Rencana Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperluas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke Sekolah Indonesia di Jeddah, Arab Saudi, menarik perhatian publik. Program yang selama ini menjadi salah satu kebijakan unggulan pemerintah tersebut disebut akan diuji coba bagi siswa Sekolah Indonesia di Jeddah dengan menyesuaikan menu dan bahan pangan yang tersedia secara lokal. Sekilas, langkah ini terlihat sebagai bentuk perhatian negara terhadap seluruh warga negaranya, termasuk mereka yang berada di luar negeri. Namun, jika ditelaah lebih jauh, muncul pertanyaan penting: apakah perluasan program ini sudah menjadi kebutuhan yang paling mendesak saat ini?
Sebagai negara yang masih berjuang menghadapi persoalan stunting, ketimpangan akses pangan, dan kualitas gizi anak yang belum merata, Indonesia memiliki pekerjaan rumah yang tidak sedikit. Program MBG pada dasarnya lahir untuk menjawab persoalan tersebut. Kehadirannya diharapkan mampu membantu anak-anak mendapatkan asupan gizi yang lebih baik sehingga dapat menunjang kesehatan dan proses belajar mereka. Karena itu, keberhasilan program ini seharusnya diukur dari seberapa besar dampaknya dalam mengatasi masalah gizi yang masih terjadi di berbagai daerah Indonesia.
Di sisi lain, pelaksanaan MBG di dalam negeri masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari distribusi, kesiapan sarana pendukung, hingga pengawasan pelaksanaan program di lapangan. Bahkan, masih banyak masyarakat yang mempertanyakan efektivitas dan pemerataan program tersebut. Dalam kondisi seperti ini, wajar apabila sebagian publik mempertanyakan alasan pemerintah mulai membicarakan ekspansi program ke luar negeri.
Bukan berarti siswa Indonesia yang berada di luar negeri tidak berhak mendapatkan manfaat yang sama. Mereka tetap merupakan warga negara Indonesia yang memiliki hak untuk memperoleh pelayanan dari negara. Akan tetapi, dalam kebijakan publik terdapat prinsip prioritas. Ketika sumber daya, anggaran, dan tenaga masih dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan di dalam negeri, pemerintah perlu memastikan bahwa program yang menjadi prioritas utama benar-benar telah berjalan dengan baik sebelum memperluas cakupannya.
Selain itu, pemilihan Sekolah Indonesia di Jeddah sebagai lokasi proyek percontohan juga perlu dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat. Apa indikator yang digunakan? Mengapa Jeddah yang dipilih? Apa urgensinya dibandingkan kebutuhan yang masih ada di berbagai daerah Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab agar kebijakan yang diambil tidak menimbulkan persepsi bahwa pemerintah lebih berfokus pada perluasan program daripada penyempurnaan pelaksanaannya.
Dari sudut pandang lain, rencana ini sebenarnya dapat dipahami sebagai upaya pemerintah untuk menunjukkan bahwa negara hadir bagi seluruh warga negara tanpa memandang lokasi tempat tinggalnya. Jika memang tujuannya untuk menguji model pelayanan gizi bagi komunitas Indonesia di luar negeri, maka hal tersebut bisa menjadi langkah yang cukup progresif. Namun, keberhasilan sebuah program tidak hanya ditentukan oleh niat baik, melainkan juga oleh ketepatan waktu dan ketepatan sasaran.
Menurut penulis, pemerintah sebaiknya lebih memfokuskan energi dan sumber daya untuk memastikan Program MBG berjalan optimal di seluruh wilayah Indonesia terlebih dahulu. Ketika pemerataan akses dan kualitas pelaksanaan program telah tercapai, perluasan ke luar negeri akan lebih mudah diterima publik karena dilakukan atas dasar keberhasilan yang nyata, bukan sekadar ambisi memperluas jangkauan program.
Pada akhirnya, rencana MBG untuk Sekolah Indonesia di Jeddah bukanlah kebijakan yang sepenuhnya keliru. Namun, kebijakan publik yang baik harus mampu menjawab kebutuhan yang paling mendesak terlebih dahulu. Di tengah masih adanya berbagai persoalan gizi dan ketimpangan layanan di dalam negeri, pemerintah perlu menunjukkan bahwa prioritas utama tetap berada pada anak-anak Indonesia yang masih membutuhkan perhatian lebih besar. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah kebijakan bukan terletak pada seberapa jauh program itu menjangkau, melainkan seberapa efektif program tersebut menyelesaikan masalah yang menjadi alasan awal keberadaannya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































