Tangannya sempat gemetar ketika membuka laman pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Azka Faura Khansa masih mengingat betul momen itu. Di layar telepon genggamnya muncul sebuah barcode, penanda yang selama berbulan-bulan ia tunggu dengan cemas.
Belum sempat membaca lebih jauh, air matanya lebih dulu jatuh. “Langsung nangis senang banget,” kata murid kelas XII B MAN 1 Yogyakarta itu.
Hari itu, Azka membuka pengumuman SNBT bersama ibunya di kamar. Tak ada suasana yang berlebihan. Hanya dua orang yang duduk berdampingan, menunggu hasil dari perjalanan panjang yang selama ini dijalani dengan diam-diam: latihan soal, pulang-pergi les, begadang, hingga rasa takut gagal yang datang berkali-kali.
Ketika namanya dinyatakan diterima pada Program Studi Manajemen Kebijakan Publik di Universitas Gadjah Mada, Azka langsung memeluk ibunya sambil menangis. Setelah itu, kabar bahagia tersebut segera menyebar ke keluarga dan teman-teman terdekatnya.
Bagi Azka, diterima melalui jalur SNBT sebenarnya terasa seperti sesuatu yang nyaris tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Keterima SNBT itu kayak momen yang enggak pernah terbayangkan,” ujarnya.
Jika harus menggambarkan perjuangannya menuju SNBT dalam satu kata, Azka memilih kata: dinamis. Sebab prosesnya memang tidak pernah benar-benar lurus. Ada hari-hari ketika semuanya terasa berjalan baik, tetapi ada juga fase ketika rasa lelah dan kecewa datang hampir bersamaan.
Salah satu momen paling berat yang pernah ia alami adalah ketika gagal di jalur SNBP. “Rasanya sedih banget, tapi tetap harus lanjut belajar buat SNBT,” katanya. Alih-alih larut dalam kekecewaan, Azka memilih bangkit pelan-pelan. Ia kembali membuka buku, mengerjakan latihan soal, dan menata ulang ritme belajarnya.
Di tengah persiapan SNBT, Azka menyadari bahwa dirinya bukan tipe yang bisa sepenuhnya disiplin mengikuti jadwal. Ia lebih sering belajar mengikuti suasana hati. Namun keberadaan bimbingan belajar membuatnya memiliki dorongan untuk tetap konsisten.
Setiap hari, ia menjalani rutinitas yang cukup melelahkan: pergi les dengan jarak pulang-pergi sekitar 16 kilometer dari rumah, lalu melanjutkan belajar hingga tengah malam. Malam menjadi waktu favoritnya untuk belajar. Meski begitu, sejak pagi hingga siang, pikirannya tetap dipenuhi materi dan latihan soal dari tempat bimbingan belajar.
Ada kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan sebelum mulai belajar. Ia memastikan meja belajarnya rapi dan menaruh tumbler berisi minuman di dekatnya. Hal sederhana, tetapi membuatnya lebih nyaman bertahan berjam-jam di depan buku dan layar soal.
Selain mengerjakan latihan soal, Azka juga terbiasa menulis ulang materi yang sering ia lupa pada sticky notes, lalu menempelkannya di dekat meja belajar. Ia juga menggunakan aplikasi belajar daring untuk membantu memahami tipe-tipe soal SNBT.
Namun di balik semua rutinitas itu, ada hal lain yang diam-diam paling sering ia lawan: rasa malas, distraksi telepon genggam, dan ketakutan gagal. “Pasti pernah capek sampai nangis,” katanya pelan. Saat rasa jenuh datang, Azka biasanya mencoba mengingat kembali tujuan awalnya: ingin lolos dan membanggakan orang tua. Ia sering berbicara kepada dirinya sendiri bahwa perjuangan itu tinggal sedikit lagi. Kalimat sederhana itu menjadi cara untuk membuat dirinya kembali berdiri.
Selama proses belajar, Azka juga mulai merasakan perubahan besar dalam dirinya. Bukan hanya nilai yang meningkat, tetapi juga cara mengatur waktu dan menghadapi tekanan. Ia belajar bahwa mengejar kampus impian bukan sekadar soal belajar berjam-jam. Menurut Azka, banyak orang terlalu fokus pada lamanya belajar, tetapi melupakan konsistensi dan “jalur langit”. “Bukan tentang siapa yang belajar paling lama, tapi siapa yang konsisten setiap hari walaupun cuma dua atau tiga jam,” ujarnya.
Lingkungan belajar di MAN 1 Yogyakarta juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Azka. Baginya, budaya disiplin di sekolah, pembiasaan pagi, serta lingkungan teman-teman yang ambisius memberi pengaruh besar terhadap semangat belajarnya. “Kalau dikelilingi teman-teman yang semangat mengejar PTN, kita jadi ikut semangat juga,” katanya.
Azka merasa Program Studi Manajemen Kebijakan Publik merupakan bidang yang dekat dengan dirinya. Sebagai siswa rumpun sosial humaniora, ia merasa jurusan itu dapat menjadi ruang untuk berkembang dan memahami persoalan sosial secara lebih luas.
Sementara memilih UGM, menurutnya, bukan hanya soal nama besar kampus. Selain karena berada di Yogyakarta, UGM juga memiliki lingkungan akademik dan jaringan alumni yang ia kagumi sejak lama.
Kini, setelah berhasil melewati satu pintu penting dalam hidupnya, Azka memahami bahwa perjuangan menuju mimpi ternyata tidak selalu tentang siapa yang paling kuat. Kadang, yang paling penting justru kemampuan untuk tetap berjalan meski berkali-kali merasa lelah.
Di akhir percakapan, Azka menyampaikan pesan untuk teman-teman yang masih berjuang mengejar kampus impian mereka.
“Semangattt… semua usaha kalian enggak akan sia-sia. Allah pasti sudah menyiapkan jalan terbaik. Kecewa pasti ada, tapi SNBT bukan satu-satunya jalan untuk meraih mimpi,” katanya.
Barangkali mimpi memang tidak hadir sekaligus dalam satu lompatan besar. Tidak selalu lewat langkah besar yang langsung mengubah segalanya, tetapi dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang setiap hari: meja belajar yang dipenuhi sticky notes, perjalanan les yang melelahkan, malam-malam panjang yang dihabiskan untuk belajar, serta doa-doa yang diam-diam terus dipanjatkan di sela perjuangan. (dee)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































