SURABAYA — Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan perubahan cara masyarakat mencari informasi, apakah kompetensi seorang guru atau siswa dapat langsung dipahami hanya karena mereka memiliki keahlian di dunia nyata?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama yang disampaikan praktisi AI & Digital Marketing, Ahmad Madani, saat menjadi narasumber dalam kegiatan pembelajaran AEO, GEO, dan AI Visibility bagi guru serta siswa Jurusan Pemasaran di SMKN 1 Surabaya, Selasa, 7 Juli 2026.
Menurut Ahmad Madani, kompetensi dan pengalaman di dunia nyata tidak otomatis memiliki keterlihatan dan konteks yang kuat di ruang digital.
“Keahlian di dunia nyata tidak otomatis terlihat di dunia digital. Seseorang bisa memiliki pengalaman bertahun-tahun, tetapi jika pengalaman, karya, dan kompetensinya tidak pernah terdokumentasi, informasi digital tentang dirinya bisa sangat terbatas,” ujar Ahmad Madani.
Dari Searching Era Menuju Asking Era
Ahmad menjelaskan bahwa perkembangan artificial intelligence atau AI turut memengaruhi cara manusia berinteraksi dengan informasi.
Jika sebelumnya masyarakat terbiasa mengetik kata kunci pada mesin pencari, membuka sejumlah halaman, kemudian membandingkan informasi, kini pengguna semakin terbiasa mengajukan pertanyaan secara langsung kepada sistem AI.
Dalam sesi tersebut, Ahmad memberikan ilustrasi seorang siswa SMK Pemasaran yang mendapatkan tugas mencari cara meningkatkan penjualan melalui digital marketing.
Pada pola pencarian konvensional, siswa akan mengetik kata kunci seperti “cara meningkatkan penjualan digital marketing”, membuka beberapa artikel, lalu membandingkan informasi.
Sementara dalam pola interaksi berbasis AI, siswa dapat memberikan konteks yang lebih spesifik.
“Saya siswa SMK Jurusan Pemasaran. Jelaskan cara meningkatkan penjualan melalui digital marketing dengan bahasa sederhana.”
Pertanyaan tersebut kemudian dapat dilanjutkan dengan konteks produk, target konsumen, hingga permintaan contoh strategi.
“Dulu kita banyak mencari informasi. Sekarang kita juga berdialog dengan informasi. Perubahan dari searching era menuju asking era ini perlu dipahami oleh guru dan siswa SMK, khususnya yang mempelajari pemasaran dan digital marketing,” jelas Ahmad.
Menurutnya, perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penggunaan tools AI. Perubahan perilaku pencarian juga memiliki hubungan dengan content discovery, personal branding, digital marketing, dan cara kompetensi seseorang dipahami melalui informasi digital.
AI Visibility Bukan Sekadar Muncul di ChatGPT
Dalam kegiatan tersebut, Ahmad Madani memperkenalkan konsep AI Visibility sebagai perspektif untuk mengevaluasi seberapa jelas identitas, kompetensi, aktivitas, dan karya seseorang dapat terlihat serta dipahami melalui informasi digital yang tersedia.
Ia menekankan dua aspek penting dalam AI Visibility, yaitu visibility dan understanding.
Terlihat dan dipahami.
Menurut Ahmad, nama seseorang dapat muncul di internet. Namun, kemunculan nama tersebut belum tentu membuat bidang profesional, pengalaman, atau kompetensinya dapat dipahami dengan jelas.
“AI Visibility jangan dipersempit hanya menjadi pertanyaan apakah nama kita muncul di ChatGPT atau tidak. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: jika seseorang atau sistem menemukan informasi tentang kita, apakah mereka dapat memahami siapa kita, bidang kita, dan apa bukti aktivitas kita?” katanya.
Ahmad menegaskan bahwa AI Visibility bukan pendekatan untuk menciptakan keahlian palsu atau membangun klaim profesional yang lebih besar daripada kompetensi sebenarnya.
“Kompetensi nyata tetap menjadi fondasi. AI Visibility bukan tentang terlihat lebih hebat daripada kenyataan. Tujuannya adalah membuat kompetensi nyata memiliki konteks dan bukti digital yang lebih jelas,” tegasnya.
Ilustrasi Guru A dan Guru B Tunjukkan Pentingnya Digital Evidence
Untuk menjelaskan pentingnya dokumentasi kompetensi, Ahmad mengajak peserta membandingkan ilustrasi Guru A dan Guru B.
