SUKOHARJO – Menjelang pelaksanaan rangkaian lokakarya seni dan budaya inklusif, Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia bersama Omah Topeng Langdhawur resmi memulai proses pra-produksi pembuatan medium karya berupa topeng dan wayang berbahan dasar limbah kertas. Kegiatan ini merupakan bagian dari persiapan vital untuk menyukseskan program “Topeng Wayang Limbah Kertas, Cerita Semesta Kreasi Anak Nusantara Untuk Alam Dan Budaya” yang didukung oleh Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025.
Proses pembuatan karya ini mengusung semangat kolaborasi dan ekonomi sirkular yang kuat di tingkat akar rumput. Bahan baku berupa tumpukan kertas bekas tidak didapatkan dengan cara instan, melainkan dibeli langsung dari masyarakat, pemulung, tukang rosok, berbagai simpul organisasi, hingga kelompok ibu-ibu PKK di wilayah Sukoharjo. Gerakan kolektif pengumpulan material daur ulang ini didorong oleh Pratiknyo selaku inisiator, yang memastikan bahwa setiap lembar kertas bekas yang terkumpul dapat memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga sekitar sebelum akhirnya diubah menjadi medium edukasi seni.
Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menyampaikan bahwa proses pra-produksi pengumpulan dan pengolahan limbah ini adalah ruh utama dari seluruh rangkaian program. Menurutnya, pesan pelestarian lingkungan harus dimulai dari tindakan nyata sejak tahap pengadaan bahan baku, bukan sekadar narasi pada saat pementasan akhir.
“Kami ingin menanamkan kesadaran kolektif bahwa pelestarian alam dan pemajuan kebudayaan itu bisa berjalan beriringan. Dengan membeli bahan baku limbah kertas dari masyarakat, pemulung, tukang rosok, hingga ibu-ibu PKK, kita tidak hanya membersihkan lingkungan dari tumpukan sampah, tetapi juga menghidupkan ekonomi sirkular masyarakat kecil. Ini adalah wujud nyata kolaborasi lintas elemen yang sudah kita hidupkan jauh sebelum lokakarya dimulai,” ujar Fadhel.
Nantinya, berton-ton limbah kertas yang telah terkumpul tersebut akan diproses menjadi bubur kertas (pulp) dan dicetak menjadi dasar topeng serta wayang setengah jadi. Material setengah jadi inilah yang kemudian akan dibagikan kepada 50 anak dan remaja peserta lokakarya untuk diwarnai, dikreasikan, dan dihidupkan menjadi karakter fabel Nusantara yang sarat akan nilai moral.
Di sisi artistik, Ketua Omah Topeng Langdhawur, Rus Hardjanto, memimpin langsung proses pengolahan limbah kotor tersebut menjadi kanvas seni yang presisi. Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar dari penciptaan karya berbasis limbah kertas adalah mempertahankan detail dan kualitas visual agar layak diapresiasi sebagai karya seni murni, bukan sekadar kerajinan daur ulang biasa.
“Limbah kertas itu material yang unik sekaligus menantang. Lewat proses perendaman, penghancuran, hingga pencetakan yang teliti, kami sedang menyiapkan ‘kanvas’ karakter untuk anak-anak peserta workshop nanti. Kami di Omah Topeng Langdhawur memastikan bahwa meskipun terbuat dari sampah, hasil akhirnya wajib memiliki standar estetika dan presisi artistik yang tinggi. Ini adalah cara kami mengajarkan kepada generasi muda bahwa dengan sentuhan rasa dan karsa, barang terbuang bisa menjelma menjadi mahakarya budaya,” jelas Rus Hardjanto.
Ke depannya, topeng dan wayang limbah kertas yang telah selesai dicetak ini akan menjadi media pembelajaran utama dalam serangkaian lokakarya yang digelar di berbagai titik sanggar. Program ini diharapkan tidak hanya menghasilkan pementasan yang memukau, tetapi juga meninggalkan jejak edukasi yang kuat bagi masyarakat tentang pentingnya merawat alam semesta sekaligus menjaga warisan luhur budaya Nusantara.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































