SURABAYA – Di tengah hiruk-pikuk sebagai kota industri dan pusat bisnis terbesar kedua di Indonesia, Surabaya justru berhasil menyulap dirinya menjadi salah satu rujukan nasional, bahkan regional, dalam pembangunan kota berkelanjutan. Bukan klaim kosong, capaian ini didukung deretan data dan penghargaan resmi dari lembaga tepercaya.
Kota dengan Ruang Terbuka Hijau Terluas di Indonesia
Salah satu pilar utama pembangunan berkelanjutan adalah ruang terbuka hijau (RTH), dan di sinilah Surabaya benar-benar unggul. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Surabaya tercatat sebagai kota dengan proporsi RTH terbesar se-Indonesia. Secara resmi, luas RTH publik Kota Surabaya mencapai sekitar 22 persen dari total luas wilayah kota atau setara 7.358,87 hektare, melampaui ambang batas minimal 20 persen yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Capaian ini bukan hanya angka di atas kertas. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi pernah menjelaskan bahwa dengan RTH seluas itu, kota mampu menyerap sekitar 642.794 ton karbon dioksida per tahun, sekaligus mendorong Indeks Kualitas Udara (IKU) Surabaya menembus angka 90,31, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Tak berlebihan jika Surabaya kerap dijuluki “Kota Seribu Taman”, dengan ratusan taman kota tersebar di berbagai sudut, salah satunya Taman Harmoni yang disulap dari bekas tempat pembuangan sampah (TPA) Keputih menjadi ruang hijau yang asri.
Langganan Juara Adipura, Diakui hingga Tingkat ASEAN
Prestasi lingkungan Surabaya juga tergambar jelas dari rekam jejak penghargaan yang diraihnya. Pada penilaian Adipura 2024, Surabaya menempati peringkat pertama peraih Adipura Kencana untuk kategori kota metropolitan, sebuah pencapaian yang terbilang kedelapan kalinya diraih kota ini secara berturut-turut.
Prestasi ini bahkan menembus panggung internasional. Surabaya pernah dianugerahi penghargaan dalam ajang ASEAN Environmentally Sustainable Cities (ESC) Award sebagai kota besar dengan kategori air bersih (clean water), sekaligus diakui sebagai kota besar dengan udara terbersih se-Asia Tenggara, capaian pertama sepanjang sejarah kota ini di kancah ASEAN. Tak hanya di level kota, semangat itu menjalar hingga ke akar rumput: sepuluh kampung di Surabaya bahkan meraih trofi Proklim Utama (Program Kampung Iklim) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, membuktikan bahwa gerakan hijau kota ini tidak berhenti di jalan protokol, tapi menyentuh langsung permukiman warga.

Bukan Tanpa Tantangan
Namun, kisah keberlanjutan Surabaya tidak melulu soal kemenangan tanpa jeda. Pada penilaian Adipura periode 2025, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat tidak ada satu pun kabupaten/kota di Indonesia, termasuk Surabaya, yang berhasil mempertahankan status “Kota Bersih” maupun “Adipura Kencana”. Surabaya turun kelas menjadi kategori “Menuju Kota Bersih”, meski tetap memimpin dengan perolehan poin tertinggi secara nasional, yakni 74,92. Standar penilaian yang makin ketat, terutama pada aspek pengelolaan sampah dari pusat kota hingga wilayah pinggiran, disebut menjadi penyebab utama.
Fakta ini justru penting untuk disampaikan secara jujur kepada publik: pembangunan berkelanjutan bukan pencapaian yang sekali diraih lalu selesai, melainkan proses yang harus terus dijaga dan ditingkatkan dari tahun ke tahun.
Resep di Balik Capaian Surabaya
Lantas, apa yang membuat Surabaya konsisten unggul dalam isu lingkungan selama lebih dari satu dekade? Beberapa langkah kunci yang dijalankan Pemkot Surabaya antara lain:
1. Optimalisasi lahan kosong dan bantaran sungai menjadi taman kota dan ruang hijau publik, alih-alih dibiarkan terbengkalai atau beralih fungsi menjadi bangunan komersial.
2. Pengelolaan sampah berbasis kampung, mulai dari bank sampah, rumah kompos, budi daya maggot untuk mengurai sampah organik, hingga kewajiban tempat pemilahan sampah di setiap RW.
3. Konsep transportasi dan bangunan hijau (green transportation dan green buildings), termasuk pemanfaatan pembangkit listrik tenaga sampah sebagai bagian dari upaya waste to energy.
4. Pelibatan warga secara langsung, lewat lomba Kampung Surabaya Hebat (dulu bernama Surabaya Smart City) yang menjadikan volume sampah di tiap RW sebagai salah satu indikator penilaian, mendorong warga berlomba menjaga lingkungan mereka sendiri.
Kombinasi antara kebijakan tata ruang yang tegas, teknologi pengelolaan sampah, dan partisipasi aktif warga inilah yang menjadikan pembangunan berkelanjutan di Surabaya bukan proyek mercusuar, melainkan gerakan yang mengakar hingga ke tingkat kampung.
Pelajaran bagi Kota-Kota Lain di Indonesia
Di tengah tantangan urbanisasi, polusi, dan keterbatasan lahan yang dihadapi kota-kota besar Indonesia, Surabaya menjadi bukti bahwa kota padat dan industrial sekalipun tetap bisa mengejar target keberlanjutan, asalkan ada komitmen politik yang konsisten, kebijakan tata ruang yang berpihak pada ruang hijau publik, dan yang tak kalah penting, keterlibatan aktif warga di tingkat akar rumput.
Namun seperti yang ditunjukkan oleh “penurunan kelas” Adipura pada 2025, keberlanjutan bukan gelar yang sekali diraih lalu bisa disimpan selamanya. Ia menuntut kerja yang tak pernah usai, dan di situlah letak ujian sesungguhnya bagi Surabaya untuk terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu kota terdepan dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Oleh: Raihan Akbar Hanafi, Mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan, Universitas Ahmad Dahlan
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