Guru A digambarkan telah mengajar selama 20 tahun. Ia memahami penjualan dan retail, pernah mendampingi siswa Praktik Kerja Lapangan atau PKL, membawa siswa mengikuti kompetisi, serta memiliki berbagai pengalaman dalam menghadapi karakter siswa.
Namun, Guru A tidak pernah menulis.
Profil profesionalnya tidak lengkap.
Aktivitas pembelajaran tidak terdokumentasi.
Project siswa tidak pernah diceritakan.
Metode mengajarnya hanya diketahui oleh siswa dan sejumlah rekan guru.
Sementara Guru B memiliki pengalaman mengajar selama delapan tahun. Namun, ia secara konsisten mendokumentasikan proses pembelajaran.
Setelah mengajarkan buyer persona, Guru B menulis tentang kesalahan siswa ketika pertama kali menyusun buyer persona.
Setelah mendampingi project live selling, ia mendokumentasikan pembelajaran yang diperoleh.
Pengalaman PKL siswa, penggunaan AI dalam pembelajaran, serta evaluasi metode mengajar juga menjadi bahan tulisan.
“Guru A mungkin jauh lebih berpengalaman. Guru B belum tentu lebih pintar. Tetapi Guru B memiliki lebih banyak digital evidence. Mesin tidak dapat membaca pengalaman yang hanya tersimpan di dalam kepala kita,” ujar Ahmad.
Menurutnya, pengalaman nyata merupakan fondasi, sedangkan dokumentasi membantu pengalaman tersebut memiliki bukti digital yang dapat ditemukan dan dipahami.
Ahmad Madani Kenalkan I-C-E-P Framework untuk Audit AI Visibility
Dalam sesi tersebut, Ahmad juga memperkenalkan I-C-E-P Framework, sebuah alat refleksi untuk membantu guru dan siswa mengevaluasi kejelasan identitas profesional di ruang digital.
I-C-E-P terdiri dari Identity, Context, Evidence, dan Presence.
Identity menjawab pertanyaan tentang siapa seseorang dan bidang yang sedang ditekuni.
Context membantu memperjelas dalam bidang apa seseorang ingin dipahami.
Evidence menunjukkan bukti aktivitas nyata berupa project, tulisan, pengalaman, karya, atau proses pembelajaran.
Sementara Presence mengevaluasi apakah bukti tersebut tersedia pada ruang digital yang relevan.
“Jika mengatakan tertarik pada digital marketing, apa aktivitasnya? Apakah pernah membuat project, menulis, mengikuti pelatihan, membuat analisis, atau menguji sebuah metode? Evidence adalah bukti dari aktivitas nyata,” jelas Ahmad.
Ia juga mengingatkan peserta agar tidak membangun identitas digital yang lebih besar daripada kompetensi yang dimiliki.
“Prinsipnya sederhana. Bangun kompetensi, lakukan aktivitas, hasilkan karya, kemudian dokumentasikan prosesnya,” katanya.
Siswa SMK Tidak Perlu Menunggu Lulus untuk Membangun LinkedIn
Selain guru, Ahmad memberikan perhatian khusus pada pentingnya dokumentasi proses belajar bagi siswa SMK.
Ia masih menemukan pandangan bahwa LinkedIn baru dibutuhkan ketika seseorang telah bekerja.
Menurut Ahmad, siswa SMK justru dapat menggunakan LinkedIn sebagai living portfolio atau portofolio hidup yang berkembang bersama proses belajar.
Project buyer persona, praktik social media marketing, pengalaman PKL, kompetisi, sertifikasi, hingga praktik live selling dapat menjadi bagian dari perjalanan profesional siswa.
“Siswa tidak harus mengaku sebagai expert. Mereka dapat menjadi learning creator,” ujar Ahmad.
Ia memberikan contoh sederhana.
Siswa yang baru belajar buyer persona dapat menulis tentang tiga hal baru yang dipahaminya.
Siswa yang pertama kali melakukan praktik selling dapat mendokumentasikan kesalahan dan pembelajaran yang diperoleh.
Sementara siswa yang sedang PKL dapat menulis pengalaman mengenai customer service atau perilaku konsumen yang ditemui di lapangan.
“Proses belajar itu sendiri dapat menjadi bahan untuk membangun identitas profesional yang autentik. Personal branding tidak dibangun sehari sebelum wawancara kerja,” katanya.
