PEKANBARU, 31 JULI 2026 – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, anak-anak kini lebih akrab dengan permainan digital dibandingkan permainan tradisional yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Padahal, permainan tradisional tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya dan pendidikan karakter yang penting bagi tumbuh kembang anak. Berangkat dari kondisi tersebut, sepuluh mahasiswa Universitas Riau yang tergabung dalam Program FISIP Berdampak untuk Negeri (FBN) 2026 Kelompok 58 menyelenggarakan kegiatan “Mengenal Permainan Tradisional Melayu” pada Jumat, 24 Juli 2026, di Lapangan Kelurahan Labuhbaru Barat, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru.
Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak yang belajar di Masjid Nurul Huda. Melalui pendekatan belajar sambil bermain, mahasiswa mengajak peserta untuk mengenal kembali berbagai permainan tradisional Melayu yang mulai jarang dimainkan. Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, kegiatan ini juga bertujuan memperkenalkan nilai-nilai positif yang terkandung dalam setiap permainan sehingga anak-anak dapat belajar sambil menikmati suasana bermain bersama teman-temannya.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan empat permainan tradisional Melayu, yaitu congklak, setatak (istatak), kelereng, dan galah panjang (cakbur). Sebelum permainan dimulai, peserta diberikan penjelasan mengenai sejarah singkat, aturan bermain, serta makna yang terkandung dalam masing-masing permainan. Setelah itu, anak-anak dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mencoba setiap permainan secara bergantian dengan pendampingan mahasiswa.

Suasana kegiatan berlangsung penuh keceriaan. Tawa dan semangat anak-anak terdengar sepanjang kegiatan saat mereka mencoba setiap permainan. Banyak di antara mereka yang baru pertama kali memainkan permainan tradisional tersebut. Antusiasme peserta terlihat dari rasa ingin tahu yang tinggi, semangat untuk mencoba kembali ketika mengalami kesulitan, hingga kebersamaan yang terjalin selama permainan berlangsung.
Setiap permainan yang diperkenalkan memiliki nilai edukatif yang berbeda. Congklak, misalnya, mengajarkan anak-anak untuk berpikir strategis, teliti, sabar, dan mampu merencanakan langkah sebelum mengambil keputusan. Permainan ini juga melatih kemampuan berhitung, konsentrasi, serta mengembangkan daya pikir dalam menyusun strategi untuk memenangkan permainan.
Sementara itu, setatak (istatak) mengajarkan pentingnya keseimbangan, ketangkasan, fokus, dan ketelitian. Melalui permainan ini, anak-anak belajar bahwa setiap langkah harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, sekaligus melatih koordinasi tubuh dan rasa percaya diri ketika menyelesaikan setiap tantangan.
Pada permainan kelereng, anak-anak diajak melatih koordinasi antara mata dan tangan, meningkatkan ketelitian, serta mengembangkan kemampuan mengendalikan emosi. Di samping itu, permainan ini juga menanamkan nilai sportivitas, kejujuran, dan sikap menerima kemenangan maupun kekalahan dengan lapang dada, sehingga anak-anak belajar menghargai teman serta mematuhi aturan yang telah disepakati bersama.
Adapun galah panjang (cakbur) menjadi permainan yang paling melibatkan kerja sama antarpeserta. Dalam permainan ini, anak-anak belajar membangun komunikasi, menyusun strategi bersama, saling percaya, serta memahami bahwa keberhasilan sebuah tim tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kekompakan seluruh anggota. Nilai gotong royong yang menjadi ciri khas budaya Indonesia pun tercermin melalui permainan ini.
Melalui berbagai permainan tersebut, mahasiswa ingin menunjukkan bahwa permainan tradisional bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang, melainkan media pembelajaran yang mampu membentuk karakter anak sejak dini. Nilai-nilai seperti kerja sama, disiplin, tanggung jawab, sportivitas, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, hingga rasa saling menghargai dapat tumbuh melalui permainan yang sederhana, menyenangkan, dan sarat makna. Di sisi lain, permainan tradisional juga menjadi bagian dari identitas budaya Melayu yang perlu dikenalkan dan diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari anak-anak maupun masyarakat sekitar. Selain menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi secara langsung dengan teman sebaya tanpa bergantung pada gawai. Melalui interaksi tersebut, mereka tidak hanya belajar mengenai permainan tradisional, tetapi juga belajar membangun komunikasi, bekerja sama, dan menghargai orang lain.
Program Mengenal Permainan Tradisional Melayu merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan melalui FISIP Berdampak untuk Negeri 2026 Universitas Riau. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berupaya melestarikan budaya lokal, tetapi juga menghadirkan ruang edukasi yang mampu memperkuat karakter generasi muda. Harapannya, permainan tradisional Melayu tidak hanya dikenang sebagai warisan budaya masa lalu, tetapi dapat terus hidup, dimainkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari identitas budaya yang patut dijaga bersama.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































