UMKM Adalah Usaha Mikro Kecil Menengah, yang dimana para pelaku usahanya kebanyakan orang-orang yang membuka usaha untuk tujuan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, kebanyakan pelaku UMKM ini biasanya melakukan usaha tipe homemade atau skala kecil. Yang dimana, mereka sangat berfokus pada pendapatan yang mereka raih hari itu dengan memikirkan biaya pengemasan, operasional, dan biaya lain-lain yang dapat dijangkau.
Hal ini yang menjadi pemicu adanya risiko yang akan dihadapi oleh para pelaku UMKM ini, dikarenakan adanya perselisihan antara kedua negara yaitu Amerika dan Iran yang berkepanjangan mengakibatkan adanya penutupan selat Hormuz dimana merupakan jalur pelayaran perdagangan paling penting di dunia yaitu jalur perdagangan minyak mentah dan gas alam cair.
Plastik adalah tempat atau wadah yang paling sering digunakan oleh para pelaku UMKM karena dinilai paling efisien, terjangkau, dan juga lebih tahan lama, seperti contoh cup gelas yang kebanyakan dipakai oleh para pelaku UMKM yang menjual minuman dingin, ada juga plastik untuk membungkus makanan seperti plastik pembungkus roti, dan juga dapat berguna sebagai kemasan yang praktis untuk dibawa jikalau produk yang dijual sulit untuk dibawa tanpa menggunakan kemasan pegangan.
Hubungan antara naiknya harga plastik dengan perselisihan antara dua negara itu adalah karena Indonesia sangat bergantung pada impor plastik. Dimana jika jalur perdagangan minyak mentah dan gas alam cair di tutup sangat berdampak bagi kenaikan harga plastik, karena untuk pembuatan plastik ini sendiri menggunakan bahan bernama naphtha yaitu senyawa hidrokarbon cair hasil penyulingan minyak mentah yang menjadi bahan baku utama pembuatan plastik dan produk petrokimia lainnya. Yang juga didukung oleh kenaikan permintaan Masyarakat karena bertepatan dengan hari raya,
Data kenaikan harga kemasan plastik di pasaran (April – Mei 2026)
Jenis Kemasan Plastik | Harga Sebelum | Harga Terkini | Kenaikan |
Plastik kresek (per pak) | Rp10.000 | Rp15.000 | +50% |
Plastik kemasan (per pak) | Rp36.000 | Rp60.000 | +67% |
Plastik jumbo (per pak) | Rp25.000 | Rp50.000 | +100% |
Plastik anti-panas (per kg) | Rp40.000 | Rp65.000 | +63% |
Biji plastik PP (per kg) | ±Rp40.000 | Rp66.900–Rp102.900 | +67–157% |
Kantong plastik kurban (per pak) | ±Rp10.000 | Rp15.000–Rp25.000 | +40–48% |
Data pantauan pasar menjelang Iduladha 2026, Pangandaran (Kompas.com, 19 Mei 2026). Sumber: LBS Urun Dana, Kontan, CNN Indonesia.
Solusi pergantian alternatif kemasan plastik
Selama Pelaku UMKM masih banyak bergantung kepada kemasan plastik dimana bahan baku utamanya yaitu naphtha, yang merupakan turunan langsung dari minyak bumi, maka akan terus menjadi pihak yang paling terdampak dalam setiap kali kejadian geopolitik di kawasan penghasil minyak mentah dunia. Oleh karena itu langkah untuk meminimalisir ketergantungan pada kemasan plastik adalah dengan langkah berupa pergantian kepada kemasan ramah lingkungan.
Kemasan ramah lingkungan alternatif yang dapat dijadikan pertimbangan antara lain kemasan berbahan kertas daur ulang, kemasan berbahan daun pisang atau daun jati yang mudah didapatkan di Indonesia, serta kemasan bioplastik yang terbuat dari bahan organik seperti pati singkong atau jagung. Dengan menjadikan alternatif diatas sebagai bahan pengganti kemasan plastik maka para pelaku UMKM memiliki keunggulan utama, yaitu tidak terlalu bergantung pada minyak bumi mentah, sehingga menjadikan harganya lebih stabil dan tidak terlalu berpengaruh akan dinamika geopolitik dunia.
Dengan beralihnya Para UMKM ke kemasan ramah lingkungan jenis tersebut, UMKM dapat secara efektif memisahkan biaya produksi dari fluktuasi harga minyak bumi mentah dunia yang sulit untuk di prediksi. Contoh Studi kasus pada Apotek ROXY yang sudah berpindah kepada kemasan ramah lingkungan berupa bioplastik yang terbuat dari pati singkong sejak tahun 2022.
Perubahan kemasan ini tidak hanya berfungsi sebagai langkah pencegahan terhadap risiko kenaikan harga, tetapi juga memberikan manfaat tambahan bagi para pelaku UMKM. Seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu-isu lingkungan, produk yang menggunakan kemasan ramah lingkungan cenderung semakin diminati dan dapat menjadi nilai jual unik untuk membedakan perusahaan dari para pesaingnya. Oleh karena itu, strategi ini tidak hanya mengurangi risiko biaya produksi, tetapi juga meningkatkan daya saing serta memperbaiki citra perusahaan di mata konsumen.
Dengan demikian, penerapan strategi ini diperlukan riset terlebih dahulu secara bertahap dan terencana mengenai ketersediaan dan harga kemasan ramah lingkungan di wilayah sekitar, dengan menyesuaikan desain kemasan yang memiliki karakteristik produk yang akan dijual, serta memberikan pemberitahuan perubahan ini kepada customer agar tidak menimbulkan kebingungan. Dukungan dari pemerintah dan Lembaga yang terkait juga sangat penting terlebih dalam bentuk pelatihan, subsidi, atau akses ke pemasok kemasan ramah lingkungan, yang akan membuat proses transisi berjalan cepat.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































