Pernahkah kita merasa sulit membaca buku dalam waktu lama? Atau tanpa sadar membuka ponsel berkali-kali meskipun tidak ada pesan penting? Kebiasaan berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, menonton video pendek tanpa henti, atau merasa cepat bosan saat belajar bisa menjadi tanda bahwa otak mulai terbiasa dengan distraksi digital. Fenomena ini dikenal dengan istilah popcorn brain.
Laporan Digital 2025: Indonesia dari DataReportal mencatat bahwa pada awal tahun 2025 terdapat sekitar 212 juta pengguna internet di Indonesia, dengan tingkat penetrasi internet sebesar 74,6%. Laporan yang sama juga menunjukkan adanya sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Januari 2025. Data ini menunjukkan bahwa masyarakat, termasuk pelajar, hidup sangat dekat dengan dunia digital dan paparan informasi yang datang secara cepat serta terus-menerus. (DataReportal – Global Digital Insights)
Istilah popcorn brain diperkenalkan oleh David Levy, peneliti dari University of Washington. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika pikiran terlalu terbiasa dengan aktivitas digital yang cepat dan multitasking, sehingga kehidupan nyata yang lebih lambat terasa kurang menarik. Dengan kata lain, perhatian seseorang mudah “meletup-letup” dan berpindah seperti popcorn yang sedang dimasak.
Dalam kehidupan pelajar, popcorn brain dapat terlihat dari kebiasaan sulit fokus saat membaca, cepat bosan ketika mendengarkan penjelasan guru, sering mengecek gawai saat belajar, atau merasa gelisah ketika tidak membuka media sosial. Otak yang terlalu sering menerima rangsangan cepat akan terbiasa mencari hiburan instan. Akibatnya, kegiatan yang membutuhkan ketekunan, seperti membaca buku, mengerjakan soal, menulis esai, atau menghafal materi, terasa lebih berat.
Fenomena ini tentu menjadi tantangan dalam dunia pendidikan. Belajar tidak hanya membutuhkan akses informasi, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan mengolah informasi secara mendalam. Jika peserta didik terbiasa berpindah perhatian terlalu cepat, maka proses berpikir kritis dan reflektif dapat terganggu. Padahal, kemampuan berpikir mendalam sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan masa depan.
Namun, popcorn brain bukan berarti teknologi harus dijauhi sepenuhnya. Teknologi tetap memiliki banyak manfaat jika digunakan secara bijak. Peserta didik dapat memanfaatkan internet untuk mencari referensi, mengikuti pembelajaran digital, mengembangkan kreativitas, dan memperluas wawasan. Tantangannya adalah bagaimana mengendalikan penggunaan teknologi agar tidak menguasai perhatian dan kebiasaan belajar.
Sekolah, guru, dan orang tua memiliki peran penting dalam membantu peserta didik membangun kebiasaan digital yang sehat. Di sekolah, guru dapat mendorong pembelajaran yang aktif, interaktif, dan bermakna agar murid tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat dalam proses berpikir. Kegiatan diskusi, membaca terarah, presentasi, proyek kolaboratif, dan refleksi dapat membantu melatih konsentrasi murid secara bertahap.
Di rumah, orang tua dapat mendampingi anak dengan membuat aturan penggunaan gawai yang jelas, seperti membatasi waktu layar, menghindari penggunaan ponsel saat belajar, dan membiasakan waktu tanpa gawai sebelum tidur. Kebiasaan sederhana seperti membaca buku, menulis jurnal, berolahraga, beribadah dengan khusyuk, dan bercakap-cakap dengan keluarga juga dapat membantu mengembalikan kemampuan fokus.
Bagi pelajar, langkah kecil dapat dimulai dari diri sendiri. Misalnya, mematikan notifikasi saat belajar, menggunakan teknik belajar 25 menit fokus dan 5 menit istirahat, menyimpan ponsel di tempat yang tidak mudah dijangkau, serta menentukan tujuan belajar sebelum membuka buku. Kebiasaan ini mungkin terasa sulit pada awalnya, tetapi jika dilakukan secara konsisten, kemampuan fokus akan kembali terlatih.
Kemampuan menjaga fokus merupakan salah satu keterampilan penting abad ke-21. Di tengah derasnya arus informasi dan budaya serba cepat, melatih konsentrasi bukan sekadar kebiasaan belajar, melainkan bekal penting untuk masa depan. Ide besar, kreativitas, dan pembelajaran yang bermakna lahir dari pikiran yang mampu hadir secara utuh, bukan dari otak yang terus-menerus berpindah dari satu distraksi ke distraksi lainnya. Karena itu, peserta didik perlu belajar menggunakan teknologi sebagai alat untuk bertumbuh, bukan sebagai pengendali perhatian dan waktu mereka.
Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































