Ketika nama kejaksaan disebut, banyak orang langsung membayangkan sosok berseragam cokelat yang berdiri di persidangan, menuntut hukuman bagi terdakwa. Tapi apakah kita pernah bertanya: apa yang sebenarnya membuat seorang jaksa tetap jujur, tidak tergoda, dan bekerja sesuai aturan, hari demi hari?
Pertanyaan itu mendorong saya untuk datang langsung ke Kejaksaan Negeri Tuban dan berbicara dari hati ke hati dengan dua jaksa aktif di sana. Hasilnya, saya mendapatkan gambaran yang jauh lebih manusiawi dari yang saya bayangkan.

Bukan Aturan yang Tertulis, Tapi Budaya yang Hidup
Hal pertama yang membuat saya terkesan adalah bagaimana kode etik di Kejari Tuban tidak diperlakukan sebagai dokumen tebal yang hanya dibuka saat ada masalah. Kode etik itu hidup, setiap pagi.
Setiap hari Senin hingga Jumat, seluruh pegawai wajib mengikuti apel kerja. Di sana, pimpinan tidak hanya memberi arahan teknis, tapi juga mengingatkan kembali nilai-nilai etika yang harus dijaga. Satu narasumber saya, Bapak Ahmad Fahrudin selaku Kepala Sub Bagian Pembinaan, menyebutnya sebagai bagian dari rutinitas yang sudah menyatu dengan pekerjaan.
“Kode etik itu bukan sesuatu yang terpisah,” kira-kira begitu pesannya. “Sudah jadi bagian dari cara kami bekerja sehari-hari.”
Ini yang dalam teori manajemen disebut pendekatan value-based, yakni bukan sekadar mematuhi aturan karena takut sanksi, tetapi karena nilai-nilai itu sudah terinternalisasi sebagai identitas profesional.
Godaan Itu Nyata, Tapi Tidak Selalu Menang
Narasumber kedua saya, Bapak Juwari selaku Kasi Pemulihan Aset dan Pengelolaan Barang Bukti, berbicara lebih lugas. Beliau mengakui bahwa dalam penanganan perkara, tekanan dari pihak luar dan godaan materi memang kerap muncul.
Tapi yang menarik, beliau bilang hal itu tidak pernah berhasil menggoyahkan kerja jaksa di Tuban.
Mengapa? Salah satunya karena prosedur kerja yang ketat justru menjadi pelindung. Misalnya, saat menerima penyerahan barang bukti dari kepolisian, jika ada yang tidak sesuai dengan berita acara, dokumen tidak akan ditandatangani. Titik. Tidak ada ruang abu-abu untuk kompromi.
Ini menunjukkan sesuatu yang penting: sistem yang baik bukan hanya mencegah pelanggaran, tapi juga melindungi pegawai yang ingin bekerja jujur dari tekanan yang tidak semestinya.
Pelanggaran Ada, Tapi Bukan yang Kita Bayangkan
Menariknya, ketika saya tanya soal pelanggaran, jawabannya cukup mengejutkan. Selama narasumber bertugas, belum pernah ada pelanggaran berat seperti penyalahgunaan wewenang atau suap. Yang ada hanyalah pelanggaran disiplin ringan: telat masuk, tidak ikut apel, atau lupa menyelesaikan dokumen administrasi.
Pelanggaran ringan itu pun tidak dibiarkan. Ada sistem sanksi berlapis, mulai dari teguran lisan, penundaan kenaikan gaji, penurunan pangkat, hingga pemberhentian tetap jika terbukti melakukan tindak pidana seperti korupsi.
Artinya, sekecil apapun kesalahan, ada konsekuensinya. Dan itu, menurut saya, adalah tanda bahwa institusi ini serius menjaga marwahnya.
Yang Masih Perlu Diperkuat
Tentu tidak semua sempurna. Satu hal yang saya catat: ketika saya tanya soal pengawasan eksternal oleh lembaga seperti Ombudsman atau Komisi Kejaksaan, narasumber mengakui kurang memahami mekanisme tersebut secara detail karena memang itu ranah di luar kewenangan mereka.
Ini jadi catatan penting. Sebuah institusi yang akuntabel bukan hanya yang bisa mempertanggungjawabkan diri ke atas (ke pimpinan), tapi juga ke luar (ke masyarakat). Penguatan pemahaman tentang pengawasan eksternal perlu terus diperhatikan agar kepercayaan publik terhadap kejaksaan semakin kokoh.
Pesan untuk Kita Semua
Di akhir wawancara, salah satu narasumber menyampaikan pesan yang sederhana tapi dalam: kesadaran etis tidak bisa dipaksakan dari luar, ia harus tumbuh dari dalam diri masing-masing.
Pesan itu bukan hanya untuk jaksa. Itu berlaku untuk kita semua, apapun profesi kita. Integritas bukan soal seberapa ketat pengawasan di sekeliling kita, tapi seberapa kuat nilai yang kita pegang saat tidak ada yang melihat.
Dan dari apa yang saya lihat di Kejari Tuban, setidaknya ada upaya sungguh-sungguh untuk membuat nilai itu tetap hidup, setiap hari, mulai dari apel pagi.
Kata Kunci: Kode Etik, Kejaksaan, Pelanggaran, Hukum
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer
































































