Mengawali tulisan ini saya ingin menyampaiakan apa yang dikatakan oleh Tan Malaka
“tuan rumah tidak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya”. Kawan – kawan mungkin tidak asing ditelinga anda dengan kata – kata dari seorang tokoh Revolusi diatas. Kemudian muncul pertanyaan mengapa Tan Malaka apa kaitannya dengan islam? Karyanya justru membantah logika mistis, menolak sekolah agama dan lebih memilih jalan sunyi yaitu konsep kaderisasi rakyat. Apa yang Islam dari dirinya? Atau ia lebih Islam dari pada orang muslim itu sendiri?
Islam Tradisonalis adalah sebuah pemahaman yang beranggapan bahwa semua yang terjadi pada manusia itu merupakan takdir yang mutlak yang sudah ditetapkan oleh tuhan; Allah Swt. Pemikiran tradisionalis percaya bahwa permasalahan kemiskinan umat pada hakekatnya adalah ketentuan dan rencana tuhan. Hanya tuhan yang maha tahu apa arti dan hikmah dibalik ketentuan tersebut. Kemiskinan dan mariginalisasi seringkali justru adalah ujian atas keimanan, dan kita tidak tahu, manfaatnya dan mudharatnya. Akar teologi paradigma ini bersandar pada konsep Sunni mengenai (Takdir), yakni ketentuan dan rencana tuhan jauh sebelum manusia diciptkan. Kelompok Islam ini menurut saya akan sulit terlibat dalam konflik sosial seperti yang dialami oleh masyarakat adat papua yaitu deferostasi dan perlawanan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN). Dalam hal menyuarakan saja tidak mungkin, bukan hanya itu, isu ekonomi, politik dan pelanggaran Hak Asasi Manusia tidak akan mereka mengambil sikap untuk berpihak sebab sederhananya permasalahan umat adalah ketentuan rencana tuhan. Meskipun manusia didorong untuk berusaha, akhrinya tuhan jualah yang menentukan.
Islam Liberal Pemikiran kaum modernis dan muslim liberal tentang kemiskinan dan keterbelakangan, pada dasarnya sepaham dengan pikiran modernisasi sekuler. Mereka percaya bahwa masalah yang dihadapi kaum miskin pada dasarnya berakar pada, persoalan karena ada yang salah dari sikap mental, budaya ataupun teologi mereka. Kemiskinan umat bagi mereka tidak ada sangkut pautnya dengan menguatnya paham Neoliberalisme maupun Globalisasi. Pandangan kaum modernis berakar pada pemikiran para reformis yakni seperti Muhammad Abduh di Mesir atau Mustafa Attarurk di Turki serta banyak para pembaharu lainnya. Bagi mereka, kemiskinan terjadi pada bangsa indonesia karena mereka tidak mampu berpartisipasi secara aktif dalam proses pembangunan dan globalisai. Kaum miskin haruslah berani mengganti teologi yang cocok yakni teologi rasional dan kreatif. Selanjutnya persiapan sumber daya manusia yang dapat bersaing dengan globalisasi, yakni melalui usaha pendidikan. Mereka tidak mempersoalkan pembangunan dan globalisasi sepnjang pembangunan yang diterapkan melalui pendekatan dan metodologi yang benar, serta dikelola oleh suatu pemerintahan yang bersih (clean government). Mereka inilah kelompok Islam yang dominan, menguasai media massa, pemerintah, pendidikan dan perguruan tinggi islam. Dengan strategi kaum modernis penyiapan SDM dan pembaharuan ajaran islam yang relevan dengan era globalisai, itu akan menimbulkan kesan yang kuat bahwa masalah sosial dan proses marginalisasi akibat globalisasi kapitalisme akan cenderung manyalahkan korbannya, menyalahkan ummat yang tidak mampu bersaing secara kreatif dan pendidikan, padahal tidak semua masyarakat atau individu di Indonesia mendapatkan akses yang sama dalam pendidikan dibangku universitas, karena faktor ekonomi. Ide islam liberal merupakan harapan kosong yang justru akan melanggegkan kaum kapitalis yang ujungnya adalah menciptkan kelas pekerja, dan ini sudah terjadi dalam sistem pasar bebas.
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”(Ali-Imran:110)
Teologi Transformatif Islam Kiri
Islam kiri berpandangan bahwa kemiskinan dan ketimpangan ekonomi itu disebabkan oleh sistem, kebijakan negara dan kroni kapitalisme modal. Kemiskinan struktural yaitu masyarakat dibiarkan hidup dalam kemiskinan. Sehingga teologinya adalah teologi pembebasan, yaitu melawan segala bentuk ketidakadilan dan perlawanan terhadap kaum kapitalis. Tidak berhenti pada wacana tetapi menuju gerakan sosial yang diyakini mampu efektif membawa pembaharuan pada struktur sosial.
