Teknologi Ai Memberikan dampak signifikan bagi bisnis digital. Teknologi AI tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkaya pengalaman pengguna melalui personalisasi layanan. Penggunaan AI dalam analitik data memungkinkan perusahaan untuk memahami perilaku pelanggan dengan lebih baik dan merespons kebutuhan mereka secara cepat¹. Namun, dengan semakin melonjaknya penggunaan teknologi ini, muncul berbagai tantangan, khususnya dalam konteks perlindungan data pribadi.
Pentingnya perlindungan data pribadi dalam era digital tidak dapat dipandang sebelah mata, terutama mengingat banyaknya kasus penyalahgunaan data yang terjadi. Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) hadir sebagai payung hukum untuk mengatur pengelolaan dan perlindungan data pribadi². Meski begitu, tantangan dalam implementasi hukum ini masih tetap ada, seperti lemahnya ketentuan penegakan hukum dan kurangnya pendidikan mengenai hak-hak privasi di kalangan masyarakat³.
Dari sisi regulasi, bisnis digital dihadapkan pada dua tantangan besar: konsistensi kepatuhan terhadap peraturan yang ada dan peningkatan kepercayaan konsumen. Terutama di bidang fintech dan layanan pinjaman online, banyak pelaku usaha yang belum mematuhi standar keamanan yang ditetapkan, sehingga meningkatkan risiko kebocoran. Hal ini menunjukkan perlunya kolaborasi yang lebih baik antara pemerintah, penyedia layanan,
[T. Metode yang saya gunakan kualitatif alasan saya memilih metode ini di karenakan penelitian ini berisi tentang bahaya teknologi Ai kenapa saya memilih tema di karenakan saya lihat Ai ini di gunakan untuk menyebarkan kebohongan karena Ai sekarang semakin mirup dengan aslinya yang saya takutkan adalah para orang tua dan orang yang buta akan teknologi itu bisa menjadi propaganda dan tindakan kriminal karena hanya dengan satu perintah itu bisa jadi video seperti
Kemarin saya melihat Video pemberinthan tentang hujan yang turun di provinsi jawa ttimu
Dan seperti mengeditphoto seseorang dengan pakaian tidak senonoh itu akan bisa kenal pelecehan seksual.
Oleh karena Itu teknologi Ai ini bisa jadi bumerang ataupun pelopor teknologi Canghi karena dengan menggunakan Ai dengan baik itu bisa menjadi pelopor teknologi Canghi seperti sekarang banyak mahasiswa yang ingin membuat power point ataupun membuat tugas ide karya seni cukup menggunakan Ai tugas itu akan selesai begitu cepat karena dulu waktu kita ingin membuat power point ide karya seni kita harus bergadang siang hingga malam dan harus mempunyai leptop ataupun komputer sekarang cukup menggunakan satu perintah kita bisa membuat power point ataupun ide karya seni Dengan cepat bukan hanya membikin tugas Ai juga bisa di gunakan sebagai teman ngobrol ataupun curhat bagi kita yang merasa introvert ataupun malu memulai pembicaraan seperti Ai Gemini dan Ai chat gpt.
Teknologi Ai adalah teknologi adalah buatan manusia teknologi yang banyak sekali cacat
Ini adalah beberapa kerangka pembahasan tentang teknologi Ai :
I.Definisi Ai atricficiek intelijen
Ai merpukan teknologi buatan manusia teknologi baru di temukan awal 90 an tepatnya pada tahun 1900 hingga 1930 dan sampai sekarang teknologi Ai terus berkembang Claude Shannon, dan John von Neumann. Merpukan tokoh yang paling penting perkembangan teknologi Ai
Perlu diingat bahwa memasuki era 1950-an, dunia sudah memiliki komputer digital. Komputer muncul pertama kali pada 1946 sesudah Perang Dunia II. Awalnya, komputer diciptakan di Amerika untuk keperluan perang, namun karena perang sudah berakhir, mesin komputer tersebut digunakan oleh Departemen Statistik untuk mengolah data besar demi kepentingan negara.
