Pengembangan kawasan ekowisata tidak dapat dilepaskan dari suara dan pengalaman masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan tersebut. Prinsip inilah yang menjadi dasar pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) partisipatif dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk Pengembangan Model Tata Kelola dan Strategi Pemasaran Ekowisata Mangrove Berbasis Zonasi Operasional di Pesisir Kabupaten Gresik yang dilaksanakan pada 1 Juli 2026 di kawasan Banyuurip Mangrove Center (BMC), Desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik.
Kegiatan yang berkolaborasi dengan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan UPN Veteran Jawa Timur menjadi kesatuan tim pengabdian dari Program Studi Ekonomi Pembangunan UPN Veteran Jawa Timur, Pokdarwis Tirta Bahagia, mitra pendamping PUPUK Surabaya, pemerintah desa, serta perwakilan masyarakat pesisir ini menjadi tahapan awal untuk menghimpun data lapangan sekaligus menetapkan kondisi dasar yang akan digunakan dalam penyusunan model pengembangan ekowisata pada tahap berikutnya.
Berbeda dengan pendekatan pembangunan yang bersifat top-down, forum ini dirancang sebagai ruang dialog yang menempatkan masyarakat sebagai pihak yang didengar. Pengelola wisata, pelaku UMKM, kelompok masyarakat pesisir, hingga pendamping komunitas diberikan kesempatan yang sama untuk menyampaikan pengalaman, tantangan, serta harapan mereka terhadap masa depan Banyuurip Mangrove Center.
Dalam proses diskusi, peserta FGD menyampaikan berbagai kondisi riil yang selama ini dihadapi dalam pengelolaan kawasan. Salah satu isu utama yang muncul adalah belum adanya pembagian fungsi ruang yang jelas antara kawasan konservasi mangrove, area wisata edukatif, dan ruang pemanfaatan ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan tumpang tindih aktivitas sekaligus meningkatkan tekanan terhadap ekosistem mangrove apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Selain itu peserta juga menyoroti pentingnya penyusunan standar operasional pengelolaan kawasan, mulai dari alur pelayanan pengunjung, pembagian tugas pengelola, hingga mekanisme pencatatan kunjungan dan pendapatan wisata. Selama ini, sebagian besar proses pengelolaan masih mengandalkan pengalaman praktis dan belum terdokumentasi secara sistematis sehingga menyulitkan proses evaluasi maupun pengambilan keputusan berbasis data.
Aspirasi lain yang disampaikan pelaku usaha lokal dan kelompok masyarakat yang berharap agar pengembangan wisata kedepan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih merata bagi warga sekitar. Produk-produk UMKM berbasis hasil laut dan mangrove dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata yang terintegrasi dengan aktivitas edukasi dan konservasi kawasan.
Diskusi juga menghasilkan pemetaan awal mengenai sejumlah prioritas yang akan menjadi fokus pengembangan pada tahap berikutnya. Beberapa prioritas tersebut meliputi penyusunan zonasi operasional kawasan, pengembangan standar operasional tata kelola, penguatan sistem monitoring berbasis data, serta perancangan strategi pemasaran dan paket wisata yang lebih terstruktur dan berdaya saing.
“Proses mendengar kebutuhan masyarakat menjadi fondasi penting sebelum merumuskan intervensi program. Model tata kelola yang efektif tidak hanya ditentukan oleh pendekatan akademik, tetapi juga oleh sejauh mana solusi yang dirancang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat pesisir yang selama ini menjadi penjaga sekaligus penggerak utama kawasan mangrove Banyuurip.” Ungkap Ary Fauziah Amini, S.Pn, M.SE. selaku dosen UPN “Veteran” Jawa Timur
Melalui FGD partisipatif ini, pengembangan Banyuurip Mangrove Center diharapkan tidak hanya menghasilkan tata kelola wisata yang lebih terstruktur, tetapi juga memperkuat posisi masyarakat sebagai aktor utama dalam pembangunan kawasan berbasis konservasi dan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan ekonomi masyarakat berbasis ekowisata, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, Pokdarwis, komunitas lokal, dan lembaga pendamping. Pada saat yang sama, penguatan tata kelola kawasan mangrove juga berkontribusi terhadap upaya perlindungan ekosistem pesisir yang berkelanjutan.
Penulis: Ary Fauziah Amini, S.Pn, M.SE., Rafael Adrian dan Abidatuz Zakiyah adalah Dosen dan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UPN “Veteran” Jawa Timur.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































