Bagi banyak orang, matematika sering identik dengan angka, rumus, dan latihan soal. Namun, bagi murid tunagrahita, perjalanan memahami matematika justru dimulai dari hal yang lebih mendasar seperti rasa nyaman, percaya diri, dan keberanian untuk mencoba. Sebelum mengenal bangun datar atau menyelesaikan soal, mereka perlu merasakan bahwa belajar adalah pengalaman yang menyenangkan.
Berangkat dari hal tersebut, tim PKM-PM Universitas Negeri Semarang menghadirkan ASMARA yaitu sebuah Aplikasi berbasis Gedung Papak berpendekatan Pembelajaran Mendalam di SLB Negeri Salatiga. Program ini dirancang untuk membantu meningkatkan pemahaman matematis murid tunagrahita melalui pembelajaran yang lebih kontekstual, menyenangkan, dan dekat dengan pengalaman mereka sehari-hari. Salah satu tahap penting dalam program ini adalah Zona Laku, yaitu ruang persiapan sebelum murid masuk ke materi inti.
Di Zona Laku, pembelajaran tidak langsung dimulai dari angka atau simbol. Murid terlebih dahulu diajak melakukan aktivitas yang dekat dengan keseharian mereka, seperti mengenali diri, mengekspresikan perasaan, berinteraksi dengan teman, hingga mencoba berbagai kegiatan secara mandiri. Suasana belajar yang hangat dan penuh apresiasi membuat mereka lebih rileks, lebih percaya diri, dan tidak takut melakukan kesalahan. Senyum yang muncul selama proses ini menjadi tanda bahwa mereka mulai siap melangkah ke tahap berikutnya.

Setelah kesiapan belajar terbentuk, murid diajak mengikuti aktivitas bermain edukatif dengan media manipulatif sederhana untuk mengenal bentuk geometri seperti segitiga, persegi, dan jajargenjang. Kegiatan ini bukan sekadar permainan, melainkan sarana bagi murid untuk mengamati, menyusun, mencoba, dan menemukan konsep melalui pengalaman langsung. Dengan cara ini, konsep matematika yang semula abstrak menjadi lebih mudah dipahami karena dapat disentuh, dipindahkan, dan disusun sendiri oleh murid.
Aktivitas pengenalan bangun datar tersebut menjadi fondasi penting sebelum murid mempelajari bangun ruang pada setiap pertemuan di Zona Budaya. Melalui kegiatan mengamati, memegang, dan menyusun berbagai bentuk geometri, murid secara bertahap belajar mengenali bangun datar yang kemudian dihubungkan dengan bagian-bagian miniatur Gedung Papak. Pemahaman awal ini mendukung tercapainya tujuan pembelajaran, yaitu agar murid mampu mengenal dan menyebutkan bangun datar yang membentuk kubus, balok, dan limas, sekaligus memahami karakteristiknya melalui eksplorasi yang bermakna, penuh perhatian, dan menyenangkan sesuai pendekatan pembelajaran mendalam.

Pendekatan ini juga memberi ruang bagi murid untuk belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing. Tidak ada tuntutan untuk langsung menemukan jawaban yang benar. Setiap usaha yang mereka lakukan tetap dihargai sebagai bagian penting dari proses belajar. Ketika berhasil menyusun bentuk atau mengenali bangun datar secara mandiri, rasa percaya diri mereka ikut tumbuh. Keberhasilan-keberhasilan kecil seperti inilah yang menjadi modal penting untuk menghadapi pembelajaran matematika yang lebih kompleks.
Zona Laku menunjukkan bahwa pembelajaran matematika tidak selalu harus dimulai dari buku atau lembar soal. Bagi murid tunagrahita, proses belajar yang bermakna justru diawali dari pengalaman yang membuat mereka merasa aman, dihargai, dan mampu berkembang. Ketika kesiapan emosional dan mental sudah terbentuk, mereka akan lebih terbuka untuk menerima pengetahuan baru dan terlibat aktif dalam pembelajaran.
Upaya ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yaitu Pendidikan Berkualitas. Melalui pendekatan yang inklusif, adaptif, dan berpusat pada kebutuhan murid, program ASMARA berkontribusi dalam menghadirkan kesempatan belajar yang setara bagi semua anak, termasuk murid berkebutuhan khusus. Pendidikan berkualitas tidak hanya diukur dari tersampaikannya materi, tetapi juga dari sejauh mana setiap murid memperoleh pengalaman belajar yang bermakna, aman, dan mendukung perkembangan potensinya.

Melalui ASMARA, Tim PKM-PM Universitas Negeri Semarang berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan konsep matematika, tetapi juga membangun keberanian, kemandirian, dan semangat belajar murid tunagrahita. Pendidikan yang inklusif bukan hanya soal memberi akses belajar kepada semua anak, melainkan juga memastikan setiap anak mendapat kesempatan belajar dengan cara yang sesuai dengan kebutuhannya.
Pada akhirnya, senyum yang terlihat di wajah para murid bukan hanya tanda bahagia selama mengikuti kegiatan. Senyum itu menjadi tanda bahwa mereka mulai percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Dari sanalah pemahaman matematika perlahan tumbuh yang berawal dari rasa percaya diri, berkembang melalui pengalaman, lalu bermuara pada keyakinan bahwa setiap anak mampu belajar jika diberi ruang, cara, dan kesempatan yang tepat.
Untuk informasi lebih lanjut tentang kegiatan ASMARA dan dokumentasi program, silakan kunjungi Instagram kami di @pkmpm.asmara.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