Memasuki era 1950-an, muncullah John McCarthy, Marvin Lee Minsky, Herbert Alexander Simon, Allen Newell, dan Edward Albert Feigenbaum yang mulai merumuskan istilah Al. Al muncul pertama kali pada 1956 di pertemuan di Dartmouth. Agi ng Kontribusi lainnya yang membawa perkemban komputer adalah bahasa LISP atau LISt Process merupakan bahasa pemrograman tingkat tinggi klasik. Lalu, ada iuga Semantic Network and Frame, expert system
Era 1980-an dikenal juga sebagai second wave of AI. Para ahli yang berkontribusi dalam era ini adalah David Rumelhart, Lotfi Zadeh, John Holland, Lawrence Fogel, Ingo Rechenberg, dan John Koza. Hasil penemuan mutakhir di era ini adalah sebagai berikut:
Learning of MLP
Fuzzy logic
Genetic algorithms
Evolutionary programming
Evolution strategy
Genetic programming
.
Perkembangan kecerdasan buatan yang ketiga bermula pada era 2000-an saat komputer dan internet sudah ada. Adapun produk-produk perkembangannya meliputi penemuan World Wide Web atau WWW oleh Tim Berners-Lee pada 1989, Internet of Things oleh Kevin Ashton pada 1999, sistem cloud yang dimulai dari 1950 dan terus dikembangan hingga 1990-an, munculnya istilah big data oleh John R. Mashey pada 1998, dan deep learning oleh Geoffrey Hinton pada 2006.
Dari guest lecture yang disampaikan Dr. Lukas tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan AI terbagi menjadi empat bagian, yakni dimulai dari perkembangan teori, gelombang pertama yang menandai munculnya pemikiran untuk memberikan pengetahuan bagi mesin, gelombang kedua ketika mesin mulai mengolah data yang dimasukkan, serta gelombang ketiga saat internet telah ditemukan.
Alhasil, kini AI telah berkembang jauh dan seiring dengan semakin canggihnya teknologi di masa depan, bukan tidak mungkin AI juga akan ikut tumbuh bersamanya.
Sejarah Singkat tentang Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) – Graduate Program https://share.google/qQfSKVVmTUA1uJ0dt.
Keuntungan dan kerugian menggunakan teknologi Ai
Dalam kehidupan sekarang yang seraba teknologi mulai kendaraan kesehatan hingga pendidikan semua berbasis teknologi apalagi sekarang ada namanya teknologi Ai
Dalam penggunaan teknologi Ai memiliki keuntungan dan kerugian
Keuntungan nya yaitu perkerjaan jadi lebih mudah karena adanya teknologi kita jadi lebih mudah melakukanberbagai perkerjaan dari pendidikan hingga desain grafis atupun perkerjaan lainnya tapi semua kemudahan tersebut tidak memiliki kerugian kerugian nya yaitu kita jadi males untuk berfikir karena teknologi Ai hanya dengan satu perintah semua dapat di kerjakan mulai membuat power point makalah hingga membuat jurnal selain membuat itu semua teknologi AI juga dapat mematikan industri desain grafis dan mengantikan peran manusia di karenakan dengan cukup satu perintah desain grafis terbuat sekejap mata tetapi perkerjaan dari tangan manusia sendiri tidak dapat di anggap remeh seperti karya desain grafis yang di buat dengan tangan sendiri bila sudah selesai dengan hasil memuaskan itu akan membuat hati kita merasa senang daripada seseorang yang cuman tinggal ketik perintah langsung jadi itu akan jauh berbeda pengunaan teknologi AI boleh saja tetapi otak kita harus kreatif dan kritis seperti mendesain dengan menggunakan teknologi AI kita harus merapikan dengan tangan kita sendiri jangan berharap kita ketik satu perintah desain itu akan bagus dan memuaskan tentu akan butuh campur tangan otak kita dalam menata ulang desain nya karena bagaimana pun juga teknologi AI juga buatan manusia yang bisa ada cacat nya.
Perkembangan teknologi Ai
Perkembangan teknologi menunjukkan tren yang semakin meningkat seiring dengan kemajuan teknologi digital dan kebutuhan efisiensi di berbagai sektor. AI tidak lagi dipandang sebagai teknologi masa depan semata, melainkan telah menjadi bagian dari solusi praktis dalam dunia industri, bisnis, pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan publik. Transformasi digital yang dipercepat oleh globalisasi dan revolusi industri 4.0 menjadi faktor utama pendorong adopsi AI di Indonesia.
Di sektor bisnis dan industri, teknologi AI mulai dimanfaatkan untuk analisis data, otomatisasi proses, sistem rekomendasi, serta layanan pelanggan berbasis chatbot. Perusahaan rintisan (startup) di bidang teknologi finansial, e-commerce, dan logistik menjadi pelopor penerapan AI guna meningkatkan kecepatan layanan dan ketepatan pengambilan keputusan. Penggunaan machine learning dan big data membantu perusahaan memahami perilaku konsumen secara lebih akurat dan efisien.
