Jember, 13 Agustus 2025 — Suasana aula SD Kemuningsari Kidul 01 pagi itu terasa lebih semarak dari biasanya. siswa dari kelas VI duduk rapi, sebagian tampak penasaran melihat layar proyektor yang sudah menyala, papan besar di sampingnya. Hari itu, mereka akan mengikuti Sosialisasi Anti-Bullying yang diadakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif 071.
Acara ini merupakan salah satu program kerja tim KKN, dengan tujuan membekali siswa sekolah dasar pemahaman tentang bullying, dampak yang ditimbulkan, serta cara melawan dan mencegahnya. Kegiatan tersebut juga bekerja sama dengan pihak sekolah, sehingga pelaksanaannya bisa berjalan lancar dan terkoordinasi. Materi utama dibawakan oleh beberapa anggota KKN, Indah dan Arich, yang tampil santai namun komunikatif. Ia menjelaskan pengertian bullying, jenis-jenisnya seperti bullying verbal, fisik, dan sosial, serta dampaknya terhadap korban.
“Bullying itu bukan cuma memukul atau mendorong. Mengejek, memanggil dengan julukan yang membuat sakit hati, atau mengucilkan teman juga termasuk bullying,” jelasnya sambil menampilkan gambar ilustrasi di layar proyektor. Penjelasan ini disampaikan dengan bahasa sederhana dan diselingi pertanyaan ringan. Anak-anak diajak untuk menceritakan contoh perilaku yang menurut mereka termasuk bullying. Beberapa siswa spontan mengangkat tangan, menyebutkan kejadian-kejadian yang pernah mereka lihat di sekolah.
Bagian yang paling ditunggu adalah permainan edukatif. Tim KKN menempelkan gambar besar berbentuk tubuh manusia di papan yang terhubung dengan proyektor. Setiap siswa diberikan sticky note berwarna. Mereka diminta menuliskan dampak yang dirasakan korban bullying di sticky note tersebut, lalu menempelkannya di bagian tubuh yang sesuai. Misalnya, “sakit kepala” ditempel di kepala, “sedih” ditempel di dada, “takut” ditempel di kaki.
Tak disangka, permainan ini memunculkan momen yang sangat mengharukan. Saat menempelkan sticky note, seorang siswi kelas IV terlihat menunduk dan mulai menangis pelan. Guru pendamping yang berada di dekatnya segera menghampiri dan memeluknya. Dengan suara lirih, siswi itu bercerita bahwa ia pernah menjadi korban bullying. Ia sering diejek dan dikucilkan oleh teman-temannya hanya karena hal sepele. “Saya sering sendiri di pojokan, nggak diajak main,” katanya sambil menyeka air mata. Momen tersebut menjadi titik balik jalannya sosialisasi. Anak-anak yang awalnya hanya fokus bermain, mulai lebih serius mendengarkan dan memahami bahwa bullying benar-benar terjadi di sekitar mereka. Beberapa siswa lain akhirnya ikut berbagi pengalaman, baik sebagai korban maupun saksi. Mereka mulai memahami pentingnya melaporkan peristiwa bullying kepada guru atau orang tua, serta berkomitmen untuk saling menjaga di lingkungan sekolah.
Pemateri menegaskan bahwa melawan bullying bukan berarti harus membalas, tetapi dengan berani bicara dan mencari bantuan dari orang dewasa yang dipercaya. “Kalian tidak sendiri. Kalau ada yang membully, bilang ke guru, orang tua, atau teman yang bisa membantu,” pesannya.
Di akhir acara, seluruh siswa diajak membuat pledge atau janji bersama untuk tidak melakukan bullying. Dengan mengangkat tangan kanan, mereka mengucapkan, “Kami berjanji tidak akan membully dan akan melindungi teman kami.”
Sosialisasi ini bukan hanya memberi pengetahuan, tetapi juga menanamkan empati dan keberanian di hati anak-anak. Mereka tidak hanya tahu bahwa bullying itu salah, tetapi juga paham bagaimana menghentikannya dan berani berbicara jika menjadi korban. Bagi tim KKN Kolaboratif 071, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa edukasi yang dikemas dengan metode interaktif dapat meninggalkan kesan mendalam, bahkan mampu mengubah sikap anak-anak.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































