Pendidikan merupakan proses yang tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan kepribadian, sikap, dan karakter peserta didik secara utuh. Pendidikan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kognitif peserta didik, tetapi juga mengembangkan aspek afektif dan sosial-emosional yang mendukung keberhasilan belajar. Afektif adalah segala hal yang merujuk kepada aspek psikologis seseorang yang berhubungan dengan emosi, perasaan, sikap, minat, dan nilai-nilai pribadi. Afektif berasal dari bahasa Latin affectus, yang berarti perasaan atau emosi. Pada bidang pendidikan dan psikologi, afektif berfokus pada elemen non-kognitif dalam perilaku manusia yang melibatkan respons emosional terhadap berbagai situasi dan pengalaman. Salah satu aspek afektif yang sangat penting dalam proses pendidikan adalah percaya diri, karena kepercayaan diri berperan membentuk keberanian diri untuk mengemukakan pendapat, bertanya, mencoba hal baru, dan menghadapi tantangan belajar. Peserta didik yang memiliki kepercayaan diri tinggi akan cenderung lebih aktif dan mandiri.
Tapi faktanya, banyak peserta didik yang memiliki kepercayaan diri rendah. Mereka sering ragu-ragu, takut salah, dan enggan tampil di depan kelas. Mereka juga kurang berani berdiskusi dan sering bergantung pada orang lain. Kondisi ini bisa menghambat perkembangan akademik dan nonakademik siswa serta interaksi sosial mereka di sekolah juga bisa terganggu. Maka, guru perlu menerapkan cara yang menarik, menyenangkan, dan efektif untuk meningkatkan percaya diri siswa. Untuk mengatasi permasalahan ini, hadir sebuah inovasi game edukatif yang sederhana namun berdampak besar bernama ”SAGURIAN : Satu Gulungan Seribu Harapan”. Game ini memanfaatkan media fisik sederhana untuk memancing dan memperkuat mental pemberani yang ada di dalam diri peserta didik, Game ”SAGURIAN” membuktikan bahwa untuk membangun generasi yang percaya diri, guru tidak selalu membutuhkan metode yang rumit. Dengan adanya inovasi game ”SAGURIAN” yang menggabungkan unsur permainan dan tujuan pendidikan sehingga menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif, menyenangkan, dan memotivasi peserta didik umtuk meningkatkan rasa percaya diri. Berikut adalah rincian mengenai alat, bahan, serta skenario langkah dalam implementasi game SAGURIAN.
(Alat dan Bahan yang Diperlukan Pembuatan game Sagurian)
Sangat praktis dan tidak membutuhkan biaya yang besar. Anda hanya perlu menyiapkan beberapa benda berikut :
1 Kertas Hasil Cetak (Print): Lembar kertas yang sudah diketik rapi menggunakan komputer dan dicetak, berisi berbagai daftar pertanyaan atau tantangan keberanian.
2 Gunting: Digunakan untuk memotong tulisan tantangan pada kertas cetak tersebut menjadi potongan-potongan kecil yang rapi.
3 Wadah Toples: Sebuah toples bening ukuran sedang sebagai tempat untuk menyimpan seluruh gulungan kertas.
4 Butiran-butiran mutiara: Berfungsi sebagai penanda poin atau “simbol keberanian” yang akan diberikan kepada peserta didik.
Langkah-Langkah Pelaksanaan Permainan
1. Guru mempersiapkan media yang dibutuhkan dalam permainan seperti gulungan kertas yang berisikan pertanyaan, wadah, dan butiran-butiran mutiara.
2. Sebelum memulai permainan, guru menjelaskan aturan permainan dengan jelas kepada siswa.
3. Setiap siswa secara bergiliran mengambil satu gulungan kertas dari wadah.
4. Siswa melaksanakan instruksi atau menjawab pertanyaan yang berada dalam kertas yang dipilih siswa
5. Kemudian guru dan siswa lain menanggapi atau merespon jawaban dari siswa yang tampil didepan kelas
(Skenario umum dalam Pelaksanaan Permainan Peningkatan Percaya Diri Siswa)
Kegiatan ini dilakukan dengan membuat suasana kelas menjadi suasana arena petualangan mental yang interaktif. Yang dimana tujuan permainan ini untuk mengembangkan kualitas percaya diri siswa yang awalnya malu-malu dan tidak berani tampil didepan kelas. Pada permainan ini siswa akan belajar secara langsung bahwa tampil di depan banyak orang ternyata tidak semenakutkan yang mereka bayangkan. Sebelum permainan dimulai, guru akan menyiapkan media permainan yang dibutuhkan, dengan meletakkan wadah yang berisikan gulungan kertas dan butiran-butiran mutiara yang akan menutupi gulungan kertas tersebut agar lebih terkesan menantang bagi siswa. Setelah media sudah siap, guru akan menjelaskan teknik permainan yang dimana setiap siswa secara bergiliran mendapatkan kesempatan untuk mengambil satu gulungan kertas dan akan melakukan intruksi atau menjawab pertanyaan dari kertas tersebut dengan berani.