Sistem pasar bebas sebagai sistem sosial mayarakat modern, dalam realitasnya belum sepenuhnya menopang terhadap tercapainya kesejahteraan bagi masyarakat. Hal ini seakan bertolak belakang dengan teori Invisible Hand Adam Smith yang menjadi landasan sistem pasar bebas.Dalam satu sisi, tidak bisa dipungkiri bahwa sistem pasar bebas telah membantu tercapainya pertumbuhan ekonomi dengan pesat, namun di sisi yang lain pertumbuhan tersebut tidak di barengi dengan pemerataan sehingga melahirkan ketimpangan dan kesenjangan sosial. Sistem pasar bebas nyata-nyata hanya bisa di nikmati oleh kalangan pemilik modal saja, sementara kalangan miskin harus merelakan tenaganya untuk di jual kepada kalangan pemilik modal. Oleh karena itu, dengan fakta ketimpangan yang dilahirkan sistem pasar bebas, patutlah kiranya eksistensi sistem pasar bebas sebagai mekanisme distribusi pendapatan dipertanyakan. Untuk meringankan pembahasan sepertinya perlu saya jelaskan apa itu kapitalisme dan kaitannya dengan sistem pasar bebas.
Kapitalisme adalah sistem ekonomi yang bertumpu pada kepemilikan pribadi, perdagangan bebas dan pencarian keuntungan. Kapitalisme membawa kemajuan indsutri dan teknologi, tetapi juga sering dikritik karena dapat menciptakan ketimpangan sosial anatara pemilik modal dan pekerja. Kritik terhadap kapitalisme banyak dikembangkan oleh karl Marx yang melihat bahwa sistem tersebut berpotensi melahirkan eksploitasi kelas pekerja.
Muhammad SAW telah memulai sebuah revolusi yang gemilang dengan membebaskan seluruh rakyat dari penghisapan dan melahirkan sebuah srtuktur kekuasaan baru yang melindungi kaum miskin dan menjamin keberlangsungannya satu tatanan yang lebih adil. Muhammad mengobarkan peperangan, melancarkan berbagai taktik dan menempuh berbagai perundingan – perundingan politik. Revolusi memang bukan sekedar jamuan makan. Revolusi selalu butuh kekerasan, darah bahkan mungkin satu peperangan besar. Islam merobek – robek kepercayaan kaum Quaraisy dengan berhalanya dan mengkritik keras gaya hidup serta sistem ekonomi yang di anutnya. Dalam ajaran islam konsep pertanggungjawaban seorang muslim kelak di hari akhir, menyangkut tentang harta dan pemihakan, kekayaan dari mana dan untuk apa?, gagasan keberpihakan ini yang telah menyulut islam sebagai ajaran yang mampu membongkar tipu muslihat kekuatan dominan yakni kaum borjuasi Quraisy.
Melawan kroni kapitalisme
Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah dari (kalangan) laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berdoa, (QS, An-Nisa 75)
Dalam teologi islam kiri keberpihakan kita jelas kepada kaum lemah (Dhuafa) kepada kaum tertindas (Mustadh’afin). Film pesta babi menguak fakta tentang deforestasi sebanyak 2,5 juta hektare. hutan dipapua selatan dan didalamnya termasuk hutan adat. Masyarakat adat papua kehilangan tempat tinggalnya, tanahnya, mata pencahariannya yang semua itu bergantung pada hutan, mereka tidak hanya hidup primitif tetapi mereka menjaga hutan. Frankie woro “kami percaya bahwa memang kami sudah tidak mampu menyelesaikan persoalan ini dengan tangan kami sendiri, sebab itu kami minta bantuan kepada nenek moyang dan tuhan kami”. Dari kalimat itu sudah jelas sangat menyayat hati maka jelas pula siapa masyarakat yang sedang ditindas itu?, siapa kaum yang dilemahkan yakni masyarakat adat papua. Mereka lah kaum Mustadh’afin yang perlu dibela dan diperjuangkan dalam hal mereka memperolah keadialan dan kemerdekaan. Sebab kemerdekaan ialah hak segala bangsa.
Haji isam pemilik Jhonlin Group mengirim 2.000 ekskavator dari cina. Untuk kebutuhan Proyek Strategis Nasioanl atau pembabatan hutan legal yang mengatasnamakan pembangunan dan kemandirian pangan. PT Jhonlin Group tidak mengelola hanya satu sumber daya alam tetapi begitu banyak yakni batu bara, pengeolahan karet, pabrik gula, perkebunan kelapa sawit dan penerbangan. Keluarga Martias Fangiono memiliki 25 Perusahaan di Papua tersebar dari Sorong, Mappi dan Merauke. Mereka lah player kroni kapitalisme yang telah menumpuk kekayaan di atas penderitaan masyarakat adat papua. Pesta panen dilawan dengan pesta babi sebuah ritual yang jujur dan berani, salib merah sebagai simbol perlawanan. Saya tidak mau mengatakan bahwa mereka adalah Kristen kiri, tetapi saya ingin menyampaikan bahwa bagi umat islam siapa saja yang mempercayai teologi pembebasan islam kiri maka hendaklah mereka menjadi ummat yang tidak hanya menggaungkan perubahan dalam kesabaran tetapi dalam aksi dan kemarahan yang landasannya ketidakadilan, ketimpangan ekonomi, dan menuju kepada tranformasi sosial. Diperlukan adanya pergerakan dan tindakan yang dimana kita berusaha menyampaikan langsung ke dalam telinga penguasa.
Hati- hatilah untuk tidak membiarkan dirimu, keluargamu, atau teman-temanmu, menggunakan sekecil apa pun kesenangan atau keistimewaan dalam hal-hal yang merupakan milik rakyat, dan yang harus dibagi rata di antara seluruh rakyat (Imam Ali)
Penulis : Muhammad Dwinof Zulfitra S.
Aktivis Media Sosial
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































