MEDAN – Gelombang inovasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) kini tengah mendisrupsi berbagai sektor profesional, menuntut kemampuan adaptasi yang cepat, tak terkecuali di bidang Hubungan Masyarakat (Humas). Merespons dinamika yang kian kompleks tersebut, akademisi sekaligus peneliti, Rahmawan Cibro, S.Kom.,M.I.Kom. menyajikan sebuah riset krusial bertajuk “Strategi Komunikasi Hubungan Masyarakat dalam Mempertahankan Citra dan Kepercayaan Publik di Era Kecerdasan Buatan (AI).”
Penelitian ini hadir sebagai jawaban di tengah persimpangan industri komunikasi modern. Di satu sisi, kehadiran AI menjanjikan lompatan efisiensi yang luar biasa—mulai dari otomatisasi pembuatan konten hingga pemetaan sentimen publik secara real-time. Namun di sisi lain, teknologi ini memicu rentetan ancaman baru seperti masifnya penyebaran misinformasi dan deepfake, yang berpotensi meruntuhkan pilar paling berharga bagi setiap institusi: kepercayaan publik.
Menariknya, pisau analisis Rahmawan dalam riset ini menjadi sangat tajam berkat latar belakang akademisnya yang lintas disiplin. Sebagai alumni program Sarjana (S1) dari STMIK Budi Darma (kini Universitas Budi Darma) Medan, ia dibekali pemahaman fundamental mengenai sistem informasi, komputasi, dan algoritma teknologi. Keahlian teknis tersebut kemudian dilebur secara apik dengan kecakapan strategis komunikasi yang ia asah saat merampungkan studi Magister (S2) di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
Perpaduan keilmuan ini memungkinkan Rahmawan untuk membedah isu disrupsi AI secara komprehensif, tidak hanya dari kacamata infrastruktur teknologi, tetapi juga dari sudut pandang sosiologi komunikasi.
Melalui kajiannya, Rahmawan menegaskan bahwa praktisi Humas masa kini tak bisa lagi sekadar menjadi pengguna pasif. Strategi komunikasi dituntut untuk berevolusi secara radikal. AI, menurut temuan riset ini, idealnya diposisikan sebatas instrumen taktis atau co-pilot dalam operasional kehumasan. Sementara itu, elemen krusial seperti empati, pertimbangan etis (ethical judgement), dan autentisitas harus tetap menjadi otoritas mutlak manusia yang tak bisa direplikasi oleh mesin mana pun.
Lebih jauh, riset ini menggarisbawahi perlunya transparansi ekstra dari lembaga. Di era di mana batas antara informasi organik dan rekayasa digital semakin kabur, mempertahankan reputasi bukan sekadar unjuk citra searah. Humas harus mampu memitigasi krisis secara gesit dengan pendekatan yang bertumpu pada nilai-nilai kemanusiaan.
Kajian strategis dari Rahmawan Cibro ini diharapkan mampu menjadi kompas navigasi bagi kalangan akademisi, instansi pemerintahan, hingga korporasi swasta. Sebuah panduan penting tentang bagaimana memeluk kemajuan teknologi secara optimal, tanpa sedikit pun mengorbankan integritas dan kredibilitas di mata publik.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