Dalam bidang kesehatan, teknologi AI mulai diterapkan untuk membantu diagnosis penyakit, pengolahan data rekam medis, serta pengembangan sistem pendukung keputusan medis. Sementara itu, di sektor pendidikan, AI digunakan dalam platform pembelajaran digital untuk menyesuaikan materi dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa AI memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas layanan publik dan sumber daya manusia.
Pemerintah negara juga berperan aktif dalam mendorong pengembangan AI melalui berbagai kebijakan dan program strategis, seperti peta jalan kecerdasan buatan nasional. Fokus utama pemerintah mencakup penguatan riset, peningkatan kompetensi SDM, serta pembangunan ekosistem AI yang beretika dan berkelanjutan. Namun demikian, penerapan AI di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan infrastruktur, kesenjangan keterampilan digital, serta kekhawatiran terkait keamanan dan privasi data.
Secara keseluruhan, perkembangan penerapan AI di Indonesia berada pada fase pertumbuhan yang menjanjikan. Tingkat penerimaan masyarakat dan pelaku industri terhadap AI terus meningkat, meskipun masih diperlukan edukasi, regulasi yang jelas, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta. Dengan pengelolaan yang tepat, AI berpotensi menjadi penggerak utama inovasi dan daya saing nasional di masa depan.
. Penelitian Yang saya binibuat bertujuan untuk menganalisis perkembangan penerapan teknologi Artificial Intelligence (AI) di Indonesia serta memahami faktor-faktor yang memengaruhi tingkat penerimaan dan niat penggunaan AI di kalangan masyarakat dan pelaku kerja. Fokus utama penelitian adalah untuk mengetahui sejauh mana AI telah diadopsi dalam berbagai sektor serta bagaimana sikap dan persepsi pengguna memengaruhi pemanfaatan teknologi tersebut.
Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara sikap individu terhadap AI dengan niat mereka dalam menggunakan teknologi tersebut dalam aktivitas profesional maupun organisasi. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui analisis regresi, penelitian ini berusaha mengukur pengaruh variabel sikap, persepsi manfaat, dan tingkat kepercayaan terhadap niat penggunaan AI.
Penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkap faktor-faktor penghambat dalam penerapan AI di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan isu keamanan data, privasi, dan kesiapan sumber daya manusia. Melalui analisis kualitatif, peneliti berupaya memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai kekhawatiran dan pandangan responden terhadap penggunaan AI di lingkungan kerja.
Secara keseluruhan, tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi aktual penerapan AI di Indonesia serta menghasilkan temuan yang dapat menjadi dasar pertimbangan bagi pelaku industri, pemerintah, dan akademisi dalam merumuskan kebijakan, strategi pengembangan, serta penelitian lanjutan terkait teknologi Artificial Intelligence.
V.Tingkat penerimaan teknologi AI di kalangan masyarakat
Berdasarkan hasil pengolahan data penelitian, tingkat penerimaan Artificial Intelligence (AI) di kalangan responden tergolong cukup tinggi. Mayoritas responden menunjukkan sikap positif terhadap penggunaan AI, khususnya dalam mendukung aktivitas kerja yang membutuhkan kecepatan, ketepatan, dan pengolahan data dalam jumlah besar. Hal ini mengindikasikan bahwa AI dipersepsikan sebagai teknologi yang mampu memberikan nilai tambah bagi kinerja individu maupun organisasi.
Hasil analisis menunjukkan bahwa persepsi manfaat memiliki peran penting dalam membentuk penerimaan AI. Responden yang memahami fungsi dan keunggulan AI, seperti otomatisasi pekerjaan rutin dan peningkatan efisiensi operasional, cenderung memiliki niat yang lebih besar untuk menggunakan teknologi tersebut. Temuan ini sejalan dengan teori penerimaan teknologi yang menyatakan bahwa manfaat yang dirasakan menjadi faktor utama dalam adopsi teknologi baru.
Namun demikian, penelitian juga menemukan adanya responden yang masih bersikap netral hingga ragu terhadap penggunaan AI. Keraguan tersebut umumnya disebabkan oleh kekhawatiran terhadap keamanan dan privasi data, serta potensi dampak AI terhadap keberlangsungan pekerjaan manusia. Faktor latar belakang pendidikan, jenis pekerjaan, dan tingkat literasi digital turut memengaruhi variasi penerimaan AI di antara responden.
