Pendidikan anak usia dini merupakan fondasi utama dalam membentuk kualitas sumber daya manusia di masa depan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengalaman belajar yang diperoleh anak pada usia dini akan memengaruhi perkembangan kemampuan kognitif, bahasa, sosial, emosional, hingga pembentukan karakter. Oleh karena itu, menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah dan lembaga pendidikan, tetapi juga tenaga pendidik sebagai pihak yang berinteraksi langsung dengan anak setiap hari.
Guru Taman Kanak-kanak memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga dituntut mampu menjadi fasilitator yang memahami karakteristik perkembangan anak. Hal tersebut menuntut guru untuk terus meningkatkan kompetensi, baik dalam menyusun perangkat pembelajaran maupun dalam memanfaatkan media yang mampu merangsang rasa ingin tahu dan kreativitas peserta didik.
Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih terdapat berbagai tantangan yang dihadapi guru pendidikan anak usia dini, terutama di wilayah pedesaan. Keterbatasan akses terhadap pelatihan, minimnya media pembelajaran, hingga kurangnya pendampingan dalam menyusun modul ajar menjadi faktor yang dapat memengaruhi kualitas proses belajar mengajar. Kondisi tersebut bukan disebabkan oleh rendahnya motivasi guru, melainkan karena kesempatan untuk meningkatkan kompetensi profesional masih belum merata.
Fenomena tersebut juga ditemukan di TKM NU Al-Hidayah Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Berdasarkan hasil observasi dan diskusi yang dilakukan sebelum program pengabdian masyarakat dilaksanakan, guru masih memerlukan pendampingan dalam menyusun modul ajar yang sistematis sesuai Kurikulum Merdeka. Selain itu, pemanfaatan Alat Permainan Edukatif (APE) maupun media pembelajaran berbasis teknologi masih belum dilakukan secara optimal. Padahal, penggunaan media pembelajaran yang menarik dapat menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan menyenangkan.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menyelenggarakan program “Guru Aktif, Anak Kreatif: Pelatihan Penyusunan Modul Ajar Berbasis Alat Permainan Edukatif (APE) bagi Guru TKM NU Al-Hidayah di Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik.” Program ini dirancang sebagai bentuk pendampingan kepada guru agar mampu menyusun modul ajar yang lebih inovatif sekaligus mengembangkan media pembelajaran yang mudah diterapkan sesuai dengan kondisi sekolah.
Pelaksanaan program diawali dengan tahap observasi dan identifikasi kebutuhan mitra. Tahapan ini menjadi bagian penting karena setiap program pengabdian masyarakat seharusnya berangkat dari kebutuhan nyata yang dihadapi oleh masyarakat. Melalui diskusi bersama pihak sekolah, tim memperoleh gambaran mengenai tantangan yang dihadapi guru dalam merancang pembelajaran yang menarik. Hasil identifikasi tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun materi pelatihan sehingga kegiatan yang dilaksanakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan guru.
Pelatihan difokuskan pada penyusunan modul ajar yang mampu mengintegrasikan Alat Permainan Edukatif (APE) sebagai media pembelajaran. Guru memperoleh pemahaman mengenai pentingnya menyusun tujuan pembelajaran, aktivitas belajar, metode pembelajaran, serta evaluasi yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Tidak hanya itu, guru juga diperkenalkan dengan konsep pembelajaran yang lebih interaktif melalui pemanfaatan berbagai media pembelajaran.
Salah satu inovasi yang dikembangkan dalam kegiatan ini adalah banner permainan ular tangga edukatif. Media tersebut dirancang bukan sekadar sebagai permainan, melainkan sebagai sarana pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan tema pembelajaran harian. Melalui permainan tersebut, guru dapat mengembangkan berbagai aktivitas belajar yang melibatkan kemampuan berpikir, komunikasi, serta kerja sama sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirancang dalam modul ajar.
Selain banner edukatif, tim juga memperkenalkan pemanfaatan video pembelajaran, Wordwall, dan worksheet interaktif sebagai alternatif media pembelajaran. Pemanfaatan teknologi sederhana tersebut diharapkan mampu memberikan variasi dalam proses pembelajaran sehingga guru memiliki lebih banyak pilihan metode mengajar sesuai kebutuhan peserta didik.
