SURABAYA – Setiap tahun, ribuan perempuan Indonesia meninggalkan rumah mereka menuju Taiwan untuk merawat lansia asing. Taiwan kini menjadi salah satu tujuan utama PMI, dengan 83.216 penempatan pada 2023 menurut data BP2MI, dan trennya terus meningkat hingga Taiwan resmi menjadi negara tujuan nomor satu PMI pada kuartal pertama 2026.
Dari total penempatan tersebut terdapat 17,5% bekerja sebagai caregiver. Angka ini bukan hanya statistik, ini adalah cerminan dari beban struktural yang sudah lama dilekatkan pada tubuh perempuan bahwa merawat adalah kodrat, bukan pilihan.
Dalam kajian mobilitas tenaga kerja global, kondisi ini dikenal sebagai feminization of migration, sebuah konsep yang menggambarkan meningkatnya partisipasi perempuan dalam migrasi internasional, bukan lagi sebagai anggota keluarga yang ikut, melainkan sebagai pencari nafkah utama.
Parreñas (2001) dalam Servants of Globalization menjelaskan bahwa perempuan bermigrasi secara masif ke sektor-sektor yang diasosiasikan dengan perawatan dan reproduksi sosial seperti mengasuh, merawat lansia, dan pekerjaan rumah tangga. Karena secara kultural, pekerjaan ini dianggap sebagai “sifat alami” perempuan, bukan keahlian yang perlu dihargai setara.
Akibatnya, care work menjadi feminized occupation: pekerjaan yang terstruktur untuk diisi perempuan, dengan upah rendah, perlindungan minim, dan pengakuan yang nyaris tidak ada. Di Taiwan, caregiver Indonesia menerima upah berkisar NT$21.000–24.000 per bulan dimana angka tersebut jauh di bawah rata-rata upah nasional Taiwan sebesar NT$46.227 per bulan dan belum sepenuhnya dilindungi oleh Labor Standards Act, undang-undang ketenagakerjaan utama Taiwan.
Konsep global care chains yang diperkenalkan Arlie Russell Hochschild (2000) menjadi relevan dalam topik ini. Ketika seorang perempuan Indonesia berangkat ke Taiwan untuk merawat lansia asing, ia tidak sekadar berpindah tempat kerja melainkan juga memindahkan kasih sayangnya melintasi batas negara.
Sementara keluarga majikannya di Taiwan mendapat perawatan penuh, keluarganya sendiri di Indonesia menanggung apa yang disebut sebagai care drain yakni beban pengasuhan yang ditinggalkan lalu dialihkan ke perempuan lain seperti nenek, kakak perempuan, atau anak yang paling tua.
Penelitian Pusat Riset Kependudukan BRIN mencatat bahwa PMI caregiver yang bekerja di Taipei harus mengandalkan panggilan video untuk tetap terhubung dengan anak-anak mereka yang ditinggal di tanah air, sebuah upaya menambal kekosongan kasih sayang yang tak pernah benar-benar bisa terganti.
Inilah ironi terdalam dari global care economy: negara-negara kaya mendapat surplus perawatan, sementara negara pengirim justru mengalami defisit dan seluruh beban itu ditanggung oleh perempuan, di kedua ujung rantai.
Persoalan ini tidak bisa terus dibaca sebagai pilihan individual perempuan semata. Ketika ribuan perempuan Indonesia secara konsisten mengisi jabatan caregiver di Taiwan dengan upah di bawah rata-rata nasional dan perlindungan hukum yang belum penuh, itu bukan kebetulan, melainkan hasil dari sistem yang secara struktural memang merancang perempuan sebagai penyedia perawatan berbiaya murah.
Penulis berpendapat bahwa sangat paradoks ketika Taiwan sebagai negara maju justru membangun ketahanan sistem perawatan lansianya di atas ketergantungan terhadap perempuan migran dari negara berkembang, sementara di sisi lain perempuan-perempuan itu meninggalkan kekosongan perawatan di keluarga mereka sendiri yang kemudian diisi oleh perempuan lain tanpa upah.
Maka, dapat disadari bahwa fenomena ini membuktikan bahwa ketimpangan gender dalam migrasi perawatan bukan sekadar isu ketenagakerjaan, melainkan isu struktural global yang mereproduksi dirinya sendiri. Selama care work tidak diakui sebagai kerja profesional yang layak dilindungi dan dihargai setara, rantai ini tidak akan pernah putus.
Oleh: Vania Aurelia Mayda, Mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