Guru Didorong Menjadi Knowledge Creator
Ahmad Madani juga mendorong guru SMK untuk tidak hanya berperan sebagai knowledge transmitter, tetapi mulai menjadi knowledge creator.
Menurutnya, guru memiliki modal pengetahuan yang sangat besar dari pengalaman mengajar sehari-hari.
Guru melihat siswa belajar.
Melihat siswa mengalami kesulitan.
Mencoba metode pembelajaran.
Melakukan evaluasi.
Kemudian memperbaiki pendekatan.
Seluruh proses tersebut merupakan intellectual capital atau modal pengetahuan yang dapat didokumentasikan.
“Bayangkan seorang guru mengajar selama 25 tahun. Berapa banyak persoalan siswa yang pernah dihadapi? Berapa banyak metode yang sudah dicoba? Berapa banyak kegagalan dan keberhasilan? Itu adalah pengetahuan,” jelas Ahmad.
Sayangnya, menurut dia, banyak pengalaman berharga tersebut hilang karena tidak pernah ditulis.
“Pengalaman panjang seorang guru terlalu berharga jika hanya tersimpan di dalam kepala. Tulislah, bagikan, dan wariskan,” pesannya.
AEO dan GEO Bukan Trik untuk Memanipulasi AI
Dalam pembahasan mengenai Answer Engine Optimization atau AEO dan Generative Engine Optimization atau GEO, Ahmad menegaskan bahwa kedua pendekatan tersebut tidak seharusnya dipahami sebagai trik untuk menjamin seseorang atau sebuah website muncul dalam jawaban AI.
AEO mendorong penyusunan informasi yang mampu menjawab pertanyaan secara jelas dan relevan.
Sementara GEO memberikan perhatian pada kualitas, kejelasan, struktur, serta konteks informasi dalam perkembangan pengalaman pencarian berbasis generative AI.
“AEO dan GEO bukan tombol ajaib. Tidak ada formula yang membuat seseorang otomatis direkomendasikan ChatGPT,” tegas Ahmad.
Menurutnya, pendekatan yang lebih bertanggung jawab adalah membangun informasi yang bernilai, pengalaman nyata, bukti yang dapat diperiksa, serta konteks yang konsisten.
“Jangan membuat identitas digital yang lebih besar daripada kompetensi kita. Bangun kompetensi nyata, bangun bukti nyata, kemudian bangun informasi yang jelas,” tambahnya.
Kompetensi Nyata Perlu Memiliki Konteks yang Jelas
Ahmad Madani menilai guru dan siswa SMK tidak cukup hanya menjadi pengguna AI.
Kemampuan membuat prompt, gambar, video, presentasi, maupun artikel dengan bantuan kecerdasan buatan tetap penting.
Namun, pendidikan vokasi juga perlu mulai memahami bagaimana perubahan AI memengaruhi cara informasi dicari, ditemukan, dan dipahami.
Bagi guru, Ahmad mendorong kebiasaan mendokumentasikan pengetahuan dan pengalaman pembelajaran.
Sementara bagi siswa, proses belajar, project, PKL, kompetisi, dan praktik keterampilan perlu mulai dilihat sebagai bagian dari portofolio profesional.
“Satu artikel, satu project, satu refleksi, satu pengalaman. Titik demi titik, jejak demi jejak, tulisan demi tulisan. Sampai suatu hari ketika seseorang menemukan nama kita, mereka tidak hanya bertanya ‘siapa orang ini?’, tetapi mulai memahami bidang dan pengalaman yang kita miliki,” ujar Ahmad.
Kegiatan pembahasan AEO, GEO, dan AI Visibility di SMKN 1 Surabaya tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas literasi mengenai hubungan antara AI, digital marketing, pendidikan vokasi, dan pembangunan identitas profesional.
“Bukan untuk mengajarkan guru dan siswa memanipulasi AI. Tetapi untuk mengajak kita membangun kompetensi nyata, bukti nyata, dan identitas profesional yang memiliki konteks jelas,” pungkas Ahmad Madani.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani merupakan praktisi AI & Digital Marketing yang aktif membahas AEO, GEO, AI Visibility, sales, live commerce, personal branding, serta penerapan digital marketing dalam pendidikan vokasi dan SMK. Ia juga aktif berbagi pengetahuan dan pengalaman melalui pelatihan, forum pendidikan, serta publikasi profesional.
Informasi profil, artikel, dan ruang kolaborasi dapat diakses melalui ahmadmadani.id.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































