Tidak sedikit mahasiswa yang menganggap mata kuliah Bahasa Indonesia hanyalah pelengkap di bangku kuliah. Alasannya sederhana, materi itu sudah dipelajari sejak sekolah dasar sampai SMA. Ketika memasuki perguruan tinggi, sebagian orang merasa tidak akan menemukan hal baru. Jujur saja, saya juga pernah berpikir seperti itu. Namun setelah melihat kenyataan di lingkungan kampus, saya mulai menyadari bahwa anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar.
Di perguruan tinggi, Bahasa Indonesia bukan sekadar membahas huruf kapital atau tanda baca. Mata kuliah ini justru menjadi bekal ketika mahasiswa mulai berhadapan dengan makalah, proposal penelitian, artikel ilmiah, laporan praktikum, hingga skripsi. Pada tahap ini, kemampuan menyampaikan ide secara runtut jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui teori kebahasaan. Banyak orang memiliki gagasan yang bagus, tetapi kesulitan menuangkannya ke dalam tulisan yang mudah dipahami.
Hal itu terlihat dari salah satu penelitian yang dilakukan pada mahasiswa di Fakultas Ilmu Kesehatan. Hasilnya menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia membantu mahasiswa menyusun laporan ilmiah, artikel, dan presentasi akademik dengan lebih baik. Menurut saya, temuan tersebut cukup menarik karena mahasiswa kesehatan sekalipun tetap membutuhkan kemampuan berbahasa. Mereka bukan hanya belajar soal medis, tetapi juga harus mampu menjelaskan hasil penelitian dan menyampaikan informasi secara jelas kepada orang lain.
Sayangnya, penelitian yang sama juga memperlihatkan bahwa masih ada mahasiswa yang merasa pembelajaran Bahasa Indonesia terlalu banyak berisi teori. Sebagian besar materi disampaikan melalui ceramah sehingga ruang untuk praktik masih terbatas. Menurut saya, keluhan itu cukup masuk akal. Belajar bahasa tidak akan efektif jika hanya mendengarkan penjelasan dosen dari awal sampai akhir. Mahasiswa justru membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk menulis, berdiskusi, mempresentasikan ide, bahkan saling mengoreksi hasil tulisan.
Masalah lain yang menurut saya sering luput dari perhatian adalah perbedaan kebutuhan setiap program studi. Mahasiswa hukum tentu memiliki gaya penulisan yang berbeda dengan mahasiswa keperawatan, teknik, ekonomi, atau ilmu pemerintahan. Akan lebih baik jika pembelajaran Bahasa Indonesia tidak dibuat terlalu umum. Materinya bisa dikaitkan dengan bidang yang sedang dipelajari mahasiswa sehingga mereka merasa apa yang dipelajari benar-benar berguna.
Di sisi lain, perkembangan media sosial juga mengubah kebiasaan berbahasa mahasiswa. Hampir setiap hari kita menggunakan singkatan, istilah asing, atau bahasa gaul ketika berbicara dengan teman. Itu bukan sesuatu yang salah karena bahasa memang terus berkembang mengikuti zamannya. Masalahnya muncul ketika kebiasaan tersebut tanpa sadar ikut terbawa ke dalam tugas kuliah, laporan penelitian, bahkan presentasi akademik.
Bukankah agak aneh jika mahasiswa mampu membuat konten yang menarik di media sosial, tetapi kesulitan menulis satu halaman pendahuluan dengan bahasa yang baik? Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi menurut saya cukup menggambarkan kondisi yang sedang terjadi. Kemampuan berkomunikasi di ruang digital ternyata tidak selalu diikuti dengan kemampuan menulis dalam konteks akademik.
Salah satu artikel yang saya baca juga menunjukkan bahwa penggunaan bahasa gaul di kalangan mahasiswa semakin luas karena pengaruh media sosial dan lingkungan pergaulan. Di satu sisi, bahasa gaul membuat komunikasi terasa lebih santai dan akrab. Akan tetapi, jika digunakan terus-menerus tanpa memahami konteksnya, mahasiswa bisa mulai terbiasa mengabaikan penggunaan bahasa baku. Lama-kelamaan, hal itu berpengaruh pada cara mereka menulis dan berbicara dalam situasi formal.
Menurut saya, tujuan mata kuliah Bahasa Indonesia bukan untuk menghilangkan bahasa gaul dari kehidupan mahasiswa. Itu hampir mustahil dilakukan. Yang lebih penting adalah mengajarkan kapan seseorang boleh menggunakan bahasa santai dan kapan ia harus menggunakan bahasa yang lebih formal. Kesadaran seperti ini justru menjadi bekal ketika mahasiswa memasuki dunia kerja, karena setiap profesi memiliki aturan komunikasi yang berbeda.
Saya juga merasa pembelajaran Bahasa Indonesia perlu mengikuti perkembangan zaman. Mahasiswa sekarang lebih akrab dengan platform digital dibandingkan buku teks yang tebal. Karena itu, proses pembelajaran bisa dikemas melalui diskusi, analisis berita, latihan presentasi, penulisan artikel populer, atau mengulas isu yang sedang ramai dibicarakan. Cara seperti ini kemungkinan akan membuat mahasiswa lebih tertarik karena mereka melihat hubungan langsung antara materi kuliah dengan kehidupan sehari-hari.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan berpikir. Saya percaya bahwa orang yang mampu menyusun kalimat dengan baik biasanya juga lebih mudah menyusun gagasan secara logis. Menulis bukan hanya soal merangkai kata, tetapi juga soal mengatur cara berpikir. Itulah mengapa mahasiswa dari bidang apa pun sebenarnya tetap membutuhkan kemampuan berbahasa yang baik, meskipun nanti mereka bekerja di dunia yang sangat berbeda.
Lalu, apakah mata kuliah Bahasa Indonesia masih layak dipertahankan di perguruan tinggi? Menurut saya, jawabannya masih sangat layak. Yang perlu diubah bukan keberadaan mata kuliahnya, melainkan cara mengajarnya. Mahasiswa sekarang membutuhkan pembelajaran yang lebih hidup, lebih dekat dengan realitas, dan tidak hanya berisi aturan kebahasaan. Jika pendekatannya tepat, mata kuliah ini justru bisa menjadi salah satu bekal yang paling sering digunakan setelah lulus kuliah.
Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa Bahasa Indonesia tetap memiliki posisi penting di perguruan tinggi. Kemampuan menyampaikan gagasan, menulis karya ilmiah, berdiskusi, hingga berbicara secara profesional tidak muncul begitu saja, tetapi perlu terus dilatih. Di tengah derasnya arus digital dan semakin akrabnya mahasiswa dengan bahasa gaul, mata kuliah Bahasa Indonesia justru memiliki peran yang semakin besar. Bukan sekadar menjaga penggunaan bahasa yang baik dan benar, tetapi juga membantu mahasiswa menjadi pribadi yang mampu berpikir jernih, berkomunikasi secara tepat, dan menghargai identitas bahasanya sendiri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































