Di sebuah kawasan di Jatisari, Cileungsi, Bogor, suara lantunan ayat suci Al-Qur’an berpadu dengan aktivitas belajar, olahraga, dan berbagai kegiatan pembentukan karakter. Di tempat itu, para santri tidak hanya menghafal ayat demi ayat, tetapi juga belajar memimpin, berorganisasi, berwirausaha, hingga menyiapkan diri menghadapi tantangan dunia modern.
Pemandangan tersebut menjadi gambaran dari cita-cita besar yang dibangun elTAHFIDH Indonesia. Sebuah lembaga pendidikan yang tidak sekadar berorientasi mencetak penghafal Al-Qur’an, tetapi berupaya melahirkan generasi pemimpin masa depan yang memiliki akhlak Qur’ani, wawasan kebangsaan, kemampuan akademik, serta daya saing global.
Di balik perjalanan itu berdiri sosok Dr. H. Jhon Edy Rahman, SH., M.Kn., pendiri sekaligus CEO elTAHFIDH Indonesia. Baginya, pendidikan bukan hanya tentang mengisi ruang kelas atau menambah angka kelulusan. Pendidikan adalah proses membangun manusia yang kelak mampu menjaga nilai-nilai agama sekaligus berkontribusi bagi bangsa.
“Generasi Qur’an bukan hanya generasi yang mampu menghafal ayat demi ayat. Mereka harus mampu memahami, mengamalkan, mendakwahkan, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan,” demikian ungkap Abi Jhon kepada Majalah Gontor.

Dimulai dari Cigombong Cijeruk berkembang di Jatisari Cileungsi
Perjalanan panjang elTAHFIDH Indonesia di mulai dari Cigombong Cijeruk dengan program pencetakan Dai Hafidz Al-Qur’an berakhlak Al-Qur’an memiliki kafa’ah syariah, berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berjiwa interprenuer, mandiri dan berijazah S1, visi inilah yang dari awal diusung, bersama para pendiri waktu itu Abi Dr. H. Jhon Edy Rahman, SH. M.Kn bersama Almarhum Bapak Ir. H. Ibnu Pratomo, KH. Dr. Muslih Abdul Karim, MA, Ir. Wimbo Hatdjito Sulistyo, M.Sc. dan beberapa tokoh nasional lainnya dalam lembaga dengan nama Salamah Li Tahfulzul Quran, harapannya akan mempunyai kader 8000 alumni yang berasal kecamatan dari seluruh Indonesia.
Tahun ke 2 pendirian yakni 2006 di mulai program sama di Jatisari dengan nama yang berbeda yang Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Nurul Fikri (PPTQNF), dengan tokoh yang berbeda Abi Dr. H. Jhon Edy Rahman, SH. M.Kn. bersama dengan Ustadz Drs. Suharna Surapranata, MT., Ustadz Musholi dan KH. Dr. Muslih Abdul Karim, MA. dengan beberapa tokoh lainnya.
Akhirnya program kaderisasi DaiHaifdz Al-Qur’an ini berkembang dengan payung organisasi dan lembaga dengan elTAHFIDH Indonesia menemukan jatidiri dan dapat berakselerasi dengan maksimal.
Pada.tahun 2014 mulai memperluas program dengan program SMP Qur’an elTAHFIDH, selanjutnya pada tahun 2016 program Daiyah Hafizh Al-Qur’an dengan program dan konsep yang sama dengan program Da’i Hafidz Al Quran tentunya.
Pada tahun yang sama juga didirikan SMA Qur’an elTAHFIDH dan SD Qur’an elTAHFIDH Fullday sebagai perluasan dari program pengkaderan Dai-yah Hafidh Al-Qur’an elTAHFIDH,dan pada tahun 2022 berdiri SMP dan SMA Qur’an elTAHFIDH Fullday.
Di Simalungun Siantar berdiri SMA dan SMP Qur’an elTAHFIDH, serta di Riau dengan cover lembaga yang berbeda, program sama.
Pendidikan yang Tidak Berhenti pada Hafalan
Bagi banyak orang, pendidikan tahfiz sering kali identik dengan target hafalan Al-Qur’an. Namun di elTAHFIDH Indonesia, hafalan justru dipandang sebagai fondasi awal.
Abi Jhon meyakini bahwa Al-Qur’an harus menjadi sumber pembentukan cara berpikir, cara memimpin, dan cara hidup. Karena itu, pendidikan di elTAHFIDH dibangun melalui tiga pilar utama yang berjalan secara terpadu. Pilar pertama adalah Pendidikan Al-Qur’an, Pilar kedua adalah Pendidikan Akademik dan Pilar ketiga adalah Character Building.
“Kecerdasan tanpa karakter akan melahirkan berbagai persoalan sosial. Sebaliknya, karakter yang baik harus ditopang oleh ilmu dan wawasan yang memadai agar mampu memberikan manfaat yang luas bagi Masyarakat,” tutur Abi Jhon.
Dari Ruang Kelas hingga Lapangan Kepemimpinan
Di lingkungan elTAHFIDH, pendidikan kepemimpinan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembinaan santri. Pendekatan ini dilakukan karena elTAHFIDH tidak ingin hanya melahirkan lulusan yang unggul secara akademik. Tapi juga menyiapkan calon pemimpin formal maupun informal yang mampu hadir di tengah masyarakat sebagai penggerak perubahan.
