Ketika ribuan murid menunggu pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 pada Senin (25/5/2026), suasana yang sama juga dirasakan Kania Putri Rahmadanti. Murid kelas XII D MAN 1 Yogyakarta itu menatap layar telepon genggamnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan: cemas, berharap, sekaligus mencoba bersiap untuk hasil apa pun.
Beberapa detik kemudian, jawaban yang ditunggu itu muncul. Namanya dinyatakan diterima pada Program Studi Bisnis Kreatif (D4) di Universitas Indonesia melalui jalur SNBT 2026. Kania tidak langsung melompat kegirangan. Perasaan pertama yang datang justru rasa lega.
“Senang sekaligus lega,” katanya.
Orang pertama yang menerima kabar bahagia itu adalah kedua orang tuanya. Setelah itu, ia menghubungi teman-teman terdekatnya. Di rumah, reaksi keluarga bermacam-macam. Ada yang terharu, ada yang bahagia, dan ada yang bahkan tak menyangka.
Namun di balik layar pengumuman yang hanya dibuka dalam hitungan detik, ada proses panjang yang berjalan selama berbulan-bulan. Kania mengaku mulai serius mempersiapkan SNBT sejak awal kelas XII. Ia tidak memiliki cara belajar yang rumit. Ia memilih membangun kebiasaan yang konsisten: mengerjakan soal setiap hari, membahas kembali jawaban, lalu mencari bagian mana yang masih menjadi kelemahan.
“Saya biasanya mengerjakan beberapa soal setiap hari dengan target yang konsisten, lalu membahas jawaban-jawabannya dan mengevaluasi kekurangan saya di bagian mana,” ujarnya.
Di luar pembelajaran di sekolah, ia menargetkan belajar setidaknya empat jam setiap hari. Tidak selalu pada jam yang sama, tetapi target itu hampir selalu ia usahakan tercapai. Empat jam mungkin terdengar biasa. Namun ketika dilakukan terus-menerus selama berbulan-bulan, waktu itu perlahan berubah menjadi proses yang membentuk hasil.
Tentu saja perjalanan menuju kampus impian tidak selalu berjalan mulus. Bagi Kania, materi yang berhubungan dengan matematika menjadi tantangan tersendiri. Ketika menemui kesulitan, ia biasanya mencoba mencari jawaban sendiri terlebih dahulu atau berdiskusi dengan teman. Jika masih belum memahami, ia memilih bertanya langsung kepada guru. Sesekali, ia juga memberi dirinya waktu untuk berhenti sejenak.
“Kalau memang sudah terlalu lelah, biasanya saya istirahat sebentar supaya bisa berpikir lebih jernih lagi,” katanya.
Sebab selama proses itu, rasa lelah juga kerap datang. Ada masa-masa ketika keinginan untuk menyerah muncul di tengah perjalanan. Namun, menurut Kania, rasa lelah justru menjadi pengingat bahwa ia sedang berproses.
“Pasti pernah merasa lelah atau ingin menyerah. Tapi biasanya rasa lelah itu yang membuat saya ingin mencoba lagi keesokan harinya,” ujarnya.
Ada hal-hal yang juga harus dikorbankan. Waktu bermain dan berkumpul bersama teman menjadi lebih sedikit. Akhir pekan yang biasanya identik dengan waktu santai, lebih sering ia gunakan untuk mengerjakan latihan soal.
Meski begitu, ia merasa tidak pernah benar-benar berjalan sendirian. Kania menyebut kedua orang tuanya sebagai sosok yang paling banyak mendukung perjuangannya. Selain keluarga, teman-teman terdekat juga menjadi sumber semangat yang tak kalah besar.
“Teman-teman saya sering meluangkan waktu untuk membantu belajar. Dukungan dan doa dari orang-orang di sekitar saya juga sangat berkesan,” katanya.
Bagi Kania, dukungan itu juga hadir dari lingkungan sekolah. Menurutnya, selama belajar di MAN 1 Yogyakarta, guru dan lingkungan sekolah tidak hanya menyediakan fasilitas pembelajaran, tetapi juga memberi dukungan dan pendampingan selama proses persiapan SNBT.
Kini, langkah baru telah menunggunya. Kania memilih Program Studi Bisnis Kreatif karena merasa bidang tersebut sesuai dengan minatnya. Sistem pembelajaran vokasi yang lebih banyak praktik, ditambah kesempatan magang pada semester lima, membuatnya melihat peluang yang lebih dekat dengan dunia kerja yang ingin ia tekuni di masa depan.
Ia berharap dapat menjalani perkuliahan dengan baik, memperoleh hasil terbaik, serta berkarier sesuai bidang yang dipelajarinya. Di akhir percakapan, Kania meninggalkan pesan sederhana untuk teman-temannya yang masih berjuang mengejar kampus impian.
“Kalian semua hebat dengan cara masing-masing. Semua orang akan dapat bagiannya pada waktu dan cara yang terbaik. Kerja keras kalian pasti akan terbayarkan dalam bentuk sebaik-baiknya menurut Allah. Take your time and give it your best, guys!”
Mungkin memang begitu cara mimpi bekerja. Ia tidak selalu datang melalui langkah yang besar. Kadang-kadang, ia tumbuh dari hal-hal yang tampak sederhana: satu target soal yang diselesaikan hari ini, satu akhir pekan yang dikorbankan, lalu keberanian untuk kembali mencoba pada hari berikutnya. (dee)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































