Pernah tidak, setelah melihat video TikTok tentang skincare, sepatu, atau makanan, tiba-tiba muncul keinginan untuk membeli? Lalu di kolom komentar banyak orang menulis, “Kak, jangan ngeracunin aku terus!” Padahal, kalau dipikir-pikir, kata racun seharusnya identik dengan sesuatu yang berbahaya. Lalu, kenapa sekarang justru dipakai untuk menyebut rekomendasi produk?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), racun berarti zat yang dapat membahayakan tubuh. Namun, seiring berkembangnya media sosial, makna kata ini ikut berubah. Kini, racun lebih sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang membuat orang tergoda membeli atau mencoba suatu produk. Misalnya, seseorang yang berhasil membuat orang lain ingin checkout setelah menonton videonya sering disebut sedang ngeracunin.
Perubahan makna seperti ini merupakan salah satu contoh kajian semantik. Sebuah kata yang awalnya memiliki makna tertentu dapat memperoleh makna baru karena sering digunakan dalam konteks yang berbeda. Dalam hal ini, kata racun tidak lagi dipahami sebagai zat berbahaya, tetapi sebagai bentuk pengaruh atau rekomendasi yang menarik perhatian.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa bahasa selalu berkembang mengikuti kebiasaan masyarakat. Media sosial tidak hanya mengubah cara orang berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara sebuah kata dimaknai. Dari satu kata sederhana seperti racun, kita bisa melihat bahwa bahasa terus hidup dan berkembang bersama penggunanya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