Pembentukan karakter juga dilakukan melalui berbagai aktivitas olahraga yang memiliki nilai pendidikan tinggi. Taekwondo, berkuda, memanah, dan renang menjadi bagian dari keseharian para santri. Lembaga ini juga berhasil mencetak 308 santri bersabuk hitam Taekwondo
Bahkan, elTAHFIDH Indonesia membentuk organisasi khusus seperti Organisasi Taekwondo Penghafal Al-Qur’an Indonesia (PPTEI), Organisasi Renang Penghafal Al-Qur’an Indonesia (PPREI), serta Organisasi Berkuda dan Memanah Penghafal Al-Qur’an Indonesia (PPBMEI).
Prestasi yang Tumbuh dari Proses Panjang
Hasil dari sistem pendidikan yang terintegrasi tersebut mulai terlihat melalui berbagai capaian yang berhasil diraih elTAHFIDH Indonesia. Hingga saat ini, lembaga ini telah melahirkan 1.219 hafidz dan hafidzah Al-Qur’an 30 juz.
Tidak hanya itu, terdapat 145 hafidz dan hafidzah penerima sanad tajwid Matan Al-Jazary, sebuah capaian yang menunjukkan kualitas pembelajaran Al-Qur’an yang dijalankan.
Lebih lanjut, elTAHFIDH juga telah melahirkan 2 hafidz dan hafidzah penerima sanad hafalan Al-Qur’an Riwayat Hafsh ‘An ‘Ashim, sebuah prestasi yang membutuhkan proses pembinaan yang sangat ketat dan mendalam.
Alumni yang Menyebar ke Berbagai Penjuru
Salah satu indikator keberhasilan sebuah lembaga pendidikan adalah jejak alumninya. Dalam beberapa tahun terakhir, lulusan SMA Qur’an elTAHFIDH berhasil melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi negeri favorit di Indonesia. Sebagian lainnya menempuh pendidikan di tingkat internasional, termasuk di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, serta sejumlah perguruan tinggi di Turki.
Saat ini, kader dai dan da’iyah lulusan elTAHFIDH telah tersebar di 22 provinsi dan 103 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Mereka hadir sebagai penggerak dakwah, pendidik, pembina masyarakat, sekaligus agen perubahan sosial di daerah masing-masing.
“Jaringan inilah yang menjadi bagian dari visi besar elTAHFIDH untuk membangun pusat-pusat dakwah dan penguatan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia,” ungkapnya.
Membangun Ekosistem Kemandirian
Menariknya, elTAHFIDH Indonesia tidak hanya bergerak di sektor Pendidikan. Dalam pandangan Abi Jhon, dakwah yang berkelanjutan membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat. Karena itu, lembaga ini juga mengembangkan berbagai unit usaha dan pemberdayaan ekonomi umat.
Di antaranya melalui Koperasi PQE yang bergerak di bidang katering, laundry, minimarket, dan kebutuhan rumah tangga. Selain itu terdapat Koperasi PQI yang mengelola sektor properti dan kebutuhan elektronik.
elTAHFIDH juga memiliki lembaga ZISWAF, perusahaan kontraktor dan pembangunan, serta berbagai unit usaha lain yang mendukung keberlanjutan program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan, dakwah, dan ekonomi dipandang sebagai tiga unsur yang saling melengkapi. Pendidikan melahirkan sumber daya manusia berkualitas, dakwah membangun nilai, sementara ekonomi menjadi penopang keberlanjutan gerakan
Menjangkau Nusantara, Menyemai Harapan
Dari pusatnya di Bogor, jaringan elTAHFIDH kini terus berkembang ke berbagai daerah. Cabang-cabang telah hadir di Sleman, Sidoarjo, Tarakan, Karanganyar, Dayeuh, Cileungsi Kidul, Jatisari, Cipeucang, hingga Simalungun.
Melalui berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Daycare, Pra PAUD, PAUD Humairoh elTAHFIDH, SD Qur’an elTAHFIDH, SMP Qur’an elTAHFIDH, SMA Qur’an elTAHFIDH, hingga Program Da’i/Da’iyah Hafal Qur’an di STIT elTAHFIDH, lembaga ini berupaya menghadirkan jalur pendidikan yang berkesinambungan dari usia dini hingga perguruan tinggi.
Menyongsong Indonesia Emas 2045
Bangsa yang besar membutuhkan generasi yang cerdas, tetapi juga berakhlak. Generasi yang menguasai teknologi, tetapi tetap memiliki kompas moral. Generasi yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas keislaman dan kebangsaannya.
Menurut Abi Jhon, membangun peradaban selalu dimulai dari pendidikan. Dan pendidikan yang mampu mengintegrasikan Al-Qur’an, ilmu pengetahuan, karakter, serta kepemimpinan akan melahirkan generasi yang bukan hanya sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu membawa perubahan bagi umat dan bangsa.
Di tengah berbagai tantangan zaman, ikhtiar itu terus berjalan dari Jatisari. Dari ruang-ruang kelas, masjid, lapangan olahraga, hingga berbagai daerah di Nusantara. Sebuah ikhtiar panjang untuk melahirkan generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas kehidupan dan menjadikan pengabdian sebagai jalan perjuangan.
Karena pada akhirnya, sebagaimana diyakini Dr. H. Jhon Edy Rahman, generasi Qur’an bukan sekadar penjaga hafalan. Mereka adalah penjaga masa depan peradaban. [Fathurroji]
Sumber : Majalah Gontor, edisi khusus Juli 2026
Liputan tentang elTAHFIDH Indonesia “Dari Jatisari, elTAHFIDH Indonesia Ikhtiar Bangun Generasi Emas 2045”
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































