyalah rasa malas. Namun, setelah sesi diskusi dimulai, saya menemukan bahwa penyebab prokrastinasi jauh lebih kompleks. Beberapa siswa mengaku lebih sering menghabiskan waktu bermain media sosial, menonton video, atau menunggu datangnya motivasi sebelum mulai mengerjakan tugas. Ada pula yang merasa takut salah sehingga memilih menunda pekerjaan.
Pengalaman tersebut membuat saya semakin yakin bahwa akar utama prokrastinasi bukan hanya kurangnya kemampuan mengatur waktu, tetapi juga rendahnya kesadaran terhadap cara mereka menggunakan waktu setiap hari. Ketika siswa diajak merefleksikan aktivitas hariannya, mereka mulai menyadari bahwa banyak waktu yang terbuang untuk aktivitas yang kurang produktif. Menurut saya, proses refleksi inilah yang menjadi bagian paling penting dalam psikoedukasi karena perubahan perilaku selalu diawali oleh munculnya kesadaran.
Selama kegiatan, materi tidak hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi juga melalui diskusi interaktif dan refleksi pengalaman sehari-hari. Pendekatan tersebut membuat siswa lebih aktif mengemukakan pendapat serta menghubungkan materi dengan pengalaman mereka sendiri. Saya melihat bahwa ketika teori psikologi dipadukan dengan nilai-nilai Islam, siswa lebih mudah memahami bahwa disiplin dalam belajar bukan sekadar tuntutan sekolah, melainkan juga bentuk tanggung jawab kepada Allah Swt.
Sebagai penguat dari pengalaman tersebut, hasil evaluasi menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pemahaman siswa setelah mengikuti psikoedukasi . Nilai rata-rata posttest lebih tinggi dibandingkan pretest, dan hasil Uji Wilcoxon Signed-Rank Test menunjukkan nilai p < 0,001 , yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara pemahaman siswa sebelum dan sesudah kegiatan. Temuan ini menunjukkan bahwa psikoedukasi yang diberikan mampu meningkatkan pengetahuan siswa mengenai kesadaran waktu dan pengendalian diri, meskipun tujuan utama kegiatan bukan hanya meningkatkan skor, tetapi juga membangun kesadaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut saya, keberhasilan sebuah psikoedukasi tidak hanya diukur dari hasil statistik, tetapi juga dari perubahan cara berpikir peserta. Melihat siswa mulai menyadari kebiasaan mereka sendiri, berpikir secara terbuka, dan berkomitmen untuk lebih menghargai waktu merupakan hasil yang jauh lebih bermakna daripada sekadar peningkatan nilai posttest.
Melalui pengalaman di SMKN 3 Langsa, saya semakin percaya bahwa mengurangi prokrastinasi tidak cukup hanya dengan mengajarkan teknik membuat jadwal belajar. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran diri ( self awareness ) , sehingga siswa memahami bahwa setiap waktu adalah amanah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Integrasi antara teori Kesadaran dan konsep Muraqabah menjadi pendekatan yang relevan untuk membantu peserta didik tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga secara moral dan spiritual. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang berprestasi, tetapi juga pribadi yang bertanggung jawab, disiplin, dan mampu menghargai waktu sebagai nikmat dari Allah Swt.
Penyusun
Oleh: Chelsea Mardatilla, Rizkal Jannah, Nurul Fazrina, Cut Putri Annisa, Nur Laila Mardiatillah
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