Dalam konteks pembahasan, hasil ini menunjukkan bahwa meskipun penerimaan AI di Indonesia sudah berada pada arah yang positif, masih diperlukan upaya lanjutan untuk meningkatkan kepercayaan pengguna. Edukasi terkait penggunaan AI yang aman, transparan, dan beretika menjadi langkah penting untuk memperkuat penerimaan teknologi ini. Dengan dukungan regulasi dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia, AI berpotensi diadopsi secara lebih luas dan berkelanjutan di berbagai sektor.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sikap positif responden terhadap AI berkaitan erat dengan pengalaman mereka dalam menggunakan teknologi digital sebelumnya. Responden yang terbiasa menggunakan sistem berbasis teknologi cenderung lebih mudah menerima kehadiran AI dibandingkan dengan responden yang memiliki tingkat literasi digital yang lebih rendah. Hal ini menegaskan bahwa pengalaman teknologi menjadi faktor penting dalam membentuk sikap penerimaan.
Meskipun sebagian besar responden menunjukkan penerimaan yang baik, terdapat pula kelompok responden yang masih bersikap netral terhadap penggunaan AI. Sikap ini umumnya disebabkan oleh keterbatasan pemahaman mengenai cara kerja AI serta kurangnya informasi yang jelas mengenai manfaat praktis teknologi tersebut dalam bidang pekerjaan mereka. Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan sosialisasi dan edukasi terkait AI.
Selain itu, beberapa responden mengungkapkan kekhawatiran terhadap aspek keamanan dan privasi data. Mereka merasa bahwa penggunaan AI berpotensi menimbulkan risiko penyalahgunaan data pribadi maupun data organisasi jika tidak dikelola dengan sistem keamanan yang memadai. Kekhawatiran ini menjadi salah satu faktor utama yang menghambat penerimaan AI secara optimal.
Kekhawatiran lainnya berkaitan dengan dampak AI terhadap keberlangsungan lapangan kerja. Sebagian responden beranggapan bahwa otomatisasi yang dihasilkan oleh AI dapat menggantikan peran tenaga kerja manusia, khususnya pada pekerjaan yang bersifat rutin dan administratif. Persepsi ini memengaruhi sikap hati-hati responden dalam menerima penerapan AI di lingkungan kerja.
Dari sisi demografis, penelitian menemukan bahwa tingkat penerimaan AI cenderung lebih tinggi pada responden dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berkaitan dengan teknologi dan manajemen. Responden dalam kelompok ini cenderung melihat AI sebagai peluang untuk meningkatkan daya saing dan kualitas kinerja, bukan sebagai ancaman terhadap pekerjaan.
Hasil temuan ini sejalan dengan teori penerimaan teknologi, seperti Technology Acceptance Model (TAM), yang menyatakan bahwa persepsi manfaat dan kemudahan penggunaan berpengaruh terhadap niat penggunaan teknologi. Semakin besar manfaat yang dirasakan, maka semakin tinggi pula tingkat penerimaan pengguna terhadap teknologi tersebut.
Dalam pembahasan lebih lanjut, tingkat penerimaan AI yang cukup baik menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam mengadopsi teknologi AI secara lebih luas. Namun, potensi tersebut perlu didukung oleh kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur teknologi, serta regulasi yang menjamin penggunaan AI secara etis dan aman.
Secara keseluruhan, tingkat penerimaan AI di kalangan responden dapat dikategorikan positif namun masih memerlukan penguatan. Upaya peningkatan literasi digital, edukasi mengenai manfaat dan risiko AI, serta kebijakan yang jelas terkait keamanan data diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan dan penerimaan AI secara berkelanjutan di berbagai sektor.
Alasan kenapa teknologi AI berbahaya
Salah satu bahaya utama teknologi AI adalah ancaman terhadap privasi dan keamanan data. AI bekerja dengan mengumpulkan dan menganalisis data dalam jumlah besar, termasuk data pribadi pengguna. Banyak penelitian di Google Scholar menunjukkan bahwa penyalahgunaan data oleh sistem AI dapat menyebabkan kebocoran informasi, pencurian identitas, dan pengawasan berlebihan terhadap individu. Kondisi ini berpotensi melanggar hak privasi manusia yang seharusnya dilindungi oleh hukum.
Selain itu, AI juga menimbulkan risiko hilangnya lapangan pekerjaan. Otomatisasi yang didukung oleh AI memungkinkan mesin menggantikan peran manusia dalam berbagai sektor pekerjaan. Pekerjaan yang bersifat rutin dan administratif menjadi yang paling rentan tergantikan. Jika tidak diimbangi dengan peningkatan keterampilan sumber daya manusia, penggunaan AI dapat meningkatkan angka pengangguran dan memperlebar kesenjangan sosial.
