SAMARINDA – Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, apa sebenarnya hobi kita saat ini? Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun tidak selalu mudah untuk dijawab. Banyak anak muda dapat menyebutkan aplikasi media sosial yang paling sering mereka gunakan, akun favorit yang mereka ikuti, atau tren terbaru yang sedang viral. Namun ketika ditanya aktivitas yang benar-benar mereka tekuni secara rutin di luar pekerjaan, kuliah, dan kewajiban sehari-hari, jawabannya sering kali tidak sejelas itu.
Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Data yang dipublikasikan Kumparan berdasarkan laporan We Are Social menunjukkan bahwa sekitar 180 juta masyarakat Indonesia menggunakan media sosial dengan rata-rata waktu penggunaan mencapai tiga jam per hari. Sementara itu, laporan Databoks menunjukkan bahwa TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi platform yang paling banyak digunakan oleh generasi Z dan milenial di Indonesia. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian besar waktu luang generasi muda kini tidak jauh dari aktivitas menggulir layar ponsel.
Tingginya intensitas penggunaan media sosial juga terlihat dalam berbagai penelitian. Salah satu penelitian terhadap mahasiswa Generasi Z di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar responden menggunakan media sosial selama 2 hingga 3 jam per hari, sementara 41 persen lainnya menghabiskan sekitar 4 jam per hari, dengan TikTok menjadi platform yang paling banyak digunakan oleh responden.. Kondisi ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi salah satu aktivitas utama dalam kehidupan sehari-hari generasi muda.
Masalahnya, penggunaan media sosial sering kali dianggap sebagai bentuk hiburan yang sama dengan hobi. Padahal keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Hobi merupakan aktivitas yang dilakukan secara sukarela karena minat dan kesenangan pribadi. Membaca buku, bermain musik, menulis, melukis, merawat tanaman, memasak, atau berolahraga merupakan contoh aktivitas yang melibatkan keterampilan, proses belajar, dan pengalaman yang berkembang dari waktu ke waktu.
Sebaliknya, aktivitas scrolling di media sosial lebih banyak menempatkan pengguna sebagai konsumen informasi. Dalam hitungan menit, seseorang dapat berpindah dari video hiburan, berita, promosi produk, hingga kehidupan pribadi orang lain tanpa menghasilkan keterlibatan yang mendalam. Aktivitas ini memang memberikan hiburan yang instan, tetapi tidak selalu memberikan kepuasan yang sama seperti ketika seseorang berhasil menyelesaikan sebuah lukisan, menamatkan buku, atau menguasai kemampuan baru.
Penelitian internasional yang dilakukan Khan dan Hamad pada mahasiswa Lebanese French University menemukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kepuasan waktu luang dan kecanduan media sosial. Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecanduan media sosial seseorang, semakin rendah tingkat kepuasan yang diperoleh dari aktivitas waktu luangnya. Hasil penelitian ini menarik karena mengindikasikan bahwa waktu luang yang didominasi media sosial belum tentu menghasilkan pengalaman yang benar-benar memuaskan.
Di sisi lain, algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Setiap video pendek, notifikasi, dan rekomendasi konten mendorong pengguna untuk terus bertahan di dalam aplikasi. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih panjang sering kali terasa membosankan. Membaca novel ratusan halaman terasa berat. Belajar alat musik membutuhkan kesabaran yang tidak sedikit. Bahkan menonton film berdurasi dua jam kini dianggap terlalu lama oleh sebagian orang.
Jika kondisi ini terus berlangsung, yang hilang bukan lagi cuma waktu. Generasi muda berisiko kehilangan ruang untuk mengembangkan minat, kreativitas, dan kemampuan yang tumbuh melalui proses jangka panjang. Hobi selama ini berperan sebagai sarana pengembangan diri, pelepas stres, sekaligus sumber kepuasan personal yang tidak bergantung pada validasi orang lain. Ketika waktu luang lebih banyak dihabiskan untuk mengonsumsi konten, kesempatan untuk membangun pengalaman tersebut menjadi semakin sempit.
Tulisan ini bukan ajakan untuk meninggalkan media sosial. Media sosial tetap memiliki banyak manfaat, mulai dari memperoleh informasi hingga memperluas jaringan pertemanan. Namun di tengah derasnya arus konten digital, generasi muda perlu kembali mempertanyakan satu hal sederhana. Apakah waktu luang yang kita miliki benar-benar digunakan untuk melakukan hal yang kita sukai, atau hanya habis untuk terus menggulir layar tanpa tujuan yang jelas?
Mungkin sudah saatnya kita kembali menemukan hobi yang memberi kita makna, bukan sekadar hiburan yang sifatnya hanya sesaat.
Oleh: Nisrina Zaahiyah Basunari – Universitas Mulawarman
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































