Belakangan ini masyarakat kembali dipaksa untuk menghadapi kenyataan yang semakin berat. Rupiah melemah, harga kebutuhan naik, biaya hidup semakin terasa mahal, sementara berita soal korupsi terus datang silih berganti. Beberapa waktu lalu, nilai tukar rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.600 per dolar AS, merupakan salah satu titik terlemah sepanjang sejarah Indonesia.
Di tengah keresehan ini, publik justru dikejutkan dengan pernyataan Presiden Prabowo yang mengatakan bahwa “rupiah begini rupiah begitu, dolar begini, orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok”. Pernyataan itu tentu langsung mengundang perhatian masyarakat luas, bahkan ke negara tetangga. Banyak pro dan kontra disini, ada yang mengatakan itu hanya sekedar candaan untuk menghibur masyarakat, dan ada yang mengatakan statement itu justru memperlihatkan bagaimana kualitias pemimpin kita, ucapan tersebut dinilai memperlihatkan sejauh apa para elite negara dari kehidupan rakyat kecil, muncul kesan bahwa pemerintah mulai kehilangan kepekaan terhadap keresahan masyarakat. Ketika masyarakat sibuk mencari cara untuk bertahan ditengah ekonomi yang semakin sulit, justru mereka malah mendengar pernyataan yang rasanya sangat berbanding terbalik dengan kehidupan sehari-hari mereka saat ini.
Pelemahan rupiah memang dipengaruhi oleh banyak faktor global, mulai dari tingginya suku bunga Amerika Serikat, konflik geopolitik dunia, hingga ketidakpastian ekonomi internasional. Namun seperti biasa, yang paling merasakan dampaknya tentu masyarakat kecil, Ketika dolar naik, biaya impor ikut naik. Sementara Indonesia memang masih bergantung pada banyak barang impor, mulai dari bahan baku industri, energi, sampai kebutuhan pangan tertentu. Akibatnya, harga barang di dalam negeri ikut terdorong naik, balik lagi, yang paling merasakan tentu masyarakat menegah kebawah dan pelaku UMKM.
Belakangan ini banyak pelaku usaha kecil yang mengeluhkan naiknya harga plastik, bahkan kenaikannya mencapai 30% hingga 60% dari biasanya. Pelaku usaha sedang dihadapkan dengan posisi yang sulit, biaya produksi membengkak, sementara daya beli masyarakat menurun, kalau harga dinaikkan pembeli berkurang, jika dipertahankan keuntungan juga semakin tipis. Artinya, dampak dari dolar itu nyata sampai ke rakyat kecil, wajar jika publik merasa sangat marah terhadap statement dari Presiden Prabowo, karna ucapannya memang sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada di lapangan.
Selanjutnya, ditengah keadaan yang semakin sulit, masyarakat sibuk memikirkan harga kebutuhan hidup, yang makin menyakitkan adalah publik terus disuguhi berita korupsi yang silih berganti setiap harinya. Rakyat diminta sabar menghadapi tekanan ekonomi ditengah situasi global, di sisi lain para elite justru tampak nyaman menikmati kekuasaan di dalam negeri. Korupsi akhirnya bukan sekedar persoalan hukum, korupsi adalah alasan kenapa masyarakat mulai kehilangan rasa percaya terhadap negara. Ketika rakyat diminta hidup hemat, sementara para pejabat hidup mewah dengan kasus korupsi yang terus berulang, yang tumbuh bukan optimisme, melainkan kekecewaan, rasa sinis, dan hilangnya kepercayaan terhadap pemerintah.
Pemerintah memang terus mengatakan bahwa ekonomi Indonesia masih kuat dibanding negara lain. Presiden Prabowo juga sempat mengatakan dalam pidatonya bahwa “pangan aman, energi aman, banyak negara panik, Indonesia masih oke”. Namun, masyarakat tidak hidup dari angka petumbuhan ekonomi atau pidato optimisme, kenyataannya rakyat hidup dari harga sembako, biaya sekolah anak, biaya transportasi, dan penghasilan bulanan yang semakin sempit ditengah harga yang terus melambung tinggi.
Pemerintah memang tidak bisa mengendalikan seluruh kondisi ekonomi global, Namun Pejabat publik seharusnya bisa lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan kepada masyarakat. Ditengah situasi ekonomi yang sulit, rakyat tidak membutuhkan empati, kepekaan, atau bahkan ucapan yang justru terasa meremehkan keresehan mereka. Seharusnya pemerintah bisa memastikan bahwa rakyat tidak dibiarkan menghadapi tekanan ekonomi sendirian, masyarakat perlu mendapat perlindungan nyata, bukan hanya sekedar janji atau slogan.
Rakyat Indonesia sebenarnya sudah terbiasa hidup dalam keadaan sulit, namun yang membuat keadaan terasa semakin berat adalah ketika rakyat tengah berjuang mati-matian, sementara mereka yang punya kekuasaan terlihat tidak benar-benar memahami apa yang dirasakan masyarakat. Pemberantasan korupsi harus dilakukan secara serius tanpa pandang bulu, karna yang melemah hari ini bukan cuma rupiah, namun yang perlahan juga ikut melemah adalah kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Pada akhirnya, rakyat sebenarnya tidak menuntut hidup mewah. Masyarakat hanya ingin kebutuhan tetap terjangkau, pekerjaan tetap ada, dan pemerintah benar-benar peduli terhadap keadaan yang sedang mereka rasakan. Karna bagi rakyat kecil, naiknya dolar bukan hanya sekedar berita ekonomi, tetapi sesuatu yang langsung terasa nyata pada kehidupan sehari-hari mereka. Melihat kasus korupsi yang terus silih berganti seolah tidak pernah selesai, yang hilang bukan hanya kestabilan ekonomi, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan negara.
Ditulis Oleh : Fanisya Dwi Ananda
Program Studi Ilmu Adminstrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Andalas
Email: fanisyadwiannd@gmail.com
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































