Kewarganegaraan pada intinya adalah sebuah identitas yang terikat pada setiap orang sebagai bagian dari suatu negara. Identitas ini memberikan hak dan tanggung jawab, baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun, dalam zaman modern yang penuh dengan kecepatan dan keterhubungan, konsep kewarganegaraan menjadi semakin kompleks. Perkembangan global menghadirkan berbagai masalah dan tantangan yang perlu dihadapi secara bersama oleh bangsa Indonesia. Berikut 5 Isu dan Tantangan Kewarganegaraan di Era Global :
1. Kesenjangan Sosial dan Ekonomi
Meskipun Indonesia mengalami peningkatan ekonomi, kesenjangan masih tampak jelas. Berdasarkan data BPS (Maret 2025), tingkat kemiskinan nasional tercatat pada angka 8,47% atau sekitar 23,85 juta individu, turun dari 9,03% pada Maret 2024. Walaupun ada perbaikan dalam angka kemiskinan, ketidaksetaraan tetap terasa. Gini Ratio mengalami penurunan menjadi 0,375 pada Maret 2025 dari 0,381 di September 2024, namun tetap mengekspresikan jarak antara yang kaya dan yang miskin.
Kondisi ini sangat jelas terlihat dari perbedaan antar daerah. Di kawasan perkotaan, masyarakat menikmati berbagai fasilitas modern, sementara di daerah terpencil, akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur masih sangat terbatas. Jika tidak segera ditangani, ketidakadilan ini bisa memperdalam jurang sosial dan memicu konflik diantara kelompok masyarakat.
2. Radikalisme dan Intoleransi
Ancaman radikalisme masih menjadi isu serius bagi persatuan bangsa. Intoleransi, baik yang berkaitan dengan agama maupun pandangan yang berbeda, kerap muncul di ruang publik serta media sosial. Beberapa konflik antar kelompok membuktikan bahwa toleransi yang tidak dikembangkan sejak awal sangat mudah runtuh.
Kemudahan dalam mendapatkan informasi juga memperburuk situasi, karena kelompok tertentu dapat menyebarluaskan ide-ide ekstrem dengan cepat. Menurut penelitian SETARA Institute (2023), tingkat intoleransi di kalangan siswa masih tergolong tinggi. Ini menjadi tanda bahwa pendidikan kewarganegaraan yang inklusif perlu terus diperkuat.
3. Pengaruh Budaya Global
Arus globalisasi membawa beraneka ragam budaya baru musik, film, gaya hidup, hingga cara berinteraksi. Generasi muda kini lebih akrab dengan budaya asing daripada budaya lokal. Di satu sisi, ini mencerminkan keterbukaan tetapi di sisi lain, bisa mengikis identitas nasional jika masyarakat tidak cermat dalam memilahnya.
Contoh fenomena westernisasi, misalnya, membuat budaya tradisional sering terabaikan. Menurut survei Kemenparekraf 2024, minat generasi muda terhadap seni dan budaya lokal telah turun sekitar 15% dalam lima tahun terakhir. Jika situasi ini dibiarkan, rasa nasionalisme dan kebanggaan terhadap budaya sendiri akan semakin menipis.
4. Hoaks dan Literasi Digital
Perkembangan teknologi digital memberi banyak manfaat, tetapi juga membuka peluang bagi penyebaran informasi yang salah. Munculnya hoaks menjadi salah satu tantangan besar dalam kewarganegaraan modern. Kominfo mencatat bahwa selama pemilu 2019 terdapat 1. 645 konten hoaks yang terkait dengan pemilu (Agustus 2018–April 2019). Sampai September 2019, jumlah keseluruhan hoaks yang beredar mencapai 3. 356 konten, dengan 916 di antaranya secara langsung terkait dengan isu politik.
Fenomena ini menunjukkan rendahnya literasi digital di masyarakat. Jika tidak ditangani dengan serius, penyebaran hoaks dapat memecah belah persatuan bangsa, seperti yang terjadi pada Pemilu 2019.
5. Brain Drain Generasi Muda
Fenomena brain drain atau keluarnya tenaga kerja terampil ke luar negeri juga menjadi perhatian serius. Data menunjukkan bahwa sebanyak 3. 912 WNI telah beralih kewarganegaraan menjadi warga negara Singapura antara tahun 2019 hingga 2022, dan mayoritas dari mereka berusia produktif (25-35 tahun).
Padahal, saat ini Indonesia sedang mengalami periode bonus demografi. Namun, sayangnya, jumlah tenaga kerja yang memiliki keahlian yang memadai hanya berkisar 13 juta orang, atau kurang dari 10% dari total angkatan kerja. Jika fenomena brain drain terus berlangsung, Indonesia berpotensi kehilangan tenaga kerja berkualitas yang sangat diperlukan untuk mendukung pembangunan di dalam negeri.
Dalam menghadapi berbagai tantangan ini, menjadi anggota masyarakat di zaman global diperlukan sikap lebih dari sekadar memiliki status formal. Setiap individu perlu meningkatkan kemampuan berpikir kritis agar tidak dengan mudah terperangkap dalam informasi yang menyesatkan. Pada saat yang sama, rasa peduli terhadap isu-isu nasional dan global harus ditumbuhkan, karena perubahan dunia saat ini sangat berkaitan dengan situasi di dalam negeri.
Mempertahankan identitas bangsa juga merupakan kunci yang sangat penting. Globalisasi memang memberikan warna baru pada budaya dan cara hidup, tetapi akar budaya bangsa perlu dijaga agar tidak hilang oleh pengaruh waktu. Di sisi lain, keterlibatan langsung dalam menciptakan masyarakat yang adil dan inklusif baik melalui pendidikan, bidang pekerjaan, maupun kegiatan sosial akan memperkuat ketahanan bangsa dalam menghadapi globalisasi.
Dengan cara ini, menjadi warga negara bukan hanya soal hak dan tanggung jawab administratif, melainkan juga menjadi bentuk tanggung jawab moral. Warga negara Indonesia diharapkan bisa menjadi pribadi yang pintar, peduli, dan terbuka, tanpa kehilangan identitas sebagai bagian dari bangsa dan juga anggota komunitas global.
Referensi
Badan Pusat Statistik (BPS). (2025). Persentase Penduduk Miskin Maret 2025. Jakarta: BPS.
SETARA Institute. (2023). Laporan Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan. Jakarta: SETARA Institute.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). (2024). Survei Minat Generasi Muda terhadap Seni dan Budaya Lokal. Jakarta: Kemenparekraf.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). (2019). Laporan Hoaks Pemilu 2019. Jakarta: Kominfo.
Data Migrasi WNI ke Singapura. (2019–2022). Sumber: Direktorat Jenderal Imigrasi, Kemenkumham RI.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































