Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Devan Aryadi, Mahasiswa Universitas Bangka Belitung Bahwasannya Jika kita mengamati kehidupan bermasyarakat di sekitar kita, satu hal yang hampir selalu kita temukan adalah adanya garis pemisah antar kelompok. Ada orang-orang yang lahir dengan kemudahan luar biasa hanya karena latar belakang keluarganya, sementara ada kelompok lain yang harus berjuang setengah mati hanya untuk mendapatkan hak paling dasar sebagai manusia. Dalam sosiologi, pembagian masyarakat ke dalam tingkatan-tingkatan hirarkis ini disebut sebagai stratifikasi sosial.
Di balik kisah petualangan lautnya yang seru, One Piece sebenarnya sedang memperlihatkan secara tidak langsung bagaimana sebuah tatanan sosial yang timpang diciptakan dan dipelihara. Di puncak piramida sosial dunia tersebut, duduk kelompok elit yang menyebut diri mereka Tenryuubito atau Naga Langit. Mereka adalah keturunan dari para pendiri tatanan dunia saat ini. Dalam sudut pandang sosiologi, kelompok elit ini menikmati apa yang disebut sebagai status yang diwariskan sebuah keistimewaan yang didapat murni karena kelahiran, bukan karena usaha, bakat, atau kontribusi nyata bagi masyarakat.
Ketimpangan ini dibuat sedemikian ekstrem oleh sang kreator, Eiichiro Oda. Kaum elit ini berjalan menggunakan gelembung udara khusus agar tidak perlu menghirup udara yang sama dengan rakyat biasa, yang mereka anggap sebagai makhluk kelas bawah. Ketika kaum elit lewat, warga biasa dipaksa berlutut dan menunduk. Jika ada yang berani menatap mata mereka atau tidak sengaja menghalangi jalan, hukuman mati bisa langsung dijatuhkan di tempat. Keberadaan kaum elit ini menunjukkan bentuk paling murni dari ketimpangan kelas, di mana hukum dibuat bukan untuk melindungi seluruh warga, melainkan untuk menjaga kenyamanan kelompok yang berada di puncak piramida.
Namun, sosiologi tidak hanya bicara tentang perbedaan ekonomi atau status, melainkan juga tentang bagaimana perbedaan fisik atau asal-usul digunakan untuk melanggengkan penindasan. Hal ini terlihat sangat jelas dalam dinamika ras Manusia Ikan. Ras Manusia Ikan dalam One Piece mengalami apa yang dinamakan dengan rasisme sistemik, yaitu sebuah kondisi di mana prasangka dan diskriminasi tidak hanya dilakukan oleh individu nakal, tetapi telah menyusup ke dalam aturan, hukum, dan kebiasaan lembaga-lembaga resmi.
Selama bertahun-tahun, Manusia Ikan diperlakukan bukan sebagai sesama warga dunia, melainkan sebagai makhluk tingkat rendah yang layak diburu, dijual, dan dijadikan budak oleh para elite. Diskriminasi yang berlangsung turun-temurun ini menghasilkan trauma kolektif pada masyarakat Manusia Ikan. Di sinilah cerita ini menjadi sangat manusiawi dan sosiologis dengan Oda menunjukkan bahwa ketidakadilan sistemik akan selalu melahirkan respons sosial dari kelompok yang tertindas.
Respons tersebut terbelah menjadi beberapa arah. Ada pahlawan seperti Ratu Otohime yang memperjuangkan integrasi sosial yang percaya bahwa perubahan bisa dicapai lewat jalur edukasi, diplomasi, dan pengampunan. Ada pahlawan seperti Fisher Tiger yang memilih jalur perlawanan fisik untuk membebaskan para budak dari cengkeraman penguasa. Dan yang paling tragis, ada karakter seperti Arlong, yang merupakan produk dari kebencian sistemik itu sendiri. Arlong akhirnya melahirkan rasisme balik ia membenci seluruh ras manusia karena trauma masa lalu yang ia saksikan.
Di tengah struktur sosial yang begitu kaku dan melukai ini, hadir kelompok Topi Jerami yang dipimpin oleh Luffy. Hal yang menarik dari kelompok ini adalah bagaimana mereka membentuk miniatur masyarakat yang ideal. Di dalam kapal mereka, tidak ada perbedaan berdasarkan status sosial, ras, atau latar belakang masa lalu. Seorang arkeolog yang diburu negara, seorang manusia ikan, seorang cyborg, hingga seekor rusa kutub yang bisa berbicara, semuanya duduk di meja makan yang sama dengan hak yang setara. Kelompok ini mempraktikkan apa yang disebut sosiolog sebagai solidaritas berbasis kesetaraan, di mana ikatan sosial dibangun atas dasar rasa saling percaya dan empati, bukan karena paksaan struktur atau kesamaan ras.
Melalui penggambaran ini, One Piece menyampaikan pesan sosiologis yang sangat kuat kepada kita sebagai penikmatnya. Ini mengingatkan bahwa rasisme, ketimpangan ekonomi, dan kesewenang-wenangan elit bukanlah takdir yang harus diterima begitu saja. Hal-hal tersebut adalah hasil buatan manusia dan sebuah konstruksi sosial yang diciptakan oleh mereka yang ingin mempertahankan kekuasaan. Dan karena hal itu adalah buatan manusia, maka tatanan yang tidak adil tersebut selalu bisa diubah, dibongkar, dan dilawan oleh siapa saja yang berani memperjuangkan kesetaraan dan kebebasan hakiki.
Ditulis Oleh: Devan Aryadi, Mahasiswa Universitas Bangka Belitung
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































