Perkembangan teknologi digital di zaman sekarang telah memudahkan seluruh penggunanya untuk mengakses informasi. Namun, kemudahan itu dapat disalahgunakan dengan menyebarkan informasi hoax atau palsu. Saat ini hoax tidak hanya ada di kalangan orang dewasa tetapi juga anak – anak sekolah dasar yang sekarang mulai aktif menggunakan internet dan media sosial perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi yang benar dan tidak benar. Siswa sekolah dasar merupakan kelompok yang berada pada tahap perkembangan kognitif dan sosial yang penting. Pada saat usia ini, rasa ingin tahu yang tinggi juga sering kali mendorong mereka untuk menerima dan memberikan informasi tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi yang dapat membantu siswa memahami pentingnya memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya kepada orang lain.
Saya Alya Shalsabila Lubis dengan NIM 240902081 adalah mahasiswa semester empat Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU). Di bawah arahan dosen mata kuliah Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat (COCD), Bapak Dr. Agus Suriadi S.Sos., M.Si., saya telah melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat di Sekolah Dasar Swasta IKAL MEDAN yang beralamat di Jl. Jongkong No. 23B, Helvetia Timur, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, Sumatera Utara 20117. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2026 ini bertujuan untuk meningkatkan edukasi tentang hoax kepada siswa sekolah dasar.
Kegiatan edukasi literasi digital ini dilaksanakan dengan menggunakan metode ceramah interaktif, diskusi, dan permainan edukatif. Sasaran kegiatan adalah siswa sekolah dasar yang mengikuti program edukasi ini. Tahap pertama kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pengertian hoax, ciri-ciri hoax, contoh hoax, dan cara menghindari hoax. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif dengan melibatkan siswa melalui pertanyaan-pertanyaan singkat yang saya berikan selama penyampaian materi. Setelah penyampaian materi, kegiatan selanjutnya adalah permainan edukatif “Hoax atau Fakta”. Dalam permainan ini, siswa terlihat antusias saat mengikuti permainan hoax atau fakta. Mekanisme permainannya saya membacakan beberapa pernyataan atau informasi, kemudian mereka menentukan apakah informasi tersebut termasuk hoax atau fakta. Melalui permainan ini, siswa diajak untuk berpikir kritis, berdiskusi, dan menerapkan pemahaman yang telah diperoleh selama penyampaian materi.
Kegiatan edukasi literasi digital ini berjalan dengan baik dan mendapat respons yang positif dari seluruh siswa. Selama penyampaian materi, siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan memperhatikan penjelasan yang diberikan serta aktif merespon jika ada pertanyaan. Setelah sesi penyampaian materi selesai, kegiatan selanjutnya adalah permainan games “Hoax atau Fakta” sebagai bentuk penerapan materi yang telah dipelajari. Dalam permainan ini seluruh siswa mampu mengidentifikasi pernyataan yang termasuk fakta maupun hoax dengan tepat. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh siswa telah memahami konsep dasar mengenai hoax dan pentingnya memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayainya.
Melalui permainan yang dilakukan secara interaktif, siswa tidak hanya menerima materi secara pasif tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Metode ini membantu seluruh siswa memahami materi dengan lebih mudah karena disajikan dalam bentuk yang menyenangkan sesuai dengan usia mereka. Selain itu, suasana kompetitif saat permainan games mampu meningkatkan partisipasi dan kepercayaan diri siswa untuk memberikan jawabannya.
Secara keseluruhan, kegiatan edukasi yang dipadukan dengan permainan “Hoax atau Fakta” terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai hoax dan cara menyikapinya. Metode pembelajaran yang interaktif mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mendorong siswa untuk berpikir lebih kritis dalam menerima informasi dari berbagai media sosial.
Berdasarkan kegiatan yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa edukasi literasi digital melalui metode ceramah interaktif dan permainan “Hoax atau Fakta” mampu meningkatkan pemahaman siswa sekolah dasar mengenai hoax dan cara mengidentifikasi informasi yang benar. Kegiatan ini juga mendorong siswa untuk lebih bijak dalam menggunakan media digital serta tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































