Sejak kecil, Abdur Rasyid Krisna Rizqi Purwanto sudah memiliki satu nama kampus yang terus tinggal di kepalanya: Universitas Gadjah Mada. Kampus itu bukan sekadar tujuan pendidikan baginya, melainkan mimpi yang tumbuh diam-diam sejak lama.
Mimpi itu akhirnya menemukan jalannya pada Senin (25/5/2026). Murid kelas XII E MAN 1 Yogyakarta yang akrab dipanggil Rasyid itu dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 pada Program Studi Kedokteran di Universitas Gadjah Mada. Saat melihat pengumuman tersebut, Rasyid mengaku sempat tidak percaya dengan apa yang ia baca. “Kaget, terharu, bahagia, dan bersemangat,” katanya.
Orang pertama yang ia hubungi adalah kedua orang tuanya. Di rumah, kabar itu disambut dengan haru. Ayah dan ibunya sama-sama bahagia melihat perjuangan panjang anaknya akhirnya berbuah hasil. Namun perjalanan menuju Fakultas Kedokteran bukan cerita yang selesai dalam satu malam.
Rasyid mulai tertarik pada dunia kedokteran sejak kelas 10. Ada satu hal yang terus membekas di pikirannya: ia tidak ingin orang lain merasakan kehilangan orang tersayang karena penyakit. Dari situ, keinginan untuk menjadi dokter perlahan tumbuh semakin kuat. “Saya ingin menjadi seseorang yang bermanfaat di masyarakat dan bisa membantu menyembuhkan orang-orang yang membutuhkan,” ujarnya.
Selepas UAS semester lima, ia mulai benar-benar serius mempersiapkan SNBT. Ritme hari-harinya berubah. Saat hari sekolah, ia biasanya menyicil latihan soal di sela aktivitas belajar. Sepulang sekolah, waktunya berlanjut hingga larut malam. Sementara akhir pekan menjadi cerita yang berbeda. Jika banyak remaja menghabiskan Sabtu dan Minggu untuk beristirahat atau bermain, Rasyid justru mengubah akhir pekannya menjadi ruang belajar panjang, mulai siang hingga menjelang malam.
Ia menggunakan teknik Pomodoro agar tetap fokus selama belajar. Dalam sehari, waktu belajarnya bisa mencapai tujuh hingga sembilan jam. Bagi Rasyid, tantangan terbesar justru datang dari pelajaran yang berhubungan dengan bahasa, terutama subtes literasi Bahasa Indonesia dalam SNBT. Kesulitan itu sempat membuatnya kewalahan, terutama dalam mengatur waktu belajar.
Namun ia memilih tidak berhenti pada rasa kesulitan itu. “Saya biasanya mengenali dulu kesulitannya apa, lalu menyusun strategi untuk menghadapi dan melampauinya,” katanya. Salah satu strategi yang rutin ia lakukan adalah membuat jadwal belajar, terutama saat akhir pekan. Dari situ, ia mulai belajar bahwa persiapan menuju mimpi tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi juga membutuhkan disiplin.
Meski demikian, rasa lelah tetap tidak bisa dihindari. Rasyid mengakui ada masa ketika dirinya merasa jenuh, capek, bahkan ingin menyerah. Tetapi setiap kali perasaan itu datang, ia mencoba berhenti sejenak, mengistirahatkan diri, lalu mengingat kembali tujuan awalnya. “Kalau ingat tujuan, biasanya semangatnya balik lagi,” ujarnya.
Ada pula hal-hal yang harus ia tinggalkan selama proses itu berlangsung. Salah satunya adalah dunia permainan daring yang dulu cukup dekat dengan kesehariannya. “Sejak kelas 11 saya sudah tidak main game online apa pun,” katanya. Pengorbanan itu, bagi Rasyid, terasa sepadan ketika melihat namanya akhirnya diterima di kampus impiannya.
Di balik proses tersebut, ada banyak orang yang ikut menjaga semangatnya tetap hidup. Orang tua dan teman-teman dekat menjadi lingkaran dukungan terbesar baginya. Dukungan sederhana seperti disemangati atau ditemani belajar menjadi hal yang paling membekas dalam ingatannya.
Menurut Rasyid, guru dan lingkungan sekolah juga memiliki peran besar dalam perjalanan yang ia tempuh. Ia merasa banyak diarahkan dan dibimbing selama proses belajar. Bahkan, suasana kompetitif di kelas justru membuatnya berkembang. “Sejak masuk kelas 11 E, saya jadi lebih ambis karena teman-teman di kelas luar biasa keren dan pintar,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Kini, satu pintu telah terbuka. Namun bagi Rasyid, diterima di Kedokteran UGM bukan garis akhir dari perjuangan. Ia ingin menjadi mahasiswa yang mampu menjaga nama baik almamater, lulus dengan hasil terbaik, lalu menjadi dokter yang kompeten dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Di akhir percakapan, Rasyid menyampaikan pesan sederhana untuk teman-teman yang masih berjuang mengejar kampus impian mereka. “Semangat yaa. Bismillah semua jerih payah dan pengorbanan kalian akan terbayarkan. Semoga semuanya bisa masuk kampus impian masing-masing,” katanya.
Barangkali memang tidak ada jalan yang benar-benar mudah menuju cita-cita. Selalu ada waktu bermain yang dikurangi, rasa jenuh yang harus dilawan, dan hari-hari ketika semangat terasa naik turun. Namun dari proses itulah Rasyid belajar bahwa mimpi tidak hanya membutuhkan kepintaran, tetapi juga ketahanan untuk terus berjalan. Dan di antara malam-malam panjang, lembar soal, serta doa-doa yang tak banyak diketahui orang lain, langkahnya menuju Kedokteran UGM akhirnya benar-benar dimulai. (dee)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































