CIMAHI – Sebagai industri yang memiliki standar operasional, industri farmasi senantiasa menempatkan kualitas dan presisi sebagai prioritas utama. Dalam upaya mempertahankan standar operasional yang unggul, PT Sanbe Farma Unit II melalui departemen Human Resource Development (HRD) menggelar program penguatan budaya kerja bagi personil Operator Service pada Rabu (20/5).
Kegiatan ini berfokus pada dua instrumen fundamental industri: Budaya 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) dan Strategi Pencegahan Potensi Kesalahan Kerja. Program ini menjadi bagian dari sistem people development yang bertujuan untuk memastikan setiap aktivitas pendukung operasional selaras dengan kaidah industri farmasi global.
Secara ilmiah, 5R bukan sekadar aktivitas menjaga kebersihan, melainkan metodologi penataan lingkungan kerja yang berasal dari prinsip Kaizen (perbaikan berkelanjutan). Dalam ekosistem manufaktur, lingkungan kerja yang tertata rapi secara visual terbukti mampu mengurangi hambatan operasional dan meningkatkan fokus kerja personil.
“Implementasi 5R yang konsisten adalah kunci untuk menciptakan alur kerja yang efektif. Dengan lingkungan yang terorganisir, potensi gangguan dalam aktivitas rutin dapat diminimalisir sedini mungkin,” ungkap penulis selaku mahasiswi magang yang turut menjadi fasilitator sekaligus menjadi trainer pada pelatihan 5R tersebut.

Strategi Pencegahan Potensi Kesalahan Kerja Selain aspek fisik lingkungan, pelatihan ini memberikan edukasi mendalam mengenai pencegahan human error melalui optimalisasi penggunaan alat bantu sistem kerja seperti checklist.
Dalam dunia industri, penggunaan alat bantu kerja merupakan bagian dari konsep Poka-Yoke, yaitu sebuah desain sistem dari Jepang yang sudah banyak digunakan oleh banyak perusahaan terutama perusahaan manufaktur dunia, Sistem ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kekeliruan atau memastikan kesalahan dapat terdeteksi segera sebelum berdampak pada proses selanjutnya.
Pelatihan yang melibatkan 32 partisipan dari berbagai unit layanan pendukung ini juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap standar GMP (Good Manufacturing Practice) dan GDP (Good Documentation Practice). Hal ini penting untuk memastikan integritas dokumentasi dan kepatuhan prosedur tetap terjaga di setiap lini perusahaan.
Pengenalan standar internasional ini menjadi penegasan bahwa setiap individu di lingkungan industri farmasi, termasuk operator service, adalah penjaga garis depan kualitas (quality guardians) yang memiliki tanggung jawab besar. GMP memastikan bahwa setiap proses pendukung seperti kebersihan area dan sanitasi dilakukan secara konsisten untuk mencegah risiko kontaminasi, sementara GDP menjamin bahwa setiap aktivitas operasional terekam secara akurat, terbaca, dan jujur sebagai bukti kepatuhan mutlak terhadap regulasi industri,.
Urgensinya terletak pada prinsip “mata rantai kualitas” dalam ekosistem manufaktur yang saling berkaitan, kegagalan kecil di unit pendukung dapat berdampak sistemik pada hasil akhir produksi.
“Pengenalan GMP dan GDP bagi operator service bukan sekadar pengenalan istilah teknis, melainkan upaya strategis untuk menanamkan kesadaran bahwa peran mereka dalam menjaga sterilitas lingkungan dan ketelitian distribusi adalah fondasi utama yang menjamin keamanan produk obat bagi masyarakat luas” ungkap supervisor HRD yang merupakan trainer pada pelatihan GDP dan GMP tersebut.

Melalui program pelatihan yang interaktif mencakup pemaparan materi hingga sesi Study Case juga sesi tanya jawab, para peserta diajak untuk secara mandiri mengidentifikasi potensi perbaikan di area kerja masing-masing. Bagi mahasiswa, keterlibatan dalam perancangan program berbasis manajemen risiko ini memberikan wawasan nyata mengenai bagaimana HRD berperan sebagai mitra strategis operasional dalam menjaga standar kualitas perusahaan.
Inisiatif ini menegaskan komitmen perusahaan dalam membangun budaya kerja yang disiplin dan sehat. Dengan personil yang memiliki kesadaran operasional tinggi, perusahaan tidak hanya menjaga produktivitas, tetapi juga memperkokoh kepercayaan pelanggan terhadap mutu obat-obatan yang dihasilkan.
Penulis: Nabila Rizky Putri Setiawan – Mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia
Tag: Pendidikan Masyarakat, FIP, Universitas Pendidikan Indonesia
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer
































































