Sampah rumah tangga adalah masalah yang terus tumbuh seiring bertambahnya jumlah penduduk, namun penanganannya di tingkat akar rumput sering kali masih jauh dari memadai. Menjawab persoalan ini, sebuah program pengabdian kepada masyarakat digelar di RW 01 Desa Purwodadi, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, dengan mengusung sosialisasi tempat sampah terpilah yang dilengkapi inovasi alat press botol plastik. Program ini secara khusus menyasar bapak-bapak sebagai kepala keluarga sekaligus tokoh yang aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan, dengan harapan kebiasaan memilah sampah dapat tumbuh dari lini yang selama ini jarang tersentuh edukasi lingkungan.
Kegiatan pengabdian ini lahir dari kesadaran bahwa perubahan perilaku masyarakat terhadap sampah tidak cukup hanya disampaikan lewat imbauan atau spanduk di pinggir jalan. Dibutuhkan pendekatan yang langsung menyentuh, mudah dipahami, dan memberi manfaat nyata bagi warga. Oleh karena itu, tim pengabdian menghadirkan alat press botol sebagai solusi praktis yang mampu memadatkan sampah botol plastik menjadi lebih ringkas, mudah disimpan, mudah diangkut, bahkan berpotensi memiliki nilai ekonomis jika dikelola melalui bank sampah desa. Pendekatan berbasis solusi teknis semacam ini terbukti lebih efektif menarik minat bapak-bapak dibandingkan sekadar teori pemilahan sampah organik dan anorganik semata.
Dalam pelaksanaannya, sosialisasi tidak hanya berisi penjelasan teori, tetapi juga demonstrasi langsung penggunaan tempat sampah terpilah dan alat press botol kepada warga. Bapak-bapak RW 01 diajak mencoba sendiri cara memilah sampah sesuai jenisnya, kemudian mempraktikkan cara mengoperasikan alat press hingga botol-botol plastik berubah bentuk menjadi lebih padat dan rapi. Pendekatan partisipatif seperti ini penting, sebab pengetahuan yang dialami langsung oleh tangan sendiri akan lebih membekas dan mudah diterapkan kembali di rumah masing-masing, dibandingkan hanya mendengarkan penyuluhan secara satu arah.
Program pengabdian ini juga membawa pesan penting bahwa persoalan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau kalangan akademisi, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk bapak-bapak yang selama ini kerap dianggap berada di luar isu domestik seperti pengelolaan sampah rumah tangga. Ketika kepala keluarga memahami dan mempraktikkan cara memilah sampah dengan benar, nilai tersebut akan lebih mudah menular kepada anggota keluarga lain, sehingga tercipta budaya bersih yang tumbuh dari dalam rumah tangga itu sendiri, bukan sekadar aturan yang dipaksakan dari luar.
Sebagai penutup, kegiatan pengabdian di RW 01 Desa Purwodadi ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan menjadi pemantik perubahan perilaku yang berkelanjutan. Keberadaan tempat sampah terpilah dan alat press botol hanyalah sarana; keberhasilan sesungguhnya terletak pada konsistensi warga dalam memanfaatkannya sehari-hari. Jika model pengabdian berbasis solusi praktis semacam ini terus direplikasi di desa-desa lain, bukan tidak mungkin Gresik akan memiliki lebih banyak kampung yang bersih, tertata, dan warganya sadar akan pentingnya mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