Bahaya lain yang tidak kalah penting adalah bias dan ketidakadilan dalam sistem AI. AI dibuat berdasarkan data dan algoritma yang disusun oleh manusia. Apabila data yang digunakan mengandung bias, maka keputusan yang dihasilkan AI juga akan bias. Hal ini dapat menimbulkan diskriminasi, misalnya dalam proses rekrutmen kerja, penegakan hukum, atau penilaian kredit. Beberapa kajian akademik menegaskan bahwa AI berpotensi memperkuat ketidakadilan sosial jika tidak diawasi secara ketat.
Di sisi lain, penggunaan AI tanpa kontrol juga dapat mengancam nilai etika dan kemanusiaan. Ketergantungan berlebihan pada AI dapat mengurangi peran manusia dalam pengambilan keputusan penting. Bahkan, dalam beberapa kasus, AI digunakan untuk menyebarkan informasi palsu, manipulasi opini publik, dan kejahatan siber. Oleh karena itu, diperlukan regulasi yang jelas serta kesadaran etis dalam pemanfaatan teknologi AI.
Dengan demikian, meskipun AI memberikan banyak manfaat, potensi bahayanya tidak dapat diabaikan. Pengembangan dan penggunaan AI harus disertai dengan pengawasan hukum, etika, dan tanggung jawab sosial agar teknologi ini benar-benar memberikan manfaat bagi manusia, bukan sebaliknya.
Bahaya teknologi AI – Google Scholar https://share.google/d8UO1RhrmLdCkhVZM
Ancaman terhadap Privasi dan Keamanan Data
Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) membawa dampak signifikan terhadap cara data pribadi dikumpulkan, diolah, dan dimanfaatkan. AI bekerja dengan mengandalkan data dalam jumlah besar untuk menghasilkan analisis dan keputusan yang akurat. Data tersebut sering kali mencakup informasi pribadi seperti identitas, kebiasaan pengguna, lokasi, hingga preferensi individu. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait perlindungan privasi dan keamanan data pribadi.
Salah satu ancaman utama adalah pengumpulan data secara masif tanpa kesadaran penuh dari pengguna. Banyak sistem AI mengakses data melalui aplikasi digital, media sosial, dan layanan daring lainnya. Dalam praktiknya, pengguna sering kali tidak memahami sejauh mana data mereka digunakan dan untuk tujuan apa. Hal ini membuka peluang terjadinya pelanggaran privasi, terutama ketika data digunakan untuk kepentingan komersial atau pengawasan tanpa persetujuan yang jelas.
Selain itu, penggunaan AI juga meningkatkan risiko kebocoran dan penyalahgunaan data. Sistem AI yang menyimpan data dalam skala besar menjadi target empuk bagi serangan siber. Apabila sistem keamanan tidak memadai, data pribadi dapat dicuri, diperjualbelikan, atau digunakan untuk kejahatan seperti pencurian identitas dan penipuan digital. Berbagai kajian akademik menegaskan bahwa semakin kompleks teknologi AI, semakin besar pula tantangan dalam menjaga keamanan data.
Ancaman lainnya adalah pengawasan berlebihan (surveillance) yang dimungkinkan oleh teknologi AI. Dengan kemampuan mengenali wajah, melacak lokasi, dan menganalisis perilaku, AI dapat digunakan untuk memantau individu secara terus-menerus. Jika tidak diatur dengan jelas, penggunaan teknologi ini berpotensi melanggar hak asasi manusia, khususnya hak atas privasi dan kebebasan individu.
Dalam konteks hukum, perlindungan data pribadi menjadi isu yang semakin penting. Negara dituntut untuk menghadirkan regulasi yang mampu mengimbangi pesatnya perkembangan AI. Tanpa aturan yang tegas dan mekanisme pengawasan yang efektif, masyarakat akan berada pada posisi yang rentan terhadap penyalahgunaan teknologi. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara pemanfaatan AI untuk kemajuan teknologi dan perlindungan hak privasi sebagai bagian dari hak dasar manusia.
Ancaman lainnya berkaitan dengan keamanan penyimpanan data. Sistem AI menyimpan data dalam basis data yang besar dan terpusat, sehingga menjadi sasaran empuk bagi serangan siber. Jika sistem keamanan tidak dirancang dengan baik, data pribadi dapat bocor atau dicuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Kebocoran data tidak hanya merugikan individu, tetapi juga dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi atau perusahaan yang menggunakan teknologi AI.