Agar permainan ini dapat terlaksana dengan menarik dan tujuan permianan tercapai, guru harus dapat memberikan intruksi dengan jelas, membangun suasana yang positif, suportif dengan menegaskan bahwa aktivitas ini adalah ruang aman untuk belajar berani, bukan tempat untuk mencari benar atau salah. Ketika seluruh siswa memahami tata cara permainan tersebut, maka permainan bisa dilaksanakan. Di mana setiap siswa secara bergiliran maju ke depan kelas untuk mengambil satu gulungan kertas dari wadah toples bening tersebut. Pengambilan dilakukan secara mandiri oleh siswa untuk memberikan sensasi memilih “takdir keberanian” mereka sendiri dari balik kaca toples. Setelah mendapatkan kertasnya, siswa langsung membuka gulungan tersebut di hadapan semua orang, lalu melaksanakan instruksi atau menjawab pertanyaan yang berada dalam kertas yang dipilih siswa dengan suara yang lantang dan jelas. Disesi akhir permainan, guru dan siswa lain bersama-sama akan menanggapi dan merespon jawaban dari siswa yang tampil didepan kelas dengan memberikan apresiasi (tepuk tangan yang meriah) serta kalimat-kalimat yang membangun.
(Kesalahan Umum dalam Pelaksanaan Permainan Peningkatan Percaya Diri Siswa)
1. Penyampaian instruksi yang disampaikan guru kurang jelas, sehingga siswa kurang paham dan bingung akan aturan permainan yang disampaikan guru. Untuk mengatasi kesalahan tersebut, guru sebaiknya menjelaskan aturan dan tata cara memainkan game tersebut dengan jelas dan perlahan agar setiap siswa bisa memahaminya.
2. Jawaban yang disampaikan siswa tidak sesuai dengan isi pertanyaan atau instruksi dalam gulungan kertas. Untuk mengatasi kesalahan tersebut, guru perlu memberikan contoh terlebih dahulu di awal permainan dan memberikan arahan/bimbingann kepada siswa apabila siswa kurang memahami instruksi dari gulungan kertas tersebut.
3. Siswa yang pasif enggan untuk mengambil gulungan kertas atau malu untuk menjawab pertanyaan dari kertas tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu membangun suasana uang aman kepada siswa, sehingga siswa merasa percaya diri untuk tampil didepan kelas, dan memberikan pujian atau dukungan kepada siswa.
Dari yang sudah dibahas sebelumnya, dapat kita tarik kesimpulan bahwa pendidikan yang ideal harus mampu menyelaraskan aspek kognitif dengan pengembangan afektif, salah satunya melalui penguatan kualitas percaya diri peserta didik. Kehadiran inovasi game edukatif SAGURIAN (Satu Gulungan Seribu Harapan) terbukti menjadi solusi media bimbingan yang praktis, ekonomis, dan efektif untuk memecah dinding kecemasan serta ketakutan siswa saat tampil di depan umum. Melalui pemanfaatan alat sederhana seperti kertas cetak, toples bening, dan butiran mutiara yang dikemas dalam skenario petualangan mental, permainan ini berhasil mengubah persepsi siswa bahwa tampil di depan kelas adalah hal yang aman, interaktif, dan menyenangkan. Meskipun dalam praktiknya terdapat beberapa potensi kendala lapangan seperti instruksi guru yang kurang jelas, jawaban siswa yang melenceng, atau adanya siswa yang pasif hal tersebut dapat diantisipasi dengan baik. Melalui penyampaian aturan yang perlahan, pemberian contoh di awal sesi, serta penciptaan suasana kelas yang suportif tanpa penghakiman benar atau salah, game SAGURIAN mampu mencapai tujuan utamanya. Inovasi ini menegaskan bahwa pembentukan karakter pemberani dan mandiri pada generasi muda tidak selalu membutuhkan metode yang rumit, melainkan membutuhkan kreativitas guru bimbingan dan konseling dalam menyediakan ruang belajar yang menghargai setiap proses usaha peserta didik.
Oleh: Andin Alingga Denata, Firda resti Anjar Sari, Rafi Surya Pratista, Endang Agustina Br Ketaren, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Pendidikan Ganesha
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