Setelah pelatihan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan kepada guru. Pendampingan dilakukan melalui diskusi, praktik penyusunan modul ajar, demonstrasi penggunaan media pembelajaran, serta pemberian masukan terhadap perangkat pembelajaran yang telah disusun. Pada tahap ini, fokus utama kegiatan adalah memastikan guru memahami konsep penggunaan media pembelajaran dan mampu mengintegrasikannya ke dalam modul ajar secara sistematis. Pendampingan dilakukan khusus bersama guru tanpa melibatkan peserta didik sehingga seluruh proses diarahkan pada peningkatan kompetensi pendidik.
Dalam perspektif psikologi perkembangan, kegiatan ini memiliki relevansi yang kuat dengan teori Jean Piaget. Piaget menjelaskan bahwa anak usia Taman Kanak-kanak berada pada tahap praoperasional, yaitu fase ketika anak lebih mudah memahami suatu konsep melalui pengalaman konkret, gambar, simbol, dan aktivitas bermain. Pada tahap ini, anak belum mampu memahami konsep-konsep abstrak secara optimal sehingga pembelajaran perlu dikemas dalam bentuk aktivitas yang melibatkan pengalaman langsung.
Berdasarkan teori tersebut, penggunaan Alat Permainan Edukatif bukan hanya berfungsi sebagai media hiburan, melainkan sebagai sarana yang membantu guru menghadirkan pengalaman belajar yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Oleh karena itu, kemampuan guru dalam memilih serta mengembangkan media pembelajaran menjadi aspek yang sangat penting dalam mendukung proses belajar anak usia dini.
Selain Piaget, pandangan Jerome Bruner mengenai discovery learning juga memberikan dasar yang kuat terhadap pentingnya penggunaan media pembelajaran. Bruner berpendapat bahwa peserta didik akan lebih mudah memahami suatu konsep apabila diberikan kesempatan untuk menemukan pengetahuan melalui aktivitas yang bermakna. Dengan demikian, modul ajar yang disusun guru seharusnya mampu memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi, mencoba, dan belajar melalui pengalaman, bukan hanya menerima informasi secara pasif.
Selama pelaksanaan pelatihan dan pendampingan, para guru menunjukkan antusiasme yang tinggi. Diskusi berlangsung secara aktif dengan berbagai pertanyaan mengenai penyusunan modul ajar, penggunaan media pembelajaran, serta cara menyesuaikan aktivitas belajar dengan karakteristik peserta didik. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa guru memiliki keinginan besar untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran apabila diberikan kesempatan memperoleh pendampingan yang sesuai.
Pengalaman ini memberikan pelajaran bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak selalu membutuhkan teknologi yang mahal ataupun fasilitas yang lengkap. Kreativitas guru dalam memanfaatkan media sederhana yang dipadukan dengan perencanaan pembelajaran yang baik mampu menjadi langkah awal dalam menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna. Bahkan, media sederhana yang dibuat sesuai kebutuhan sekolah sering kali lebih efektif karena mudah diterapkan dan berkelanjutan.
Bagi perguruan tinggi, kegiatan pengabdian kepada masyarakat seperti ini juga menjadi wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kolaborasi antara akademisi dan masyarakat memungkinkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah diterapkan secara langsung untuk menjawab berbagai permasalahan di lapangan. Sementara bagi sekolah, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperoleh wawasan baru sekaligus memperkuat kompetensi guru sebagai ujung tombak pendidikan.
Ke depan, program pendampingan guru seperti ini diharapkan tidak berhenti pada satu kali pelaksanaan. Guru memerlukan ruang belajar yang berkelanjutan agar mampu mengikuti perkembangan kurikulum, teknologi pendidikan, maupun kebutuhan peserta didik yang terus berubah. Melalui kolaborasi yang berkesinambungan antara perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat, kualitas pendidikan anak usia dini diharapkan semakin meningkat.
Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh gedung sekolah yang megah atau kelengkapan fasilitas belajar. Pendidikan yang berkualitas berawal dari guru yang memiliki kemauan untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri. Ketika guru memperoleh dukungan untuk meningkatkan kompetensinya, maka mereka akan lebih siap menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi setiap anak. Dengan demikian, investasi terbaik dalam dunia pendidikan sesungguhnya dimulai dari investasi terhadap kualitas guru itu sendiri.
Oleh: Sub Kelompok 2 KKN R29 Untag Surabaya
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































