JAKARTA, 14 Mei 2026 – Wacana perpanjangan tenor Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hingga 40 tahun yang digulirkan Presiden Prabowo Subianto dalam momentum Hari Buruh menuai diskusi mendalam di kalangan masyarakat. Meski kebijakan ini dinilai mampu memperluas akses kepemilikan hunian bagi keluarga muda, pakar finansial mengingatkan adanya beban tersembunyi yang bisa menjadi beban seumur hidup.
Indra Hadiwidjaja, seorang perencana keuangan (financial planner) terkemuka di Jakarta, menekankan bahwa narasi “cicilan murah” harus ditelaah lebih kritis. Menurutnya, perpanjangan waktu pinjaman secara drastis sering kali hanya memberikan keringanan semu di awal, namun membebani total pengeluaran secara signifikan di akhir.
Analisis Simulasi: Selisih Tipis, Dampak Drastis
Berdasarkan simulasi untuk rumah seharga Rp1 miliar dengan asumsi suku bunga 10% per tahun, Indra memaparkan perbandingan berikut tanpa menggunakan format tabel:
Skema KPR 30 Tahun: Cicilan bulanan sekitar Rp8,77 juta, dengan total pembayaran akhir mencapai Rp3,15 miliar.
Skema KPR 40 Tahun: Cicilan bulanan sekitar Rp8,49 juta, dengan total pembayaran akhir membengkak hingga Rp4,07 miliar.
Dari perbandingan tersebut, terlihat bahwa meskipun cicilan per bulan hanya berkurang sekitar Rp280 ribu, total uang yang harus dibayarkan nasabah justru melonjak hampir Rp1 miliar lebih hanya karena penambahan masa tenor 10 tahun.
“Ini yang sering luput dari perhatian. Konsumen fokus pada angka bulanan, namun lupa melihat total uang yang keluar selama hidup. Dalam utang jangka panjang, beban terbesar bukan terletak pada pokok utang, melainkan akumulasi bunga,” ujar Indra pada Rabu kemarin.
Lima Tantangan Utama KPR 40 Tahun
Indra Hadiwidjaja merinci lima risiko utama yang menyertai tenor KPR ultra-panjang ini:
Ketidaksesuaian dengan Usia Pensiun: Jika KPR dimulai di usia 30 tahun, utang baru akan lunas pada usia 70 tahun. Padahal, mayoritas pekerja memasuki masa pensiun di usia 55-60 tahun tanpa penghasilan aktif yang sama.
Risiko Ketidakpastian Hidup: Dalam rentang 40 tahun, potensi gangguan arus kas seperti PHK, masalah kesehatan, atau fluktuasi ekonomi sangat tinggi.
Pembengkakan Bunga yang Signifikan: Total pembayaran yang mencapai 2 hingga 3 kali lipat harga asli rumah dapat menguras kekayaan bersih keluarga dalam jangka panjang.
Pengorbanan Tujuan Finansial Lain: Beban cicilan yang sangat lama berisiko membuat keluarga abai terhadap dana darurat, investasi, serta dana pendidikan anak.
Ilusi Harga Murah: Cicilan yang sedikit lebih kecil tidak serta-merta berarti lebih murah. Secara matematis, nasabah justru membayar jauh lebih mahal karena durasi waktu yang terlalu panjang.
Rekomendasi: Mewujudkan Hunian yang Sehat Secara Finansial
Indra mengapresiasi niat pemerintah untuk mempermudah akses rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Namun, ia menyarankan agar kebijakan ini dibarengi dengan edukasi finansial yang masif serta skema perbankan yang lebih fleksibel, seperti bunga rendah atau kemudahan pelunasan dipercepat tanpa penalti.
“Keputusan mengambil KPR harus sejalan dengan stabilitas karier dan rencana hidup jangka panjang. Jangan sampai seluruh sisa hidup habis hanya untuk membayar rumah tanpa memiliki ketahanan finansial yang seimbang,” tutup Indra.
Tentang Indra Hadiwidjaja: Indra Hadiwidjaja adalah seorang financial planner di Jakarta yang berdedikasi memberikan literasi keuangan bagi masyarakat agar dapat mengelola aset dan utang secara bijak.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