Selain itu, teknologi AI memungkinkan terjadinya pengawasan berlebihan (mass surveillance). Dengan kemampuan pengenalan wajah, analisis suara, dan pelacakan aktivitas digital, AI dapat digunakan untuk memantau individu secara terus-menerus. Penggunaan teknologi ini tanpa batasan hukum yang jelas berpotensi melanggar hak asasi manusia, khususnya hak atas privasi dan kebebasan berekspresi. Dalam beberapa kajian akademik, pengawasan berbasis AI dinilai dapat menciptakan rasa takut dan mengurangi kebebasan masyarakat dalam beraktivitas.
Permasalahan privasi juga semakin kompleks ketika data pribadi digunakan untuk pengambilan keputusan otomatis. AI dapat menentukan kelayakan kredit, peluang kerja, atau bahkan risiko hukum seseorang berdasarkan analisis data. Jika data yang digunakan tidak akurat atau diproses tanpa pengawasan manusia, keputusan tersebut dapat merugikan individu dan sulit untuk dipertanggungjawabkan.
Oleh karena itu, perlindungan privasi dan keamanan data menjadi aspek penting dalam pengembangan dan penggunaan AI. Negara memiliki tanggung jawab untuk menyediakan regulasi yang jelas dan tegas guna melindungi data pribadi masyarakat. Di sisi lain, pengembang teknologi juga harus menerapkan prinsip etika dan keamanan dalam setiap sistem AI yang dibuat. Dengan demikian, pemanfaatan AI dapat berjalan seimbang antara kemajuan teknologi dan perlindungan hak dasar manusia.
bahaya teknologi AI – Google Scholar https://share.google/iG7IyYBcTbZK60nqS
bahaya teknologi AI – Google Scholar https://share.google/TgP53bbJmMPJi2hxc
kesimpulan pada dasarnya memuat intisari dari kajian dan sekaligus juga merupakan jawaban atas permasalahan yang dikaji dalam artikel. Maka dari itu, penyusunan bab Simpulan harus disesuaikan dengan urutan permasalahan yang sudah ada.
Penulis: Achmad duta firdaus pratama
Universitas islam darul ulum lamongan (UNISDA)
achmaddutafirdauspratama@gmail.com
DAFTAR Pustaka
Valentinus Bey Fenomena Artificial Intelligence dan Bahaya Dehumanisasi (Analisis Kritis Terhadap Fenomena AI Berdasarkan Pandangan Herbert Marcuse).– Google Scholar https://share.google/GtwdVsLQbp4OW0eYT
Nur Aliya Rasyidah, Muhammad Aksay, Muhammad Firdaus Akmal Urgensi Pembuatan Regulasi Penggunaan AI (Artificial Intelligence) Di Indonesia – Google Scholar https://share.google/HmP0ytCM54NmZUF1n
Achmad Arrosy Seminar Bahaya Gadget dan Artificial Intelligence pada Era Digital Bagi Siswa-Siswi SMK Pawiyatan Surabaya – Google Scholar https://share.google/gwPZgPjQZLDmUlPw5
Muhammad Resky, Yayat Suharyat : Analysis of AI Technology Utilization in Islamic Education: Analisis Pemanfaatan Teknologi AI dalam Pendidikan Islam | Procedia of Social Sciences and Humanities https://share.google/PtEkGT8xxj9xz0GCq
. Noer Yaddin, Lusia Salmawati, Stefiani Bengan Laba: AI, Kebijakan, dan Kesalahan Manusia: Memikirkan Kembali Peran Perilaku Pekerja dalam Mencegah Kecelakaan Kerja – Google Scholar https://share.google/JyR7lQYu8mHzvi0dc
Noer Yaddin, Lusia Salmawati, Stefiani Bengan Laba AI, Kebijakan, dan Kesalahan Manusia: Memikirkan Kembali Peran Perilaku Pekerja dalam Mencegah Kecelakaan Kerja. – Google Scholar https://share.google/nZhfesqpB9BGNXdMP
A Setyo Wibowo Heidegger Dan Bahaya Teknologi Wibowo: Heidegger Dan Bahaya Teknologi – Google Scholar https://share.google/rOEtcbdWJ9ZROJ1ka
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































