Kamis, 19 Maret 2026 menjadi hari yang cukup mengejutkan bagi dunia pertahanan global. Iran tiba-tiba mengumumkan bahwa mereka berhasil menggugurkan jet tempur siluman F-35 milik Amerika Serikat tepat di wilayah perbatasan Iran-Irak. Jika memang demikian adanya, maka ini bukan sekadar kemenangan militer biasa. Ini adalah tamparan telak bagi anggapan bahwa pesawat siluman sekelas F-35 nyaris tak tersentuh.
Menariknya, keberhasilan itu bukan datang dari radar konvensional, melainkan dari perpaduan radar pasif Ghadir-Sepehr dengan sensor elektro-optik dan inframerah, atau yang dikenal sebagai EO/IR. Memang betul, F-35 dirancang untuk lolos dari deteksi radar elektromagnetik serta memiliki performa yang sangat andal dalam urusan tersebut. Namun, terdapat celah teknis yang nyaris mustahil ditutupi, yakni jejak termal mesin yang terpancar kuat pada spektrum inframerah 8–12 μm. Kelemahan itulah yang rupanya dimanfaatkan Iran untuk mengarahkan rudal Khordad-15 dan Bavar-373 mengunci target dengan presisi. Celah ini sebenarnya bukan hal baru, dimana para analis militer sudah lama menyorotinya. Keberhasilan Iran di bawah tekanan berat sanksi dunia adalah bukti nyata bahwa mereka tidak main-main soal urusan mandiri di bidang teknologi militer
Sebagai mahasiswa Teknik Elektronika, kejadian ini membuka perspektif baru yang sayang kalau dilewatkan begitu saja. Saya justru ingin mengaitkannya dengan Pancasila, tepatnya Sila ke-3: Persatuan Indonesia. Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas, dengan titik-titik rawan seperti Selat Malaka dan Papua yang kerap menjadi perhatian dari sisi kedaulatan udara. Saya yakin pengawasan perbatasan kita bakal jauh lebih tangguh kalau kita serius menggarap sistem EO/IR yang memadukan teknologi FPA uncooled dengan kecerdasan machine learning. Kalau Iran saja bisa mandiri dengan memproduksi komponennya sendiri, saya optimis Indonesia pun mampu asalkan lembaga riset seperti BRIN dan kampus-kampus teknik kita mau duduk bareng dan benar-benar bersinergi. Kemandirian seperti itu bukan cuma soal hemat devisa, tapi soal harga diri dan persatuan bangsa.
Di sisi lain, saya juga tidak ingin menutup mata terhadap risiko yang menyertainya. Kalau kita bicara Sila ke-2, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, ada pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur: apakah kemajuan teknologi semacam ini otomatis membawa kebaikan? Melihat bagaimana konflik di Timur Tengah berkembang, saya justru khawatir bahwa semakin canggih sistem deteksi dan persenjataan, semakin mudah pula terjadi konflik yang tak terkendali. Karena itu, saya berpendapat penerapan EO/IR di Indonesia harus benar-benar dibatasi pada fungsi pertahanan yang bersifat defensive dan bukan sebagai alat agresi. Bagi saya, nilai Pancasila yang mengutamakan harmoni dan kebersamaan wajib menjadi landasan, agar teknologi ini tidak salah arah jika akan dikembangkan di masa depan.
Lebih jauh lagi, saya pikir teknologi ini tidak seharusnya berhenti di ranah militer. Sila ke-5 mengingatkan kita soal keadilan sosial, yang dimana manfaat teknologi sudah seharusnya bisa dirasakan hingga ke pelosok negeri ini. Bayangkan jika sensor inframerah yang sama dipakai untuk mendeteksi titik api kebakaran hutan lebih awal, atau memantau kondisi irigasi di lahan pertanian terpencil. Ini bukan mimpi yang terlalu jauh; ini soal pilihan prioritas dan kemauan politik.
Secara pribadi, banyak sudah mahasiswa dan teknisi kita yang mencoba mensimulasikan konsep EO/IR seeker versi lokal menggunakan MATLAB dan tools FLIR. Hasilnya cukup menjanjikan, terutama jika kita mau mengembangkan temuan hbaru dalam bidang pertahanan, yang dimana penggunaan open-source DSP, edge AI, dan FPA berbiaya rendah terbukti efektif untuk mengendus pergerakan drone maupun swarm di perbatasan. Tentu ini masih simulasi awal, tapi setidaknya memberi gambaran bahwa langkah itu bukan sesuatu yang mustahil bagi Indonesia.
Pada akhirnya, kasus Iran ini mengingatkan saya bahwa ilmu elektronika bukan sekadar urusan gelombang dan rangkaian di atas papan sirkuit. Di tangan yang tepat, dengan niat yang benar, teknologi bisa menjadi wujud nyata dan tetap berpedoman terhadap nilai-nilai luhur bangsa. Dari ruang laboratorium kampus hingga lapangan nyata di perbatasan, semoga kita bisa bersama-sama membangun ketahanan nasional yang tangguh, yang tidak pernah lepas dari jiwa Pancasila sebagai akarnya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































