Takengon, 11 April 2026 – Bayangkan belajar di bawah pohon rindang, sambil menyentuh tanah dan mendengar gemericik air sungai. Itulah pengalaman seru yang dirasakan mahasiswi PIAUD IAIN Takengon saat studi banding ke Sekolah Alam, guna memperluas wawasan metode pembelajaran alam bebas.
Kegiatan pada Jumat, 1 April 2026, ini bagian dari mata kuliah Dasar-dasar Kurikulum di bawah bimbingan Dr. Al Musanna, M.Ag. Rombongan semester 2, termasuk saya, langsung terpesona dengan suasana belajar yang jauh dari meja dan papan tulis konvensional.
Di TK Alam, Hanifah Ummahati, S.P., menyapa dengan antusias. “Sekolah Alam punya pendekatan berbeda dari sekolah reguler, terutama soal inklusivitas dan metode pembelajaran,” ungkapnya. Hanifah jelaskan bagaimana alam jadi “guru utama”, melatih anak usia dini melalui eksplorasi sensorik yang menyenangkan.
Inklusivitas jadi sorotan utama: Sekolah Alam Takengon sambut semua anak, termasuk berkebutuhan khusus, dengan metode fleksibel seperti berkebun dan petualangan alam. “Ini bangun karakter, pengetahuan, plus cinta lingkungan—sesuai ajaran Islam,” tambah Hanifah, memukau para mahasiswi.
Diskusi seru berlanjut, di mana peserta bandingkan dengan kurikulum PIAUD. Mereka catat ide-ide segar untuk integrasikan pembelajaran alam ke pendidikan anak Islam, lengkap dengan sesi tanya jawab dan foto kenangan.
Kunjungan ini jadi booster wawasan, siap transformasi metode pengajaran mahasiswi PIAUD. “Alam bebas bukan mimpi, tapi realitas pendidikan masa depan,” tutup salah satu peserta.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































