Generasi Z Tidak Malas, Mereka Hanya Tidak Mau Dieksploitasi
Di era sekarang, Generasi Z sering banget dicap negatif di dunia kerja. Dibilang malas, gampang resign, mental lemah, sampai tidak loyal sama perusahaan. Sedikit burnout dibilang manja, sedikit healing dianggap tidak profesional.
Padahal kalau dipikir-pikir, masalahnya bukan karena Gen Z malas bekerja. Mereka cuma mulai sadar kalau kerja bukan berarti harus mengorbankan kesehatan mental dan harga diri.
Generasi sebelumnya tumbuh dengan pola pikir bahwa kerja keras adalah segalanya. Lembur dianggap bentuk loyalitas. Pulang paling malam dianggap paling niat kerja. Bahkan dimarahin atasan sering dianggap bagian dari proses “pendewasaan”.
Sementara Gen Z mulai mempertanyakan hal-hal seperti itu.
Kenapa lingkungan kerja toxic dianggap normal?
Kenapa burnout malah dijadikan kebanggaan?
Dan kenapa kesehatan mental selalu dianggap drama?
Di sinilah benturan generasi mulai terjadi.
Gen Z sebenarnya tetap punya ambisi dan mimpi besar. Mereka tetap mau kerja keras. Tapi mereka juga ingin dihargai sebagai manusia, bukan cuma dijadikan “mesin produksi”.
Mereka ingin lingkungan kerja yang sehat, komunikasi yang jelas, atasan yang bisa diajak diskusi, dan sistem kerja yang manusiawi.
Kalimat seperti “kerja itu ya capek, jangan manja” mungkin dulu dianggap motivasi. Tapi buat banyak anak muda sekarang, itu terdengar seperti pembenaran untuk budaya kerja yang tidak sehat.
Fenomena ini berkaitan erat dengan Perilaku Organisasi, terutama budaya organisasi dan motivasi kerja. Banyak perusahaan di Indonesia masih punya budaya kerja yang kaku, senioritas tinggi, minim apresiasi, dan anti kritik. Akibatnya, karyawan muda jadi cepat kehilangan motivasi kerja.
Contohnya sederhana. Ketika karyawan baru punya ide, tapi langsung dipotong karena dianggap “anak baru belum ngerti apa-apa”. Atau ketika pegawai yang bekerja bagus justru diberi tambahan beban tanpa apresiasi yang jelas.
Hal-hal seperti ini yang perlahan bikin semangat kerja turun.
Banyak perusahaan lupa kalau motivasi kerja bukan cuma soal gaji.
Menurut survei Deloitte Gen Z Survey, kesehatan mental, work-life balance, dan lingkungan kerja sehat menjadi prioritas utama Generasi Z dalam memilih pekerjaan. Mereka tidak hanya mencari tempat untuk cari uang, tapi juga tempat untuk berkembang tanpa kehilangan diri sendiri.
Dan sebenarnya, itu bukan sesuatu yang salah.
Masalahnya, masih banyak perusahaan yang menganggap loyalitas harus dibayar dengan “tahan menderita”. Budaya lembur berlebihan masih dianggap normal. Bahkan ada yang bangga kalau pegawainya pulang tengah malam setiap hari.
Padahal pertanyaannya sederhana:
itu tanda produktif, atau tanda manajemen kerja yang buruk?
Ironisnya, ketika karyawan memilih resign demi kesehatan mentalnya, mereka malah dicap tidak kuat tekanan.
Padahal Gen Z tumbuh di era yang berbeda. Mereka hidup di tengah tekanan ekonomi, persaingan kerja yang ketat, dan tuntutan sosial yang tinggi. Mereka juga lebih aware soal kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya.
Jadi ketika mereka memilih keluar dari lingkungan kerja toxic, itu bukan berarti lemah. Bisa jadi itu bentuk kesadaran diri.
Dalam Perilaku Organisasi, kepuasan kerja dan komunikasi organisasi punya pengaruh besar terhadap loyalitas karyawan. Orang yang merasa dihargai, didengar, dan nyaman dengan lingkungannya cenderung lebih loyal dibanding mereka yang terus ditekan.
Karena loyalitas sejati tidak lahir dari rasa takut.
Tetapi dari rasa dihargai.
Gen Z juga cenderung lebih respect kepada pemimpin yang suportif dibanding yang hanya mengandalkan jabatan. Mereka ingin dipimpin oleh sosok yang bisa jadi mentor, bukan sekadar bos yang suka memerintah.
Karena bagi banyak anak muda sekarang, jabatan tidak otomatis membuat seseorang layak dihormati. Sikaplah yang menentukan.
Fenomena resign massal anak muda beberapa tahun terakhir sebenarnya jadi tanda bahwa dunia kerja sedang berubah. Banyak orang mulai sadar kalau hidup bukan cuma soal bertahan di kantor yang bikin mental hancur perlahan.
Ini bukan tentang generasi yang lemah.
Ini tentang generasi yang mulai sadar bahwa hidup tidak seharusnya habis hanya demi validasi perusahaan.
Pada akhirnya, Gen Z bukan tidak mau kerja keras. Mereka hanya tidak mau dieksploitasi.
Dan mungkin, dunia kerja memang sudah waktunya berubah.
Disusun oleh:
Anisa Nurahmawati, Halima Usia, Muhamad Arif Hidayat, Topik Hidayat, Vicky Raditya Ramka, dan Zamroni Abadi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































