Grobogan – Hama tikus merupakan salah satu ancaman utama bagi sektor pertanian karena dapat menyebabkan kerusakan tanaman dan menurunkan hasil panen. Untuk mendukung upaya pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) GIAT 16 Desa Tanjungharjo menyelenggarakan program Edukasi dan Demonstrasi Pengendalian Tikus Menggunakan Bioyoso pada Jumat (17/7/2026). Program ini sejalan dengan upaya pencapaian pada poin ke-2 SDG’s (Desa Tanpa Kelaparan) melalui penjagaan produktivitas pertanian, sekaligus poin ke-15 SDG’s (Desa Peduli Lingkungan Darat) melalui pengenalan metode pengendalian hama berbahan alami yang lebih ramah lingkungan.
Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–15.30 WIB ini dilaksanakan di rumah salah satu anggota Kelompok Tani, Bapak Rosyid, Dusun Geritan. Program tersebut diikuti oleh anggota Kelompok Tani serta dihadiri oleh perwakilan Dinas Pertanian sebagai bentuk kolaborasi dalam mendukung peningkatan pengetahuan petani mengenai pengendalian hama tikus.
Bioyoso merupakan salah satu alternatif pengendalian tikus berbahan alami yang diperkenalkan kepada masyarakat sebagai upaya untuk mengurangi dampak serangan hama tanpa mengesampingkan aspek kelestarian lingkungan. Melalui program ini, mahasiswa UNNES GIAT 16 Desa Tanjungharjo memberikan edukasi mengenai manfaat Bioyoso, bahan yang digunakan, cara pembuatan, hingga teknik aplikasinya di lahan pertanian.
Kegiatan diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan oleh pembawa acara dan sambutan dari Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Sebelum memasuki sesi materi, seluruh peserta mengerjakan pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal mengenai Bioyoso sebagai media pengendalian hama tikus.
Pada sesi inti, mahasiswa UNNES GIAT 16 Desa Tanjungharjo menyampaikan materi mengenai konsep Bioyoso beserta manfaatnya dalam mendukung pengendalian hama tikus. Penyampaian materi kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi penggunaan Bioyoso yang dipandu bersama perwakilan Dinas Pertanian. Demonstrasi ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung proses aplikasi Bioyoso sekaligus berdiskusi mengenai penerapannya sesuai dengan kondisi lahan pertanian yang dimiliki.
Antusiasme peserta tampak selama kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan disampaikan terkait efektivitas Bioyoso, cara penggunaan yang tepat, hingga pengalaman petani dalam mengatasi serangan hama tikus. Diskusi yang berlangsung dua arah ini menunjukkan tingginya minat peserta terhadap inovasi yang diperkenalkan.
Sebagai bentuk evaluasi, peserta kembali mengerjakan post-test setelah seluruh materi dan demonstrasi selesai. Berdasarkan hasil evaluasi, kegiatan berjalan dengan baik, meskipun sebagian peserta menganggap jumlah soal pada pretest dan posttest cukup banyak. Untuk mempermudah proses evaluasi, pemateri membacakan setiap butir soal sehingga peserta dapat memahami pertanyaan dengan lebih baik.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa UNNES GIAT 16 Desa Tanjungharjo berharap Bioyoso dapat menjadi salah satu alternatif pengendalian tikus yang mudah diterapkan oleh petani serta mendukung terciptanya sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Sinergi antara mahasiswa, Kelompok Tani, dan Dinas Pertanian diharapkan dapat terus menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan produktivitas pertanian di Desa Tanjungharjo.
Artikel ini disusun oleh Tim Universitas Negeri Semarang (UNNES) GIAT 16 Desa Tanjungharjo sebagai bagian dari publikasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kabupaten Grobogan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































